Susan POV
Sore hari yang cerah, aku bersama Jazz berjalan menuju stasiun untuk kembali pulang seperti biasanya. Rasanya sangat canggung jika harus selalu menjaga pandanganku pada siapa pun. Sampai kapan aku harus seperti ini terus? Aku sudah begitu muak.
Ku lirik Jazz dari balik kacamata hitamku, tatapannya hanya tertuju kedepan, sesekali melirikku dan memberikan senyuman yang tak berarti. kadang aku agak kesal jika dia mulai merangkulku.
" ugh, Jazz, jauhkan tanganmu dari pundakku "pintaku dengan gusar. Jazz hanya terkekeh kecil, dia belum melepaskan tangannya dari ku.
Kereta yang kutunggu belum datang, aku membuka ponselku dan memeriksa pesan masuk. Hanya operator yang selalu setia memberikanku pesan setiap harinya.
Semenjak aku kehilangan orang tuaku, makin lama teman-temanku semakin jauh karena kesibukan mereka masing-masing, walaupun hanya tersisa Lisa dan Vanie yang ada untukku, walaupun tidak setiap waktu, tapi aku merasa cukup memiliki mereka berdua.
Hingga aku lulus kuliah, aku hanya bertemu mereka sebentar lalu kami berpisah. Kadang aku mengajak mereka berkomunikasi, tapi lagi-lagi mereka tak selalu sempat untuk membalas pesanku karena mereka sibuk. Aku pernah mengajak mereka bertemu dan melepas rindu, tapi mereka lebih memilih teman Baru mereka.
Sejak saat itu, hidupku sangat hampa, bahkan aku tinggal dirumah sendirian. Kebanyakan saudaraku ada di Washington dan di lain negara. Aku menghela nafas dengan berat, sehingga membuat Jazz yang berada disampingku menatapku dengan simpati.
" kau baik-baik saja, Susan? "Tanya Jazz yang menampakan kecemasannya pada ku. Aku menjawabnya dengan menggelengkan kepalaku.
Angin berhembus kencang ketika sebuah kereta melesat didepanku. Kereta pun berhenti, pintunya terbuka dan para penumpang berhamburan dari balik pintu kereta.
" kau baik-baik saja kan? Kau terlihat murung sekali, ada masalah? "Tanya Jazz kemudian.
Aku menarik tangan Jazz untuk memasuki kereta, tanpa menjawab pertanyaannya. Dia terus menanyakan keadaanku tapi aku tak mengubrisnya sedikit pun, sehingga dia pun memilih untuk diam.
Entah kenapa tiba-tiba mataku terasa perih, dadaku amat sesak, dan jantungku berdetak dengan cepat. Air mataku mengalir dari balik kacamataku, aku menarik kupluk dari jaketku agar aku bisa menutupi wajahku.
Walaupun aku berusaha untuk menutupi air mataku yang terus mengalir, tetap saja aku tak bisa menyembunyikannya terlalu lama.
Jazz mendekatkan dirinya denganku, dia menatapku dengan lekat.
" Susan, katakan yang sebenarnya, ada apa denganmu? Kau tak boleh memendam masalahmu seorang diri. Sekarang kau tak lagi sendirian, ada aku yang selalu ada untukmu. "Ucapnya.
Aku melepas kacamata hitamku agar aku dapat menyeka air mataku dengan punggung tangan. Kemudian aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
" mata ku perih, makanya aku terlihat seperti menangis. "Ungkapku. Jazz nampak tak percaya begitu saja.
" masa? Gara-gara kelilipan kok bisa membuatmu sesenggukan begitu? "
Aku sempat terkejut, seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri barang di toko. Aku agak gelagapan, tapi sebisa mungkin aku tak mau bicara lebih.
" sudah ah, aku ngantuk. Bangunkan aku kalau sudah sampai. "Pintaku. Aku menyandarkan kepalaku didekat jendela kaca.
" posisi tidur yang tidak baik, nanti lehermu sakit, sini, sandarkan kepala mu di pundaku. "Ujar Jazz sambil menepuk pundaknya sendiri, memintaku untuk menyandarkan kepalaku kepundaknya. Seketika wajahku memanas, mungkin jika orang lain melihatku pasti wajahku memerah seperti tomat.
" hoi, kenapa diam saja? Kau bilang kau mengantuk? Sini tidurlah di pundakku. Aku memaksa, dari pada lehermu sakit dengan posisi tidur begitu. "Tambahnya.
Akhirnya aku tak bisa menolak, karena jujur sehabis menangis aku selalu merasa ngantuk karena mataku pasti lelah. Aku menyandarkan kepalaku dipundaknya, dan beberapa menit kemudian aku tertidur.
****
Terdapat Lembah besar yang berada dekat di sebuah gunung api. Sebuah portal muncul, dan dari dalam portal itu keluarlah 4 robot raksasa yaitu, Mirage, Bulkhead, Sunstrom dan Skywarp.
" lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? "Tanya Mirage memecah keheningan.
" Kau selalu bertanya begitu, tujuan kita disini kan untuk mencari para Autobot dan Decepticon yang sudah lama tak ada kabar! "Gertak Bulkhead dengan sedikit kesal. Skywarp menepuk pundak Bulkhead agar dia dapat bersabar sedikit.
" ya ampun, aku cuma bertanya. Sekarang dan selanjutnya kuserahkan padamu saja "ujar Mirage dengan bosan.
" ah, begini saja, kita akan berpencar. Aku dengan Bulkhead dan Skywarp dengan Mirage. Aku dan Skywarp akan mengawasi jalan dari atas, dan mengawasi kalian yang berada dibawah tentunya. Bagaimana? "Usul Sunstrom, tanpa menimbang-nimbang lagi, mereka mulai berpencar seperti yang dikatakan Sunstrom.
Sunstrom dan Skywarp bertransformasi menjadi jet Cybertron, Bulkhead dan Mirage pun juga bertransformasi dalam wujud kendaraan mereka. Sunstrom dan Bulkhead menyusuri jalan menuju bukit yang berada tak jauh dari gunung, sedangkan Skywarp dan Mirage menuju ke luar lembah.
Mereka terus berjalan menyusuri setiap jalan yang ada, sehingga Bulkhead berhenti, dia pun meminta Sunstrom untuk turun dari atas.
" aku melihat seseorang didepan "ungkap Bulkhead stengah berbisik. Mereka berdua mulai mengeluarkan senjata mereka untuk berjaga-jaga.
Bulkhead berjalan lebih depan,
Diikuti Sunstrom dari belakang, Mereka berjalan dengan mengendap-endap.
Bulkhead pun akhirnya berhenti, dia bersembunyi dibalik sebuah batu yang sangat besar, yang berada tepat didepannya.
" ada apa? "Tanya Sunstrom dengan waspada, dia ikut bersembunyi dibalik batu besar itu.
" Sunstrom, lihatlah didepan.... "Ujar Bulkhead. Sunstrom terbelalak ketika dia melihat didepannya sebuah bukit batu yang terbelah dan memperlihatkan bagian dalamnya. Sebuah lorong panjang yang dindingnya dilapisi baja.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSFORMERS PRIME : In Human Form
FanfictionAdalah kisah tentang seorang wanita, bernama Susan. Pada suatu hari, kehidupannya berubah drastis ketika dia bertemu dengan para Transformers dalam wujud manusia. Kritik dan saran dibutuhkan dari kalian para pembaca. Happy Reading ^^
