BA6. He's Really Dying

5.3K 729 119
                                        

Matanya memandang menyusuri jalan yang mereka lewati, ketika pertama kali datang ke tempat di mana Myungsoo berada, Sooji tidak sempat untuk menikmati pemandangan sekitar yang terlihat sejuk akibat pergolakan yang sedang terjadi antara otak dan hatinya. Ia tidak menyangka jika bisa melihat pemandangan seasri ini di antara padatnya jalan-jalan kota Seoul.

Pohon-pohon yang rindang masih berjejer rapi di sisi jalanan serta rumput hijau yang membentang luas di sebelah kiri dan di bagian kanan ia bisa melihat jejeran gedung-gedung pencakar langit yang berada di jantung kota Seoul. Tidak heran, karena ini adalah daerah pegunungan yang masih alami, belum tersentuh oleh pembangunan-pembangunan yang bisa merusak alam.

Sooji menoleh ke sebelahnya dan mendapatkan ekpresi wajah datar Wonho yang sedang fokus menyetir, ia memiliki segudang pertanyaan untuk pria itu, tapi tidak tau mau memulainya dari mana sehingga hanya diam pilihan yang tepat saat ini.

"Bicaralah, jangan ditahan seperti itu," Sooji terkejut ketika mendengar teguran itu, ia melirik Wonho sekilas kemudian membuang wajahnya kembali menatap keluar jendela.

"Jadi, sejak kapan--" Sooji diam, ia tidak sanggup menyuarakan apa yang ada di pikirannya sekarang, entah mengapa begitu sulit mengakui bahwa saat ini Myungsoo sedang mengalami masa-masa yang sulit.

"Lima tahun Sooji, tahun pertama dia menghabiskan waktunya untuk mencarimu. Tahun kedua masih terus melakukan hal yang sama tapi aku menyadari ada sedikit perubahan. Dia terlihat menunjukan gejala depresi. Waktu itu kupikir akan berlangsung sementara, hanya perlu membiasakan diri tanpa kehadiranmu tapi sesuatu terjadi diluar kendalinya-" Wonho menghela nafas panjang, mengingat masa-masa Myungsoo yang paling rentan kala itu. Ia sebagai satu-satunya saudara Myungsoo merasa wajib untuk mengawasi serta menjaga pria yang sedang tidak dalam kondisi stabil tersebut.

"Sesuatu?" Sooji kembali menoleh pada Wonho, menatap pria itu penuh harap serta binar kecemasan yang terpancar di raut wajahnya.

"Sejak kau pergi aku memutuskan untuk tinggal bersamanya agar bisa mengawasi secara langsung dan di suatu malam dia pulang ke rumah setelah lewat tengah malam. Keadaannya sangat buruk, ah tidak luar biasa buruk."

Sooji mendengarkan, bagaimana Wonho menceritakan keadaan Myungsoo waktu itu. Dua tahun melewatinya dengan keadaan yang sangat buruk, hingga puncaknya terjadi pada malam itu. Di mana Myungsoo pulang dengan keadaan yang hancur, wajahnya penuh lebam serta tangan dan tubuhnya terdapat sayatan-sayatan kecil yang Wonho duga akibat goresan benda tajam.

"Aku melihatnya, berpikir bahwa dia telah berkelahi dengan seseorang tapi ketika mendekat dan menemukan sebuah cutter di tangannya. Aku tidak percaya waktu itu--Myungsoo, melukai dirinya sendiri, itu sungguh tidak masuk akal. Tapi tiba-tiba dia melakukannya-" Wonho berhenti bersuara menahan nafasnya sejenak, Sooji memperhatikan dengan diam namun, hatinya terasa diremas-remas mendengar semuanya, "dia melakukannya di depan mataku dengan menyebut namamu."

Sooji tercekat, ini lebih parah dari yang dibayangkannya. Air matanya sudah keluar tanpa suara, ia tidak tau berapa kali harus mengeluarkan cairan bening itu untuk mendengar cerita tentang Myungsoo.

"Yang baru aku tau saat itu adalah dia selalu menyiksa dirinya sendiri, selama itu aku tidak pernah menyadarinya karena aku melihat keadaannya baik-baik saja, diluar wajahnya yang lesu serta depresi ringan yang dialaminya. Selebihnya baik, tapi malam itu sama sekali tidak ada kata baik darinya."

"Hingga saat aku memeriksakannya dan saat itupula dokter memvonisnya mengalami gangguann mental dan harus segera di rehabilitasi sesegera mungkin sebelum jiwanya ikut terganggu dan itu akan sulit untuk disembuhkan. Maka dariitu aku memasukan Myungsoo di Pusat Rehabilitasi Mental Destruction, tempat yang kita tuju sekarang."

Begin Again | MS #2 [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang