"How's korea? Is it safe?"
Sooji tersenyum ketika pertama kali mendapatkan sapaan itu, bukan kata halo atau apa kabar. Pria itu malah menanyakan keamanannya di negara ini.
"It's okay Sam. I'm fine, Jisoo too."
"Jisoo?"
"Yeah Jisoo, Ahbeoji memaksaku untuk melupakan Jessie--you know Jessie sound lovely to me."
Keluh Sooji pada Sam dan ia tau bahwa di seberang sana pria itu sedang menertawakannya.
"To be honest, I prefer Jisoo. I love her real name Sooji. It's nice to hear you call her like that again."
"Aku tau, Jisoo nama yang indah."
"Jadi, apa kau sudah bertemu dengannya?"
Sooji menghela nafas, Sam kali ini menghubunginya pasti bukan hanya untuk menanyakan tentang keadaannya dan Jisoo atau sekedar berbincang hal-hal yang remeh lainnya. Pria itu, sejak hari pertama dirinya menginjakkan kaki di negara ini sudah meneror dengan menanyakan hal yang sama 'apa kau sudah bertemu dengannya?', ia bahkan hampir muak dengan pertanyaan itu.
"Not yet."
"Kau masih belum siap? Kau butuh aku untuk menemanimu?"
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya sedang berpikir."
"And what's on your mind right now?"
"Aku berpikir apakah aku akan kembali padanya atau tetap seperti ini, menjalani hidupku berdua dengan Jisoo."
Sooji memejamkan mata, ia tau Sam sangat mengerti kegundahannya. Selama bertahun-tahun pria itu telah menjadi tempatnya bersandar dan bergantung, jadi apapun yang ada di kepalanya pasti akan dibagi bersama pria itu, tidak ada rahasia sedikitpun.
"Kau sudah ingin membicarakannya padaku? Mengapa tiba-tiba kau ingin menemuinya dan berpikir untuk kembali padanya?"
"Ceritanya sangat panjang Sam. Kau tidak akan mau mendengarku melalui ponsel ini."
"Okay, aku akan menunggu sampai kita bertemu. Dan saat itu tiba aku harap kau belum memutuskan apapun."
"I hope so Sam."
Sooji menghela nafas panjang, ini adalah hari kelimanya berada di Haenam, kampung halaman ayahnya. Kota yang berada diujung selatan negara ini. Tempat ini sangat damai dan menyenangkan, jadi tidak susah mendapatkan waktu untuk berpikir dengan jernih. Tetapi setiap malam yang dihabiskannya untuk berfikir, setiap itu pula ia merasa pusing. Sooji kebingungan dengan jalan yang akan diambilnya, terlalu banyak resiko yang akan ia pertaruhkan dengan pilihan-pilihan yang ada di depan matanya saat ini.
"Aku akan segera menyelesaikan urusan di Liverpool dan menyusul kalian disana, tidak akan lama Sooji. Wait me, okay?"
"Jangan memaksakan dirimu, kau butuh istirahat juga. Aku akan menunggumu."
"Okay, I have to go now. Love you, tell Jess-oh no my Jisoo if I really miss her."
Sooji tersenyum mendengar nada kepemilikan Sam atas gadis kecilnya, pria itu memang sangat tergila-gila oleh Jess-oh no, Jisoo.
"Aku akan menyampaikannya, bye."
***
Sooji menatap sebuah rumah makan sederhana di hadapannya, rumah makan itu terletak tidak jauh dari kediaman ayahnya di kota ini. Tujuh tahun yang lalu ketika ia meminta ayahnya untuk pergi dari Seoul, ia dan Jisoo dibawa ke kota ini, di mana tempat ini adalah kota kelahiran ayahnya. Rumah yang mereka tinggali sekarangpun adalah peninggalan kedua orang tua Yongjoon, yang tak lain kakek dan nenek Sooji yang sudah lama meninggalkan dunia ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Begin Again | MS #2 [COMPLETED]
Fanfiction[COMPLETED] Pt. 1 - 7 : PUBLIC Pt. 8 - END : PRIVATE ===================================== Marriage Series #2 Begin Again Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan waktumu menjalani hidup sendir...
![Begin Again | MS #2 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/79542845-64-k210882.jpg)