Sejak keluar bandara sore tadi hpnya tak juga berhenti berdering. Deni sekarang sedang menuju Rumah setelah perjalanan bisnis ke Surabaya beberapa hari lalu. Karna terlalu lelah Deni mengabaikan jeritan ponselnya yg tak kunjung berhenti hingga ponselnya mati karna lowbath.
Deni tiba dirumah disambut tatapan melotot oleh Kif karna tak kunjung menjawab panggilannya. Tapi Deni hanya berlalu karna terlalu lelah.
"Kenapa kamu mengacuhkan panggilanku Den?!" hardik Kif kesal.
Deni berlalu tanpa mau repot menjawab pertanyaan Kif. Tubuhnya sangat lelah setelah beberapa hari dia menyelesaikan kerjaannya di Surabaya. Waktu seminggu yg terasa sangat menyiksa tubuh dan pikirannya. Bagaimana dia bisa bekerja jika pikirannya penuh pertanyaan tentang keadaan Runa.
"Jadi kamu sudah tidak perduli lagi dengan Runa?!" pernyataan Kif berhasil menghentikan langkah lesu Deni.
Kini Deni berhenti didepan anak tangga mengurungkan langkahnya naik kekamarnya. Deni menatap Kif yg terlihat cemas dan juga kesal.
"Jangan bercanda sekarang Kif, aku sangat lelah." Kata Deni akhirnya.
"Mama di rumah Runa." Kata Kif membuat dahi Deni mengernyit penuh tanya. "Tadi siang mama tak sengaja bertemu dengan Runa saat mantannya-" lanjutnya terputus saat Deni sudah berjalan kearah telpon rumah dan menekan beberapa tombol.
Kif menahan kesal melihat sikap Deni tapi detik berikutnya dia tersenyum tipis.
Setelah bicara sebentar dengan mama ditelpon Deni semakin gusar. Belum lagi telepon yg diputus secara sepihak sebelum dia mendapatkan jawaban atas kegusarannya. Mama benar-benar tak bisa diajak bersahabat sepertinya.
Deni segera melajukan mobilnya cepat, padahal dia bisa minta antar supir. Tapi pikirannya terlalu panik hingga tak menyadari hal itu. Rasa lelah yg tadi dirasakan juga sudah menguap tak tersisa.
'sebelum kamu menyesal!'
Kalimat menakutkan itu terngiang jelas ditelinganya. Bahkan seperti instrumen mengerikan yg tak ingin didengar.
Jangan sampai Tomi berhasil membujuk Runa untuk balikan.
Dan bayangan itu semakin terlihat mengerikan hingga ia mengetuk pintu rumah Runa tak sabar.
"Cari sia-Astaga!!" pekik Runa terkejut menatap Deni dengan wajah kusut dan penampilan acak-acakan.
"Si-silahkan ma-suk pak." Kata Runa terbata.
Deni masuk dan mengamati rumah Runa yg tampak sepi. Tak ada Tomi yg mengganggu Runa seperti apa yg dibayangkannya tadi selama dijalan. Deni mulai merutuk karna mungkin saja ini hanya ulah mamanya.
"Pak Deni kemari karna ingin menjemput bu Prita?" tanya Runa menyadarkan Deni dari lamunannya.
"Ah-iya." Jawab Deni menyembunyikan kegusarannya.
Runa melangkah menuju meja makan, diikuti Deni dibelakangnya.
"Kenapa nggak angkat telpon mama?!" hardik Prita tanpa menatap Deni yg masih bingung. "Mama udah bilang kan setelah kamu landing langsung jemput mama dirumah Runa."
"Maafin Deni ma." Kata Deni pasrah.
"Bu sebaiknya biarkan pak Deni makan dan istirahat dulu. Pak Deni sepertinya sangat lelah." Kata Runa menengahi perdebatan antara ibu dan anak.
"Rasa lelahnya tak sebanding dengan perlakuan mantanmu tadi siang!" sungut Prita dengan sengaja.
