Lieca berjalan gontai menuju kamarnya, ia masih shock melihat motor yang diberikan Abi Nabella pada Nabella sendiri. Walau dihadang kerinduan, tetap saja mereka melakukan hal konyol. Bapa sama anak sama aja. Ia ingat, bagaimana Nabella mengagung agungkan sepedah motor yang katanya menakjubkan untuknya, Nabella juga pernah bilang bahwa impian nya menaiki benda itu tak akan terwujud. Sampai Lieca dan Rista menebak, namun selalu salah menurut Nabella.
"Apa? Pegasus? Unicorn??" Rista menebak kala itu, ia sengaja membawa hewan fiksi dongeng. Karena mengerti tabiat Nabella yang menyukai hal fiksi yang tak pernah ada didunia.
Lagi lagi, Nabella menggeleng.
"Apasih?" Lieca frustasi, ia sudah menyebut benda semacam ferari, limo, BMW dan benda bernilai milayaran lainnya.
Nabella mengulum senyum. "Benda itu, yang dinaiki OrangTua gue pas nikahan. Pokoknya pas gue nikah gue harus pake kendraan itu. Atau, gue buat janji sakral, orang pertama yang bakal naik kendraan itu gue tetapkan sebagai jodoh gue!" kontan saja Lieca dan Rista semakin gencar menebak.
"Wah Bemo ya!" sampai Rista menceletuk itu, dan Nabella hanya tertawa.
Lieca tertawa kala meningatnya, ternyata bukan hanya gebetan yang buat senyum senyum sendiri. Namun, tingkah konyol sahabat juga membuatnya tertawa sendiri.
"Eh, Mey.. Senyum senyum, lagi kasmaran ya?" suara lembut itu, membuat Lieca kontan menoleh sumber suara. Didapatinya, wanita paruh baya yang memakai sesuatu diwajahnya.
"AstagfiruAllah! Kunti! Kuntilanak!" teriak Lieca histeris.
"Weh, sontoloyo! Aku ini ibumu, lancang bilang kunti, bapamu noh kunti!" Lieca mengelus dadanya secara dramastis, ia kaget setengah wafat melihat pemandangan yang menyabutnya dirumah. Ibunya ini kebiasaan, tak melihat situasi. Lieca ini baru pulang, dan keadaan luar rumah maghrib. Bagaimana ia tak kaget dengan kelakuan Ibunya. Memakai masker lalu menyapa anaknya, tidak lucu bila Lirca jantungan hanya karena itu.
"Mama kebiasan! Kaget tau aku!" bentak Lieca, jantungnya tak kunjung normal karena rasa kejutnya.
"Kenapa toh?" muncul lagi sosok, yang hampir saja membuat jantung Lieca loncat keluar sebelum ia menyadari bahwa Papahnya pun memakai masker wajah. Ya ampun! Apa apaansih keluarganya?! Jangan bilang Kakak lelakinya pun maskeran?!
"Papah juga! Kenapa maskeran gitu? Gausah ikutin mamah Pah, sesat." Lieca protes, melihat Papahnya yang terlihat konyol menggunakan masker wajah.
"Tau nih, dipaksa Mamah, katanya kulit Papah coklat, macam gula merah." Papah Lieca memberikan penjelasan, yang langsung saja membuat Lieca mendelik pada Mamahnya.
"Lagian kenapa sih Mey, Papahmu sibuk kerja, jadi kulit coklat kaya gitu.. Ngurusin proyek gedung ampe ga ngurus muka, keliatan kusam, bernoda, pori pori membesar, keringet banjir.. Hihhhh.. Gamau mamah punya suami buluk kaya gitu." ucap Mamah Lieca, memberikan gestur seperti model iklan pembersih wajah.
"Tapi, ga buluk lagi kan Mah? Kan udah pakai masker" ucap Papah Lieca hiperbolis, Lieca jengah melihat kedua Orangtuanya yang seperti remaja tengah kasmaran.
Namun, Lieca harus mensyukuri keadaan keluarganya. Ia bersyukur Papah dan Mamahnya masih saling mencintai, bahkan tak jarang memamerkan kemesraan didepan anaknya. Diantara Rista dan Nabella, ia merasa paling beruntung memiliki keluarga yang didominasi kasih sayang ini.
"Mey nanti ajak lagi tuh Eza kesini, biar kamu ga jadi nyamuk kalo liat Mamah sana papah mesra-mesraan.." Lieca membulatkan matanya, angannya kembali berloncatan mengingat malam yang sempat membuatnya takut setengah mati.

KAMU SEDANG MEMBACA
Three Idiots
RandomTiga cewek, namanya Geng Genta. Nama Gengnya juga aneh, karena satu alasan mereka menamai geng mereka dengan nama tersebut. Dan alasan itu juga yang membuat orang berfikir dua kali untuk berteman dengan mereka bertiga. Awalnya, tiga cewek yang bern...