BAB7

81 9 0
                                        

Hari terakhir study tour aku dan Angel menyempatkan diri untuk berbelanja oleh - oleh---bisa dibilang kenang - kenangan.

"Kamu yang merah, aku yang biru ya, please." Aku memohon pada Angel.

"Baiklah." Angel meneraktirku kali ini.

                      ***

Saat diperjalanan pulang kami bersenang - senang di bus.

Rafa masih mengurus COC nya yang tak berguna itu--padahal aku juga sering main COC.

Aku,Angel,dan Marissa bernyanyi melepaskan semua kesedihan.

'Kau adalah yang terindah yang membuat hatiku tenang'

Saat lirik itu dinyanyikan oleh Angel, sejenak aku merindukan Hendy.

Sedang apa dia ? 

Batinku bertanya - tanya.

Sejurus kemudian aku mengambil ponselku di dalam tas.

Berjalan menuju kursi, tiba - tiba bus berhenti mendadak membuat tubuhku terhempas ke depan.

Aku jatuh ke hadapan Rafa!

Apa apaan ini!

Gagal moveon deh.

"Ciee ciee" Sorak semua orang yang ada dibus membuatku malu.

"Eh."  Secepat kilat aku berdiri dan meninggalkan Rafa yang masih menatapku.

Aku duduk dengan malu. Segera mengambil ponselku untuk menghubungi Hendy.

Zahra.
"Kau sedang apa sekarang?"

Hendy.
"Mengobrol dengan Faujian,ada apa?"

Zahra.
"Tidak apa - apa"

Hendy
"Nanti di rest area aku ingin meminjam powerbank ya."

Zahra.
"Baik."

Setelah aku menghubungi Hendy, aku kembali bersama teman - temanku.

Sekarang sudah jam 18:00 dan sekarang aku sudah berada di rest area.

Aku keluar bus sambil membawa powerbank.

Saat keluar bus aku lagi - lagi melihat Hendy memasuki toko aksesoris.

Aku berlari berniat untuk menemui Hendy.Tapi langkahku terhenti saat Rafa menarikku.

"Apa?" Aku menoleh kearahnya.

"Makan." Ia menunjuk rumah makan dengan dagunya.

"Tidak mau. aku tidak lapar." Aku berusaha menepis tangan Rafa yang semakin mencengkram lenganku.

Aku dan Rafa berada di tengah - tengah rest area.

Aku malu!

Malu karena aku memiliki kekasih tapi aku seperti selingkuh dengan Rafa mantan kekasihku.

Aku menggigit tangan Rafa lalu berlari lebar.

Aku melihat ke belakangku, ia meringis kesakitan tapi tak berusaha mengejarku.

BRUK.

Saat aku menoleh ada Hendy didepanku dengan tatapan penuh tanya.

"Kenapa kau berlari? Ada apa dengan Rafa? Sedang apa kau disana?" Ia menghunjamku dengan pertanyaannya.

"Ti-tidak apa - apa aku hanya mengobrol sedikit dengannya tadi" Aku terbata - bata sekarang.

Sial!

MomentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang