Para dayang sedang begunjing tentang bayi yang dibawa Selir Agung ke kediamannya. Bukan karena mereka mengikuti Selir Agung tapi suara tangisan bayi yang terdengar membuat mereka bersemangat melihat apa yang terjadi. Dan ternyata benar itu seorang bayi.
Hal itu sangat mengherankan mengingat hubungan Selir Agung dengan Kaisar yang tak pernah akur karna Selir Agung selalu iri kepada Permaisuri. Darimana Selir Agung mendapat anak? Anak siapakah yang ia bawa ke istana itu? Gunjingan itu sampai ketelinga Dayang Zho, Dayang senior dan yang paling setia kepada Permaisuri.
"Sebagai ibu negeri, apa tidak sebaiknya Yang Mulia melaporkan ini kepada Baginda Kaisar?". "Aku akan ke kediamannya dulu untuk memastikan apa yang terjadi".
"Tapi Yang Mulia, bukankah menanyainya juga tidak akan membawa apa-apa? Selir Agung manamungkin jujur kepada anda".
"Semua memang tidak pasti, tinggal bagaimana kita. Apakah kita mempercayainya atau tidak. Dan aku penasaran apa yang keluar dari mulutnya".
"Yang Mulia Permaisuri tiba......!!!", ucap pelayan istana yang bertugas menjaga pintu. Selir Agung bersegera memberikan bayi itu kepada dayangnya. Ia lalu membungkuk memberi salam kepada Permaisuri.
"Apakah Yang Mulia juga penasaran atas apa yang hamba bawa masuk ke istana?"
"Tentu saja, apa yang kau bawa menjadi sumber kegaduhan istana". "Bayi ini ku angkat menjadi putriku. Ia ku temukan ketika Kaisar mengutusku untuk melihat langsung wabah penyakit kolera di Hainan. Daripada bayi ini tertular, aku akan merawat dan membesarkannya".
"Kau pikir Kaisar akan memberimu izin? Jika kau menjadikan bayi itu putrimu, sebaiknya berikan ia kepada sepupumu agar dirawat dan beri dia makanan dengan hartamu. Bukan malah kau bawa ke istana begini". Ucapan Permaisuri itu menyulut kemarahan Selir Agung.
"Dia putriku, bukan putri sepupuku!". "Kau pikir badannya yang menjijikkan itu tak membawa bencana dalam istana? Kau ingin menunggu ada korban dulu baru kau menyadarinya? Orang Hainan sekali pengkhianat tetap pengkhianat!". "Sebaiknya Yang Mulia keluar sebelum kesabaranku habis!"
Dengan hati yang penuh amarah, Permaisuri keluar dari Balai Zhuan tempat kediaman Selir Agung. Ia melangkah amat cepat senada dengan detak jantungnya yang kecewa atas perlakuan Selir Agung. Terbesitlah sebuah rencana licik Permaisuri untuk menyingkirkan bayi itu dari istana. Dayang Tal, dayang setia Selir Agung mencoba memeperingatkan Selir Agung atas kemungkinan apa yang akan dilakukan Permaisuri.
Diketahui, Permaisuri berjabatan lebih tinggi dari Selir Agung. Dengan kekuasaannya ia berwenang melakukan apa saja termasuk memperngaruhi Kaisar untuk memberikan hukuman kepada Selir Agung. "Semenjak Bayi ini kurengkuh dan kubawa ke istana, aku akan melindunginya segenap kemampuanku".
Selir Agung memang pernah akan mempunyai anak. Tentu saja bayi itu bukan anak Kaisar, melainkan anak Wang Huan. Wang Huan adalah seorang Jendral pemimpin kemiliteran sekaligus Gubernur di wilayah Hainan. Pada waktu itu memang Selir Agung belum masuk ke istana, ia masihlah budak di Hainan yang memang secara khusus melayani Wang Huan.
Wang Huan pulalah yang memberinya ilmu mengajarinya menulis dan membaca. Ketika ibu kota akan melancarkan serangan ke kota HuiZhong untuk merebutnya, Hainan dipercaya untuk memasok makanan dan senjata kepada tentara yang bertugas. Beberapa orang yang tak suka dengan Wang Huan, Hainan dan yang berpihak kepada HuiZhong, memfitnahnya dengan memasukkan racun kedalam makanan untuk para tentara, terbunuhlah setengah dari jumlah tentara yang diberangkatkan pada waktu itu.
Kabar itu membuat Kaisar marah, lalu beliau mengutus Perdana Mentri untuk membunuh Wang Huan. Setelah Wang Huan terbunuh dan karena alasan internal di dalam kepala Perdana Mentri, ia memerintahkan untuk membunuh semua orang di Hainan termasuk anak-anak dan para wanita kecuali yang memiliki senjata untuk dirampas. Selir Agung yang saat itu terdesak karena tidak punya senjata untuk diserahkan, masuk kedalam hutan dengan posisi hamil tua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Empress Kwon
Historical FictionSepasang bayi kembar perempuan dipisahkan oleh takdir yang berbeda. Jika takdir itu diibaratkan tali yang panjang, ternyata tali itu saling berpotongan dan berhimpit di suatu bagian. Bagaimana dan apa yang terjadi setelah mereka saling berpotongan d...
