"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dedi cemas melihat kondisi Runa yg tak terlihat baik.
Kantung mata nya semakin kentara dengan wajah lebih pucat. Dedi baru tak mengunjunginya kemarin dan sekarang keadaan sepupunya sangat buruk. Dalam hati dia masih bertanya sebenarnya apa yg sudah terjadi hingga membuat Runa sampai seperti ini.
"Mereka berkata seolah mereka yg akan menjalani, mereka tak tau rasanya." samar Dedi mendengar racauan Runa.
"Apa yg sebenarnya terjadi?" tanya Dedi tak sabar.
"Bu Prita, mama Deni wiryanto mengatakan akan melamarku akhir bulan ini. Itu artinya tiga minggu lagi. Dia bilang pada tante Wulan saat mereka bertemu di rumah ku. Padahal aku dan Deni tak ada hubungan apapun." kata Runa kemudian menenggelamkan kepalanya pada meja kerjanya.
Wajah Dedi terkejut tapi segera berganti datar detik berikutnya. Sebenarnya dalam hati dia sangat ingin tertawa karena Runa tampak frustrasi. Baginya Deni termasuk pria baik dengan latar belakang keluarga yg baik. Berbeda jika harus dibandingkan dengan Bima. Ya walau Bima juga serius mencintai Runa, tapi Deni lebih sopan. Sementara Bima gelar play boy masih disandang apik olehnya, meskipun Bima tidak sebejat dirinya yg hoby main di club.
"Lalu apa yg akan kau rencanakan?" tanya Dedi menatap Runa serius.
"Tentu saja aku harus menjelaskan semuanya agar lamaran itu tidak terjadi!" geram Runa melihat Dedi yg tidak peka dengan kegelisahan yg dia alami.
"Apa yg membuat mu ingin membatalkan rencana bu Prita untuk melamar mu?"
"Apa kau tak mendengar cerita ku?!" kali ini Runa kehilangan kesabaran dan menatap Dedi horor.
"Cerita yg mana yg kau maksud?" tanya Dedi berpura-pura tidak paham.
"Aku tidak ingin menikah, dan hubungan ku dengan Deni bukan seperti yg ibu Prita sangka. Aku dengan Deni hanya rekan bisnis, tidak lebih." jelas Runa panjang lebar.
"Bukankah Deni menyukai mu?" Hardik Dedi tampak sedikit santai. "Apa yg membuat mu tak ingin menikah dengan Deni, sementara diluar sana ada banyak wanita yg mengharapkan cinta dari Deni. Dia tampan, pintar, baik, penyayang, semua nilai plus dia miliki." imbuh Dedi meyakinkan Runa yg tampak semakin kesal.
"Tap--"
"Hanya sedikit bodoh karna menyukai wanita seperti mu dan harus menyeret mu kedepan penghulu." Sergah Dedi sebelum Runa melakukan pembelaan.
"Apa maksud dia bodoh karna menyukai ku?" Runa mengetatkan rahangnya menahan kesal.
"Dia bisa memilih banyak wanita yg dengan suka rela menyerahkan diri padanya. Jika aku jadi dia aku tak akan mau dengan wanita keras kepala seperti mu." kata Dedi berhasil membuat ubun-ubun Runa berasap. "Kau juga cerewet dan terlalu kaku." imbuhnya yg langsung mendapat hadiah lemparan pulpen tepat dikepalanya.
"Aawww..!" keluh Dedi mengusap keningnya. "Perhatikan sifat bar-bar mu, kau seperti singa." kata Dedi masih mengusap keningnya yg terasa berdenyut.
Runa dan Dedi terlibat dalam pertengkaran sengit. Runa yg hendak minta solusi jadi menyesal telah mengundangnya untuk mengunjungi dikantor. Dedi tak membantu dan justru membuat mood Runa semakin buruk.
###
Deni kembali melirik jamnya yg sudah menunjuk angka 12, dan itu artinya jam makan siang sudah tiba. Bukannya beranjak Deni malah menyadarkan tubuhnya di kursi kebesarannya mencari posisi nyaman.
Sejak tadi dia berusaha berpikir mencari jalan tengah untuk masalahnya, tapi otaknya tak kunjung menemukan solusi tepat. Dia harus mengorbankan Runa atau mamanya. Deni kembali mengacak rambutnya frustrasi, bahkan sejak tadi dia tak bisa fokus dengan kerjaannya.
Biip biip biip
Deni menatap ponselnya tanpa ingin membuka pesan yg baru saja ditrima. Cukup lama hingga suara ketukan lebih dulu menginterupsi.
“Masuk!” perintahnya. “Apa yg kau lakukan disini?” sambut Deni malas saat melihat Bima berdiri didepannya.
“Ramah sekali sikapmu menyambut kedatangan ku?” cibir Bima menghempaskan tubuhnya disofa diruang itu. “Apa ada masalah?” tanya Bima penuh selidik.
Deni menatap Bima penuh curiga. Hari ini mereka tak ada janji, walaupun Bima memang sering mengunjungi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Sebenarnya aku tak boleh cerita masalah ini.” Kata Bima menarik perhatian Deni. “Biar bagaimana pun kau adalah rival ku.” Imbuhnya membuat Deni tak lagi duduk bersandar dengan nyaman di kursinya.
Deni menatap Bima penuh curiga, selama mereka berteman Bima tak pernah segamblang ini. Dan entah apa yg sudah pria ini makan hingga dia sedikit cerewet siang ini. Tapi Deni memilih untuk diam dan tak bereaksi agar Bima melanjutkan ucapannya.
“Dedi Atmadja, adalah temanku. Dia cerita tentang sepupunya.” Deni semakin tak tenang dalam duduknya, Bima memang kurang ajar telah membuatnya penasaran.
Deni masih ingat nama belakang Runa. Dia tahu persis tujuan Bima ingin membuatnya penasaran, tapi dia tak boleh terpancing jika ingin mendapat informasi.
“Aaahhh… sudahlah aku sebaiknya membiarkan mu makan siang dulu..”
“Sial kau!” pekik Deni berdiri dari kursinya menatap Bima kesal.
“Hey ada apa dengan mu?”
“Ada apa dengan Runa, cepat katakan?!”
“Dia ingin menjelaskan kepada mamamu dan tante Wulan tentang kesalah pahaman yg terjadi, sepertinya dia tak ingin menikah dengan mu.”
Deni menutup matanya, dia sudah menduga hal ini, tapi kenapa saat orang lain yg mengatakannya terdengar sangat menyakitkan. Deni segera mengamit kunci mobilnya yg tergeletak di atas meja dan berhambur keluar tanpa perduli pada Bima yg meneriakinya.
Apa dia akan memaksakan diri untuk menikahi Runa, menyeretnya dengan paksa ke depan penghulu hanya untuk memenangkan hatinya.
💗💗💗
Thankiyu udah setia nunggu..
Ailopyuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Single
RomanceCerita ini hanya fiktif belaka apabila ada kesamaan nama atau tokoh merupakan hal yg tidak disengaja dan hanya kebetulan semata. Ini cerita tentang abang Deni yg berusaha ngejar jodohnya. Perempuan berkepribadian hangat dan keibuan atau memang udah...
