PUTRA MAHKOTA NAIK TAHTA

3.8K 203 5
                                        

"Benar Yang Mulia, prajurit yang ditugaskan oleh Putra Mahkota dalam misi pembebasan paksa Putri Agung Chana adalah seorang wanita". "Bagaimana ada seorang wanita bisa masuk dalam padepokan istana? Apa petugas padepokan tidak memastikannya lebih dulu?". "Hamba tidak tahu menahu untuk masalah itu Yang Mulia. Hamba mohon petunjuk untuk tindakan selanjutnya". Permaisuri terdiam menjawab pertanyaan Perdana Mentri itu. "Apa yang kau dapat selama penyelidikan?". "Ia tidak mau membuka mulutnya, jadi hamba tidak mendapat informasi apapun Yang Mulia".

"Yang Mulia Permaisuri, mengembalikan penanggungjawaban penuh atas seluruh keonaranku dan semua yang terlibat di dalamnya, maka izinkanlah aku untuk menjadikan prajurit itu sebagai dayang-dayang istana". "Putra Mahkota!". "Yang Mulia, aku sudah bilang diawal bahwa aku akan bertanggungjawab penuh atas tindakanku. Prajurit itu adalah bagian dari tanggung jawabku. Jadi sebaiknya serahkan dia pada hamba". "Yang Mulia, jika Putra Mahkota meminta prajurit itu menjadi dibawah pengawasannya maka itu sudah merupakan ikhtikad baik bagi Putra Mahkota untuk bertanggungjawab…", tutur seorang Gubernur.

"Betul Yang Mulia, mohon kemurahan hati anda! Kami mohon Yang Mulia! Kami mohon Yang Mulia!", sorak-sorak seluruh Gubernur mendesak Permaisuri. Permaisuri tidak ada pilihan lain lagi. Mau tidak mau ia memang harus memberikan prajurit gadungan itu pada Putra Mahkota, bahkan sebelum ia melihat wajah asli wanita itu. "Baiklah, ku serahkan prajurit itu padamu Putra Mahkota…", ucap Permaisuri akhirnya menjawab desakan semua orang. Tan tersenyum tipis mendengarnya. Itu artinya ia berhasil menyelesaikan satu masalah besar yang ia janjikan pada Padawan Lang dan Dalyan. Namun sayang, kemungkinan Kwon untuk kembali ke dunia militer agaknya harus terkubur dengan keputusan ini.

Pertemuan hari itu dibubarkan ketika Permaisuri memberikan jawaban atas nasib Kwon. Namun dibelakang Permaisuri tetap menekankan untuk naik tahtanya Putra Mahkota. "Putra Mahkota telah menyampaikan alasan dibalik perbuatannya. Ia terbukti tidak melakukan itu semua atas dasar perasaan. Untuk itu aku minta kepada Dewan Gubernur untuk mempertimbangkan kembali putraku naik tahta. Bagiku putraku telah berpihak pada yang benar dan menyalahkan apa yang salah. Ia telah berbuat dan melindungi kemanusiaan orang lain. Tolong pertimbangkan lagi keputusan kalian".

Kwon membuka matanya perlahan. Sinar mentari menerjang kelopak matanya yang memaksa dia untuk bangun dari tidur lelapnya. Terasa pegal disana-sini, begitu batinnya pertama kali ketika urat-urat rasanya telah aktif kembali. "Kwon! Kau sudah bangun?!", seru seorang dayang perempuan setelahnya. "Kau… siapa?". "Kau lupa padaku?". Kwon hanya terdiap menanggapi pertanyaan dayang perempuan itu. "Aku Chun! Chun adiknya Dalyan!". Kwon membalakkan matanya kemudian. "Chun! Chun! Astagaa!". Dua perempuan itu lalu berpelukan erat. Maklum saja, terakhir kali Chun dan Kwon bertemu adalah ketia ia mengantarkan putri gurunya itu menjadi dayang istana akibat paceklik yang melanda keluarganya. Ia masih saudara dari Dalyan. Sementara saudara kembaran Chun, yakni Chin memutuskan untuk melanjutkan misi ibunya, yaitu mengajar anak-anak di Fan. Semacam pendidikan anak usia dini. Chin sudah berkeluarga sekarang. Suaminya adalah seorang guru disebuah balai pendidikan. Mereka tak sengaja bertemu ketika Chin mencari buku dan kitab tambahan untuk dipelajari, mengingat ia juga memiliki murid berusia dewasa. Mereka dikaruniai dua putra. Sementara Chun dan Dalyan, karena mereka adalah kaki tangan istana maka mereka tidak diizinkan berkeluarga dulu sebelum mereka secara resmi dipecat Permaisuri/Kaisar, atau bisa juga mengundurkan diri. Chun sendiri ditempatkan herpindah-pindah. Sekarang ia menjadi dayang-dayang Perdana Mentri setelah sebelumnya ia menjadi dayang-dayang istana bagian dapur.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa berpakaian yang sama dengan pakaian kakakku?", tanya Chun penasaran. Perubahan raut wajah jelas tergambar di wajah Kwon. Teringat bagaimana luka yang di derita Dalyan ketika terakhir kali ia melihatnya di padepokan. "Kwon… Kwon…", ucap Chun sambil menggoyangkan badan Kwon. "Aku… tidak sengaja bertemu dengan kakakmu…", jawab Kwon sambil terbata dan air mata mulai menetes dipipinya. "Aku secara tidak sengaja pula menyamar sebagai laki-laki dan bergabung dengan militer…". "Astaga! Kwon!", Chun tercengang sampai menutup mulutnya. "Kenapa kau bisa berbuat sejauh itu? Kau bisa saja dibunuh karna telah membohongi keluarga kerajaan, apa kau tahu?".

Empress KwonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang