Sooji tersenyum saat ini, perkembangan yang dialami oleh Myungsoo benar-benar sangat baik dan itu semua tidak terlepas dari Jisoo yang selalu mengajak ayahnya untuk terus berbicara setiap malam.
Seperti saat ini, Myungsoo sudah mulai membalas tiap celotehan yang dikeluarkan oleh Jisoo. Meskipun masih mengucapkan kalimat yang tidak lengkap tapi setidaknya dia sudah ada kemajuan dengan tidak lagi menjawab hanya dengan satu atau dua kata saja.
Terapi yang ia berikan juga cukup banyak membantu, setiap hari jika Jisoo bersekolah, dia dan Myungsoo akan melakukan terapi selama beberapa jam di dalam ruangan kerjanya sekarang.
Perasaan Sooji sempat hancur ketika dokter memberikan vonis bahwa Myungsoo mengidap Aphasia, tapi setelah mendengar penjelasan lebih detailnya Sooji hanya bisa mengucapkan puji syukur kepada tuhan karena penyakit yang diderita oleh Myungsoo belum sampai pada tahap akhir. Myungsoo hanya menunjukkan beberapa gejala penyakit Aphasia, tapi gejala yang ditunjukkannya belum termasuk dalam kategori Aphasia akut. Dokter mengatakan Myungsoo termasuk dalam kategori Expressive Aphasia.
Tanpa perlu dijelaskan Sooji akhirnya tau penyebab mengapa Myungsoo hanya berbicara satu dua kata saja selama ini, sebab Expressive Aphasia membuat penderitanya kesulitan untuk menyusun kalimat lengkap untuk diutarakannya. Pada umumnya penderita mampu memahami apa yang dikatakan orang lain akan tetapi memiliki kesulitan menanggapi dengan cepat. Seperti itulah yang dialami oleh Myungsoo sekarang--namun, berkat terapi yang mereka lakukan secara berkala, sekarang Myungsoo sudah mulai bisa berbicara dengan sedikit lancar.
Sooji tau jika penderita Expressive Aphasia juga akan mengalami kelumpuhan atau kelemahan di bagian kanan tangan dan kaki, tapi beruntungnya Myungsoo masih belum sampai ke tahap itu sebelum dia mengetahui penyakit yang menyerang Myungsoo saat ini.
"Mom, kemarilah--lihat apa yang kami buat."
Jisoo berseru sembari tersenyum lebar menatap Sooji yang sedang asyik mengamati kegiatannya bersama Myungsoo malam ini di ruang keluarga.
Sooji tersenyum lalu mendekat, ia bergabung bersama keduanya untuk duduk di atas karpet dan memperhatikan buku gambar milik Jisoo.
"Warnanya cantik sekali," ujar Sooji membuat Jisoo tersenyum bangga pada hasil kerjanya bersama Myungsoo.
"Daddy yang memilih warnanya." Sooji terkesima lalu menatap Myungsoo yang hanya tersenyum kecil.
"Benarkah? Wah ini indah Myungsoo." Pria itu hanya mengangguk kecil, lalu mengambil crayon Jisoo dan kembali menggoreskan benda itu ke atas kertas.
"Apa ayahmu senang melakukan ini Jisoo?"
"Tentu, daddy berkata akan melakukan ini setiap hari denganku." Jisoo menjawab dengan yakin kemudian mengikuti Myungsoo untuk kembali mewarnai.
"Kalian sangat berbakat--gurumu pasti akan memberikan nilai yang bagus untuk ini."
Jisoo menganggukan kepala membenarkan perkataan ibunya, ia memang sangat yakin jika gurunya di sekolah akan memuji hasil karya yang ia lakukan bersama ayahnya ini.
"Tapi kalian harus makan malam ya? Ini sudah jam 8 sayang." Sooji mendekati Jisoo mengusap pundak anaknya, tadi ia ke ruang keluarga memang berencana memanggil mereka berdua untuk makan malam. Bayangkan saja, keduanya telah duduk disini selama lebih dari tiga jam dan Sooji sama sekali tidak melihat mereka berpindah tempat sedikitpun, makan malam yang harusnya mereka lakukan satu jam yang lalu bahkan harus terlewat karena Myungsoo dan Jisoo sangat enggan untuk meninggalkan gambar mereka.
"Sebentar lagi mom." Sooji menghela nafasnya, Jisoo tidak akan berubah pikiran sebelum semua gambar selesai ia warnai jadi tidak ada pilihan lain selain membujuk Myungsoo yang selalu bisa membuat Jisoo menuruti keinginannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Begin Again | MS #2 [COMPLETED]
Fanfiction[COMPLETED] Pt. 1 - 7 : PUBLIC Pt. 8 - END : PRIVATE ===================================== Marriage Series #2 Begin Again Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan waktumu menjalani hidup sendir...
![Begin Again | MS #2 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/79542845-64-k210882.jpg)