Chapter 20

468 26 9
                                        

Asap hitam mengepul memenuhi lorong. Ledakan itu cukup besar sehingga memberi kerusakan disekelilingnya.

Nampak sesosok robot besar duduk dan membungkuk. Lalu tubuhnya pun kembali tegak. Digenggamannya nampak tiga orang manusia. Mereka tak mengalami luka sedikit pun berkat robot itu, namun sayapnya patah, punggungnya terluka cukup parah. Seketika dia ambruk tak sadarkan diri. Genggamannya pun merenggang dan menjatuhkan ketiga manusia itu.

"Thundercracker!!" jerit Susan.

"Sebaiknya kita segera keluar dari sini. Susan, kau bawa benda bulat itu bersama ku" ujar Megatron.

"Tapi, bagaimana dengan dia?" tanya Susan kemudian. Dia masih saja memikirkan Thundercracker.

"Itu tak masalah baginya, Susan. Dia seorang prajurit. Kematian memang menjadi resiko terbesar yang akan dihadapinya" tutur Megatron. Ekspresi Susan kian melembut. Dia pun mengalihkan pandangannya ke arah Megatron. Seketika dia kangen dengan sosok Jazz yang selalu ada bersamanya.

Api akibat ledakan itu saling merambat. Melahap segala sesuatu yang ada disekitar, sehingga kobaran api itu semakin besar. Megatron melirik kesegala penjuru ruangan, untuk menemukan celah agar dia bisa keluar tanpa terkena kobaran api.

"Ayo, ikuti aku!" titah Megatron.

"Eh, tunggu dulu. Smokescreen dimana?" tanya Susan. Ekspresinya memperlihatkan kecemasan. Tak beberapa lama dia pun menemukan Smokescreen. Namun, dari kaki sampai pinggulnya kena tindih lengan Thundercracker. Dia bahkan tak mampu menarik tubuhnya.

"Ya ampun, Smokescreen!! Kau harus keluar dari sini juga! Ayo!!" seru Susan. Dia berusaha mendorong lengan besar Thundercracker namun itu sia-sia. Kobaran api nampak makin membesar. Bahkan jalan aman yang ditemukan Megatron barusan sudah dipenuhi kobaran api itu.

"Susan, kita tak punya banyak waktu! Kau harus keluar dari sini" ucap Megatron membujuknya.

"Tapi Smokescreen juga haru-"

"Megatron, bawa dia keluar dari sini, cepat!" seru Smokescreen yang memotong ucapan Susan. Tanpa pikir panjang lagi, Megatron mengangkat tubuh Susan dan menggendongnya keluar dari dalam ruangan.

Megatron berlari secepatnya menembus lautan api itu. Susan merasakan sekeliling tubuhnya begitu panas. Tak lama setelah itu, akhirnya mereka berdua keluar dengan selamat tanpa luka sedikit pun.

Megatron menurunkan Susan.

"Susan, kau baik-baik saja kan? Kau tak terluka?"

Susan hanya diam. Dia merasa bersalah karena sudah dua orang terluka karenanya. Megatron yang merasakan kesedihan Susan segera memeluknya.

"Tak apa. Tak usah dipikirkan. Sedikit lagi kita akan keluar dari tempat ini" ucapnya, sembari mengusap punggung Susan yang sedikit berguncang.

"Megatron, jika tidak ada aku semua ini tak akan terjadi, kan? Aku... Aku ini bencana" tutur Susan dengan suara yang gemetar. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.

"Sshhh... Tidak, kau bukan bencana, Susan. tapi kau lebih baik dari pada bencana, kau itu anugrah. Lagi pula, jika aku dan yang lainnya tak bertemu denganmu, semua ini tetap akan terjadi. Jangan terus menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu, sayang" kata terakhir yang disebut Megatron itu menimbulkan rasa panas diwajah Susan. Dia menenggelamkan wajahnya yang memerah itu ke dada bidang milik Megatron. Kemudian dia melepas pelukannya, dan menatap benda bulat yang ada digenggamannya itu lekat.

"Kalau begitu, ayo kita segera keluar dari sini. Semua ini harus diakhiri" tutur Susan. Dia memeluk erat benda bulat itu. Kakinya yang masih terasa nyeri pun tak dihiraukan olehnya. Bersama Megatron dia berjalan mencari pintu keluar.

TRANSFORMERS PRIME : In Human FormTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang