13| Mengintip

42.7K 4.2K 509
                                        

13| Mengintip


ISELL MERASA semangat Kila berlebihan. Mereka datang sebelum acara dimulai. Terlalu dini, bahkan. Tepat setelah jam terakhir matakuliah Pola Lokasi dan Struktur Ruang, Isell sudah bisa melihat Kila datang menjemputnya, sembari melambaikan tangan di depan gedung Planologi.

Isell kira Kila batal mengajaknya pergi, mengingat Nuno batal mengantar mereka. Ada urusan mendadak, katanya. Jadilah tadi mereka naik angkot menuju kafe serba merah marun ini. Kila benar-benar seperti menyeretnya untuk ikut. Kila oh Kila. Sadarkah dia kalau usahanya ini memperlihatkan betapa dia sudah jatuh cinta?

"Belum mulai, La. Mereka paling masih di belakang. Nggak usah dicariin," ujar Isell, merasa risi dengan kepala Kila yang tak mau diam. Tengok sana, tengok sini.

"Tunggu di sini, ya." Kila bangun dari kursi.

"Mau ke mana?"

"Toilet," jawabnya acuh tak acuh, langsung memelesat meninggalkan Isell.

Isell menghela napas pasrah, terpaksa sibuk dengan jus di meja sembari memperhatikan sekitaran kafe yang sudah mulai ramai.


+++++


Bukannya pergi ke toilet, Kila diam-diam melangkah ke arah backstage. Letaknya agak masuk lorong, terhubung ke taman belakang kafe. Kila mendapati beberapa orang duduk-duduk di sana, diduga para personil band yang juga mengisi acara malam ini. Beberapa di antara mereka memegang alat musiknya.

Kila tak berani keluar pintu. Ia hanya bertahan mengintip ke taman itu. Dipa, Faldi, dan Andra tengah berdiskusi di kursi bawah pohon, entah membicarakan apa. Kila merasa aneh kalau tiba-tiba mendatangi mereka.

Dia ... mana, ya?

Kila melongok ke celah-celah jendela demi matanya mendapati daerah jangkauan yang lebih luas. Bana masih juga tak ditemukan. Namun, ada seseorang tak asing tertangkap matanya. Seorang perempuan tengah tertawa bersama personil band lain di dekat batu besar. Duh. Penyakit lupa. Kayaknya gue pernah lihat orang itu. Dimana ya?

Di tengah ingatannya yang sibuk bekerja, Kila merasakan colekan pada bahunya. Saat berbalik itulah Kila mendapati pria tinggi berkacamata tepat berdiri di belakang.

"Hai," ujar lelaki itu santai dengan senyum lebar.

Bana tidak boleh tahu kalau sapaan ringanya itu, lagi-lagi, berhasil membuat jantung Kila berdebar cukup hebat. Siapa juga yang tidak kaget kalau orang yang sedang dicari tahu-tahu sudah ada di belakangnya, memergoki dirinya yang tengah mengintip. Pinter, La! Ngintip aja ketahuan. Pinter banget!

Bana mengatupkan bibir, menahan senyum. "Cari siapa?"

"Cari Kak Dipa," jawab Kila asal.

Bana melongok ke jendela, seolah memastikan Dipa ada di sana. "Kenapa dia?"

Bukannya menjawab, Kila salah fokus. Ya Tuhan, rapi banget! Baju Bana serba hitam. Bukannya meninggalkan kesan kelam, Bana justru terlihat begitu elegan. Kemeja hitam lengan pendek jenis slim fit begitu pas di badannya. Dasi hitam mengilat terpasang, vest hitam membuatnya semakin menawan. Celana jeans hitam, ikat pinggang hitam, dan sepatu hitam menambah kesan menarik tersendiri bagi Kila.

Lemas sudah betis Kila. Pakaian-yang-seperti-seragam-ke-makam itu diakui Kila sangat cocok dikenakan Bana. Tampan nan elegan.

"Dipa kenapa?" ulang Bana, membuyarkan lamunan Kila.

BassKissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang