Beribu maaf saya haturkan untuk semua reader yang telah bersedia membaca dan menantikan imajinasi indie saya : I AM NOTHING, karena saya slow update.
Selain karena pekerjaan di dunia nyata, juga karena saya segang menggarap project terbaru yang akan saya rilis akhir tahun. Project baru saya akan segera saya update PROLOGNYA, namun bab-bab selanjutnya akan saya update setelah novel siap cetak.
Terima kasih sudah bersedia membaca. Jadi, SINGGAH dan CACILAH !!!
Dedicated to : @AlifEffendy
Sudah seminggu ini Indira bekerja sebagai OB di kantor Daniel. Semua nyaris tak ada masalah dengan pekerjaannya. Meski sebagian besar pegawai kantor memandangnya sebelah mata, tapi itu tak membuat semangat Indira untuk tetap bekerja akan surut. Justru hal ini menjadi cambuk agar Indira mengerjakan semua tanggung jawabnya secara sempurna.
Dan demi menuruti keinginan Ibunya, Daniel memang mengantar dan menjemput Indira bekerja. Namun Indira tahu diri, maka dia selalu minta turun dan dijemput pada sebuah halte yang terletak sekitar 200 meter dari lokasi kantor mereka.
Tapi pagi ini, Daniel tak menghentikan mobilnya di halte bus sebagaimana biasa. Dan ini tentu saja membuat Indira heran hingga menatap Daniel dengan penuh tanya. Apalagi pagi tadi, saat laki-laki itu menjemputnya, dia meminta Indira untuk duduk di jok depan, tidak lagi di jok belakang sebagaimana biasanya.
"Kok nggak turun di halte, Mas?"
"Mulai hari ini kamu aku turunkan dan aku jemput di area parkir."
"Tapi kenapa, Mas? Apa tidak mencolok jika pegawai lain melihatnya?"
Daniel tersenyum.
"Kamu pasti tahu bagaimana perasaan cinta seorang Ibu pada anaknya. Begitupun aku. Aku sangat mencintai dan menghormati Ibu. Dan jika dengan menikah denganmu adalah kebahagiaan beliau, maka aku akan menjalaninya."
Indira terdiam. Hatinya sangat tidak nyaman mendengar Daniel bersedia menikah dengannya hanya untuk membahagiakan Ibunya.
"Meskipun Mas tidak mencinatai saya?"
"Ya!" Daniel menjawab tegas.
Nafas Indira menyesak.
"Mas tahu kita tak akan bahagia jika semua dijalani tanpa rasa cinta. Mas berhak menolak jika memang Mas tidak mencintai saya." Indira berkata lirih sambil menunduk.
"Kita jalani saja dulu semuanya, In."
Indira terdiam. Daniel benar. Mereka memang tidak saling mencintai saat ini. Tapi itu mungkin saja lebih baik daripada cintanya bersambut namun selalu mendatangkan bermacam rasa sakit hati yang membuat Indira hanya meratap dan nelangsa setiap saat. Daniel benar, dia juga akan mencoba semuanya.
"Kamu keberatan jika kita mencobanya dulu?" Daniel bertanya pada Indira.
Perempuan itu menatap Daniel, lalu menggeleng.
"Oke, jadi kita sepakat menjalani pertunangan ini?" Daniel menyodorkan jari kelingking kirinya ke arah Indira.
Gadis itu tersenyum dan menyambut uluran jari kelingking Daniel dan menautkannya, seperti anak kecil yang sepakat berkompromi.
"Mas tidak malu memiliki tunangan seorang OB?"
Daniel tersenyum dengan kepolosan Indira dalam bertanya kali ini.
"OB juga manusia, Indira. Yang penting buatku saat ini hanya Ibu. Agar beliau selalu sehat dan riang. Itu bisa sedikit menunda maut yang mungkin saja datang setiap saat."
Indira terdiam.
"Maksud Mas?"
* * *
Mohon maaf, versi lengkap pindah ke akun DREAME. Silahkan berkunjung ke sana ... Jangan lupa like nya yaaaa ...
https://www.dreame.com/novel/MYgQ3QhMBF2PvNP1vcEkSA%3D%3D.html
KAMU SEDANG MEMBACA
I am nothing
RomanceMemendam cinta selama bertahun-tahun bukan hal yang mudah buat Indira, perempuan super biasa yang sangat pendiam. Bahkan dia juga hanya diam ketika di bully kakak kelasnya yang gemas karena melihatnya selalu tanpa ekspresi. Dan bangunan kokoh untuk...
