3 : TENTANG SELEMBAR SAPU TANGAN

5.4K 470 53
                                        



Belakang ruang lab siang ini mulai sepi. Tapi Indira masih saja berdiri di sana, di bawah sebuah pohon yang meski tak terlalu tinggi, tapi daunnya lumayan menyejukkan. Sesekali matanya menatap sebuah arloji usang yang selalu nangkring di pergelangan tangannya.

Sekali dua kali dia mendesah, merasa sedikit bosan. Lalu dia kembali menatap ke ujung koridor yang menghubungkan lab dengan kantor guru. Tapi sosok yang ditunggunya itu tak juga muncul. Sebisa mungkin dia akan berusaha sabar menunggu, tak baik jika dia ingkar janji.

Musim penghujan kali ini membuat cuaca sedikit tidak menentu. Matahari yang sejak bel sekolah berbunyi tadi bersinar dengan garang, kini perlahan meredup diganyang awan yang mulai menghitam. Angin pun kembali berhembus basah, seolah mengirim sinyal bahwa hujan memang akan segera datang.

Dan gerimis pun mulai menyapa.

Indira kembali melongok ke ujung koridor. Dan lagi-lagi dia menghembuskan napas resahnya. Ditatapnya bungkusan yang sedari tadi di dekapnya erat. Sekolah semakin sepi ketika pak Bonari datang menghampiri.

"Neng belum pulang ?" tanya pak Bonari yang masih memegang sapu lidi.

Indira menggeleng.

"Kenapa atuh ?"

"Nungguin kak Ibra, Pak. Mau mulangin jasnya" jawab Indira kemudian, untuk menghilangkan kecurigaan yang bisa saja muncul di benak Pak Bon.

"Ooo ..." Pak Bon manggut-manggut.

Indira tersenyum sedikit, sangat sedikit.

"Tapi cuaca mendung, Neng. Sebentar lagi sepertinya mau hujan ?" Pak Bon menatap langir yang memang mulai gelap.

"Iya, Pak ... sebentar lagi kalau Kak Ibra belum juga datang, saya akan pulang"

Pak Bon mengangguk dan berlalu dengan sapu lidi yang selalu setia di tangannya, diiringi tatapan resah Indira.

Lima belas menit berlalu, dan Indira sudah sangat putus asa ketika akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Baju yang didekapnya dia masukkan ke dalam tasnya kemudian berjalan meninggalkan pohon yang menaunginya sejak sejam yang lalu.

Sekali lagi dia menoleh ke belakang, ke ujung koridor dan berharap akan ada Ibra berdiri di sana. Tapi dia mendesah dengan jawaban yang sudah bisa ditebak. Lalu Indira kembali meneruskan langkahnya ketika tiba-tiba ...

"Indira !!" sebuah panggilan menghentikan langkah Indira. Lalu dengan sigap, gadis itu menoleh.

* * * *

Flashback ...

Ibra tak menyadari, bahwa tindakannya yang intim tadi di salah satu sisi kafetaria sekolah saat dia bertemu dengan Indira, tertangkap mata oleh seorang gadis. Dan gadis yang menangkap mata Indira dan Ibra itu memandang mereka dengan pandangan penuh kebencian. Gadis itu berniat hendak mencari minuman ketika berbelok ke arah kantin dan mendapati Ibra yang demikian intensif memandang seorang gadis. Dan gadis itu kemudian menahan langkahnya, menyembunyikan diri dari pandangan Ibra dan Indira dengan menajamkan telinganya. Tentu saja untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan Ibra.

Lalu dengan langkah tergesa, Lusiana, gadis itu segera mencari teman-temannya satu gank untuk mengorek semakin dalam informasi mengenai perempuan yang ditatap Ibra dengan pandangan penuh rasa takjub itu.

Penuh rasa takjub ?

Ayolah ... seharusnya ini tak boleh terjadi karena tiba-tiba saja Lusiana merasa jealous.

I am nothingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang