10| Tanda Tanya
KILA TAK PEDULI pada cerita Isell bukan tanpa alasan. Isella sudah mengoceh panjang lebar, tentang Bi Inah yang minta mengganti jadwal mengurus rumah dari Rabu-Jumat ke Selasa-Kamis, mama Isell yang menanyakan tagihan listrik, sampai tentang keluarganya di Bogor yang sering heboh. Isella masih saja bicara, tetapi seolah ucapan panjang lebarnya hanya mampir lewat di telinga Kila.
"Isyana ngamuk gitu, La. Nggak mau pake baju katanya ke sekolah. Emak gue sampe-La?"
Tepukan Isell di lengan Kila memudarkan lamunannya.
"Hah? Iya, Sell? Kenapa?"
"Nasi lo tumpah." Dagu Isell menunjuk sendok di tangan Kila.
Kila hanya terkekeh tanpa merasa berdosa saat menyadari kebodohannya. Sejak tadi, pikirannya terbagi hanya pada dua hal. Tentu saja salah satunya bukan tentang cerita Isell, juga bukan tentang sarapan sotonya pagi ini.
Pertama, Kila bingung. Seorang laki-laki menciumnya di awal-awal pertemuan mereka. Bahkan, dulu, Bana menciumnya saat mereka belum saling mengenal. Kila tidak merasa sedang melakukan sejenis pdkt dengan orang itu. Atau Bana memang tengah menyatakan rasa sukanya tanpa bicara? Kalau begitu, tidak salah agaknya Kila berpendapat kalau Bana sejenis manusia tidak mudah ditebak.
"Isyana lari-lari di rumah nggak pake baju. Udelnya kemana-mana." Isell tertawa. "Bang Islan sebelum berangkat kerja ikutan ngamuk. Dia bilang, 'Lo anak TK apa anak tarzan sih?'. Kakak gue emang frontal abis. Nggak beda jauh sama gu-La?"
Tepukan Isell kembali memudarkan lamunan Kila.
Isell menautkan dahinya beberapa saat seraya mendeteksi perilaku aneh Kila. "Gue tes, ya!"
Kila membelalakkan matanya. "Hah? Tes apa? Gue belum belajar!"
Wajah panik Kila itu yang spontan membuat Isella Nurriska terbahak. Namun gelakannya hanya berlaku beberapa saat. Isell langsung menodongkan pertanyaan, "Siapa yang lari-lari nggak pake baju?"
Kila melotot. "Haaah? Ada yang nggak pake baju?!"
Isella Nurriska memijat pelipisnya. "Oke, sip. Gue ngomong sama sendok."
"Siapa yang nggak pake baju?" Kila hanya bisa merengut tak mengerti. Beberapa detik kemudian ia sudah mengabaikan Isell lagi dan menyuapkan soto Bandungnya. Lobak hangat terasa lembut di mulut.
Hangat? Salahkah Kila berpendapat kalau perilaku Bana terasa hangat? Bana yang selalu tersenyum untuknya, selalu mengejutkan hatinya. Bana yang mau menunggu Kila zumba, bahkan Bana yang peduli mengantarkan Kila pulang. Shakila belum pernah merasakan jenis perhatian seperti ini. Baiklah. Kila ingat, sebelum dengan Bana, Kila pernah dekat dengan seseorang. Namun, rasanya berbeda. Bana terlalu mendominasi pikirannya.
Ada gitu orang yang nggak jadi kepikirian kalau digituin sama Bana?
Pikiran kedua yang menganggu Kila yaitu tentang kejujurannya pada Isell. Kila sejak tadi menimbang-nimbang. Apa ia harus menceritakan perilaku Bana pada sahabatnya itu? Atau sebaiknya disimpan sendiri dulu? Kila tak lupa pada larangan Isell untuk ia jangan dekat-dekat Bana. Bagaimana kalau Isell memarahinya?
Terdengar bunyi kursi ditarik. Kila mendongak. Isell sudah berdiri dan memasang mimik sebal.
"Lo mau nebeng Nuno juga, nggak? Kalau mau, cepet makannya." Ada kesal tertahan di suara Isell. "Udah. Nggak usah minta maaf udah nyuekin gue. Gue tanya-tanya malah diem mulu. Cepet abisin."
KAMU SEDANG MEMBACA
BassKiss
Teen FictionPemenang THE WATTYS 2016 kategori #PilihanStaf dan #EdisiKolektor [15+] Oh Tuhan, umpatan macam apa yang harus Kila keluarkan ketika ia dicium laki-laki di tempat ramai? Parahnya, laki-laki itu tidak dikenalnya. "Brengsek!" menurut sahabat dekat Ki...