Seketika Deni menatap Runa lekat mencari kebohongan yg mungkin mamanya rencanakan. Tapi yg didapat Runa hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Apa Tomi masih mengganggumu?" tanya Deni masih tetap menatap Runa.
"Sebaiknya bapak makan dulu." Kata Runa mengalihkan.
"Jawab aku Runa!" perintah Deni menahan kekesalannya.
"Dia hanya ingin meminta maaf." Kata Runa pelan.
"Pria itu benar-benar!" desis Deni mengepalkan tangannya.
"Saya baik-baik saja, sekarang bapak makan dulu." Kata Runa menarik lengan Deni menuntunnya duduk.
Suasana menjadi hening dan hanya Abi yg sesekali berceloteh. Prita masih tampak kesal dengan sikap anaknya yg terlihat biasa saja. Sementara Runa hanya bisa berpura-pura sibuk menyuapi Abi walaupun pikirannya sangat cemas menatap perang dingin antara ibu dan anak didepannya.
Dilain sisi Deni berusaha menelan makan malamnya dengan susah payah. Pikirannya terus saja bergaung tentang Tomi yg muncul dihadapan Runa, padahal Runa sangat menghindari Tomi. Dan itu membuatnya semakin mengutuk keteledorannya. Dia harus memikirkan cara yg lebih efektif agar Tomi tak lagi bisa mengganggu Runa.
Kini Runa tengah sibuk mencuci piring setelah makan malam. Prita dan Deni sedang menemani Abi bermain diruang tengah.
"Bagaimana mama bisa bertemu dengan Runa tadi siang?" tanya Deni memulai percakapan.
"Sebenarnya mama bertemu secara tidak sengaja." Kata Prita memulai kronologi awal pertemuannya dengan Runa samapai insiden pemukulan kepala Tomi.
Deni mengepalkan tangannya menahan rasa kesal yg teramat atas sikap Tomi. Bayangan mengerikan jika saja mamanya tak datang untuk menyelamatkan Runa. Mungkin Runa akan semakin rapat menutup hatinya. Terlebih Runa seperti masih menyimpan trauma. Dan jika hal itu terus terjadi, maka usaha pendekatan yg dilakukannya akan sia-sia.
"Mama rasa Tomi sangat mencintai Runa, dan mama tidak suka hal itu." Kata Prita mengusap punggung Abi dalam dekapannya.
"Deni sudah tau tentang itu ma, dan sepertinya Runa masih tak ingin membuka hati. Sepertinya dia masih trauma." Jelas Deni.
"Mama nggak mau tau itu, yg mama mau dia jadi mantu mama." Dengus Prita.
"Tapi aku nggak bisa maksa dia ma, itu akan menyakitkan bagi Runa." Kata Deni pasrah.
"Pikirkan saja cara agar Runa mau!" ketus Prita yg mulai kesal melihat sikap Deni yg tak kunjung mengambil inisiatif.
"Berikan waktu buat aku sama Runa untuk saling menyukai, ma."
"Kamu terlalu lama, nanti kalau Tomi berhasil mempengaruhi Runa baru kamu akan menyesal!"
"Mama kok gitu sih?!"
Tok tok tok
Perdebatan Deni dan Prita terhenti saat terdengar suara ketukan pintu.
"Biar aku saja yg buka pintu." Kata Deni menghentikan Runa, dan mulai beranjak kedepan.
Runa hanya mengangguk dan kembali melanjutkan mencuci piring yg sudah hampir selesai. Sementara Prita terus mengusap punggung Abi yg mulai terlelap.
"Cari siapa?" tanya Deni sambil membuka pintu.
"Kamu?!"
💚💚💚
Vomentnya please..
Ailopyu..
KAMU SEDANG MEMBACA
Single
RomanceCerita ini hanya fiktif belaka apabila ada kesamaan nama atau tokoh merupakan hal yg tidak disengaja dan hanya kebetulan semata. Ini cerita tentang abang Deni yg berusaha ngejar jodohnya. Perempuan berkepribadian hangat dan keibuan atau memang udah...
