Chapter 1 : Beginning

50 10 92
                                        

Tommy terjaga, membuka kedua matanya dengan sedikit paksaan.
Tommy terhenyak pada kejadian yang terasa begitu nyata, dalam mimpinya.

"Peri? Ada-ada saja!"

Tommy beranjak bangun. Dan memasuki kamar mandi.
Ia mengambil handuk kecil berwarna putih yang tergantung disebelah cermin.
Tommy membasuh wajahnya dan kembali menyeka air yang membasahi wajahnya, dengan handuk itu.
Tanpa sengaja, ia menatap kearah cermin yang ada didepannya.
Tommy pun berteriak.

"Akhhhh!!!"

Ia melihat, terdapat seorang pria disudut cermin.
Tommy berlari keluar dari kamar mandi.
Dan menyadarkan dirinya, bahwa semua itu tidak nyata.
Tommy membuka pintu lemari. Tetapi, lemari itu tidak mau terbuka. Dengan sedikit paksaan ia pun berhasil membuka pintu lemari itu.
Dan lagi lagi, ia dikejutkan oleh sesosok pria lainnya yang sedang menatapnya dengan ekspresi lucu.
Tommy pun tersentak jatuh dan pingsan.

***

"Hei... sadarlah!"

"Kok dia tidak mau sadar sih?"

Tommy perlahan mulai sadar dan ia menggosok hidungnya.
Namun, Tommy terkejut. Tepat didepannya terdapat dua pria yang tersenyum.
Hampir saja pingsan lagi, tetapi kini ia dapat menahannya.

"Ka-ka...Kalian siapa?"

"Kami adalah malaikat penjagamu!"

"Kenapa harus aku?"

"Kami tidak sengaja, menemukan dirimu... Kau lupa hal yang kau langgar kemarin?"

***Kemarin***

"Aku menyukaimu" ujar Tommy dengan bersemangat kepada wanita yang didambakannya.

"Maaf! Aku sudah memiliki kekasih. Lagipula kau bukan tipeku."

"Tapi! Aku benar-benar su-"

"Cukup!"

Tommy dengan kesal berjalan tak tentu arah. Orang-orang disekolahnya pun melihatnya dengan aneh.
Matanya memerah dan ia memilih bungkam daripada memberi salam kepada orang-orang terdekatnya, tidak seperti Tommy pada biasanya.

Sampailah ia dibelakang sekolah. Dan tanpa peduli ia terus saja berjalan. Hingga masuk kedalam sebuah hutan bernama "Don't Look Back".
Sesampainya didalam, Tommy duduk disebuah batu.
Dibatu itu juga Tommy mengukir nama wanita yang disukainya dan namanya sendiri.
Lalu, ia pun tersadar dimana ia berada. Dan ia bergegas meninggalkan hutan itu segera.

Tanpa ia sadar, Sebenarnya batu itu bergetar kuat dan keluarlah kedua roh yang terkekang disana.

***

Tommy menggaruk kepalanya dan tersenyum.

"Oh jadi begitu... Salahku kalau begitu!"

"Tentu saja bukan salahmu. Kami seharusnya berterima kasih padamu!"

"Tetapi aku tidak butuh malaikat penjaga atau bodyguard seperti kalian. Terima kasih!"

Tommy berjalan keluar dari kamarnya.
Tommy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tommy berlari kedapur, dan bertemu dengan neneknya.

Happy CupidsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang