Rasa tegang yang dialaminya masih belum mereda semenjak menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Keresahannya juga diperburuk karena para perawat sama sekali tidak mengizinkannya untuk ikut masuk ke dalam melihat keadaan Myungsoo, ia dipaksa untuk menunggu di depan pintu UGD dengan kekalutan yang luar biasa.
Suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya membuatnya bangkit dari duduk dan menatap cemas wanita yang kini berjalan cepat--hampir berlari kepadanya.
"Sooji-"
Wonho menghentikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja sebuah tamparan panas mendarat di pipi kanannya, dilengkapi dengan tatapan membunuh yang penuh air mata milik wanita itu.
"Brengsek! Bodoh! Sialan! Idiot! Aku membencimu!"
Kemudian pukulan-pukulan lemah diterima tubuhnya begitu saja, mulai dari bahu, dada hingga perutnya, tapi Wonho sama sekali tidak berniat untuk menghindar. Ia memang pantas mendapatkannya.
"Sudah kukatakan untuk menjaganya bodoh!" Maki Sooji dengan berurai air mata, sementara pria yang dimakinya hanya diam menerima kelakuannya.
"Sekarang apa? Dia sekarat lagi! Bagaimana jika sesuatu terjadi? Bagaimana jika dia tidak bisa--" Sooji masih terus memukul Wonho berharap semua keresahannya bisa menghilang lewat pukulan-pukulan kecil itu, tapi bukannya hilang ia malah semakin cemas.
"Kau tau kondisinya Wonho! Sedikit saja kesalahan--aku tidak sanggup," lirihan Sooji terdengar begitu pilu ditelinga Wonho sehingga mau tak mau pria itu memberikan pelukan pada Sooji yang ia yakin jika itu adalah sesuatu yang dibutuhkannya sekarang.
Sooji bukan tanpa alasan meraung-raung panik saat ini, ia mengerti dan sangat tau kondisi Myungsoo. Meskipun keadaannya sudah lebih baik, tapi penyakit itu belum benar-benar sembuh dan kapan saja bisa kembali menyerang.
Ia tidak ingin mengambil resiko dengan membahayakan nyawa Myungsoo, karena hanya dengan sedikit kesalahan saja bisa-bisa Myungsoo tidak akan selamat dan itulah yang sedang dikhawatirkannya sekarang. Ia belum siap--tidak, Sooji tidak akan siap jika harus kehilangan Myungsoo selamanya. Tidak akan pernah siap.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Wonho ucapkan setelah sekian menit, Sooji masih menangis dalam pelukannya seakan mengabaikan ucapannya barusan membuat Wonho harus mendesah panjang.
"Maafkan aku Sooji, sungguh. Aku benar-benar menyesal."
Yongjoon yang berdiri hanya beberapa langkah di belakang Sooji hanya menatap nanar putrinya, dalam gendongannya Jisoo juga sedang menangis karena melihat ibunya menangis.
"Jangan menangis sayang, ibumu tidak apa-apa."
"Lalu kenapa mom menangis, grandpa?" lirih Jisoo diantara isakannya, Yongjoon tidak sanggup menjawabnya. Jisoo hanya akan semakin sedih jika tau penyebab ibunya menangis, jadi ia hanya memeluk cucunya dan mengusap rambut gadis itu.
Lama mereka menunggu dalam keheningan, akhirnya pintu ruang UGD terbuka membuat Sooji terlonjak dan langsung meghampiri dokter yang memeriksa Myungsoo.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Sooji memegang kedua lengan sang dokter dan menatapnya penuh tuntutan.
"Ada beberapa hal yang perlu anda ketahui nyonya, mari silahkan ikut saya." Sooji menelan ludahnya berat. Jelas ini sesuatu yang buruk karena jika Myungsoo baik-baik saja, ia tidak akan perlu berbicara dengan dokter di dalam ruangannya.
"Pasien akan dipindahkan ke kamar segera, jadi bapak bisa langsung mengurus administrasi kepindahannya." Dokter itu kemudian menatap Wonho yang sudah berada di belakang Sooji.
"Sooji, apa kau perlu kutemani?"
Sooji mendesah panjang dan menggeleng menatap Wonho.
"Tidak perlu. Kau bisa mengurus administrasinya dan tolong jaga ayahku serta Jisoo," ucap Sooji, setelah mendapat anggukan dari Wonho ia langsung bergegas meninggalkan pria itu untuk menyusul dokter Myungsoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Begin Again | MS #2 [COMPLETED]
Fanfiction[COMPLETED] Pt. 1 - 7 : PUBLIC Pt. 8 - END : PRIVATE ===================================== Marriage Series #2 Begin Again Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan waktumu menjalani hidup sendir...
![Begin Again | MS #2 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/79542845-64-k210882.jpg)