"mondy " gumam raya. gelagapan. Ia mengatur nafas nya berharap rasa sakit di perutnya berkurang.
"yang? Kamu kenapa? " tanya mondy tiba" lalu menghampiri raya
"t. tidak mon, aku baik " sahut raya gugup
Mondy menatap raya lekat, tapi raya malah tidak membalas tatapan mondy
" jangan bohong ray.. Kamu keringetan gitu " ucap mondy
Raya pun menggeleng,mondy yg melihat itu hanya bisa menghela nafasnya.
"oke.. Kalau kamu tidak mau jujur, sekarang ayo sarapan, aku sudah kangen sama masakan kamu " ajak mondy
Raya hanya mengangguk, ia tidak mau bicara karna takut yg keluar malah ringisan.
Raya pun duduk, sangat pelan sampai" mondy bingung melihatnya.
"ray..? " panggil mondy
"y. Ya?? shhh.. "ringis raya sambil memegangi perutnya
"astaga ray!! Sayang kamu kenapa? " tanya mondy panik
"p. perutku erghh.." sahut raya, semakin lirih
"k. Kamu ray? Mau melahirkan?! Astaga ayo ke rumah sakit " ucap mondy layaknya orang kesurupan karna saking paniknya.
Dan raya pun memegang lengan mondy, kemudian menatap mondy.
"ini hanya kontraksi, aku belum melahirkan " ungkap nya sambil bersender di kursi lalu mengatur nafasnya
"yang? "
"ssstt. ."
Mondy pun diam, ia menatap raya dengan khawatir, kemudian ia meraih tangan raya, menggenggam tangan itu erat, sangat erat. Hingga raya merasakan kalau genggaman itu memberikannya kekuatan terbukti dengan rasa sakit di perutnya mulai menghilang.
"hufhhh... " raya membuang nafas lalu menegakkan badannya,ia menatap mondy yg masih melihatnya dengan tatapan khawatir.
Raya tersenyum,membalas genggaman tangan mondy.
"sudah merasa baikan? " tanya mondy,Raya pun mengangguk.
"alhamdulillah.. " ucap mondy bersyukur kemudian menumpu lutuynya di depan raya.
"wanita hebat " puji mondy lalu mencium kening raya,Dan raya menikmati ciuman mondy dikeningnya sambil tersenyum.
Setelah ciuman itu berakhir mondy beralih ke perut raya, mengelus perut itu kemudian menciumnya sedangkan raya mengelus rambut mondy.
Dia bersyukur karna mondy ada sini bersamanya dan saat seperti ini.
💋💋💋💋
"ray? Sayang? Sudah siap? " ucap mondy dari luar kamar
"iya yang, tunggu " sahut raya, setelah beberapa saat raya pun keluar dr kamarnya.
"ayo " ajak raya, dan mondy mengangguk.
"tapi ray? " ucap mondy tiba"
"kenapa mon? " tanya raya heran
"kamu sanggup jalan? " tanya mondy sambil menahan tawanya
"issh.. Mondy!! Aku kan punya kaki, pasti bisa jalan " gerutu raya sebal.
"aku kan tidak bilang kamu tidak punya kaki, maksudnya kamu tidak keberatan bawa anak kita? " tanya mondy kemudian mengusap perut raya.
Raya pun manyun " tentu saja tidak, dan ini pengorbanan seorang ibu,makanya kamu jangan nyakitin wanita " sindir raya sambil ketawa pelan
" aishh.. Diceramahin istri sendiri " ucap mondy ngedumel sambil menggaruk tengkuknya.
Kini mereka tiba di pemakaman keluarga mondy, raya terus menggandeng mondy sedangkan mondy juga merangkul pinggang raya.
Sampai mereka tiba di sebuah makam yg bertuliskan ,"Vina Aditya " dan disebelahnya "Roy Aditya "
Raya merendahkan badannya disisi makam tsb, termasuk juga mondy.
Raya memandang sedih batu nisan itu, dia tidak menyangka mertuanya meninggal secepat ini.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
"FOREVER WITH YOU"
FanfictionApa yg kamu lakukan Ketika istrimu dipandang Rendah Oleh Keluarga mu? membela istrimu yang sangat Kamu cintai? atau menentang keluargamu?
