Pelinga Itu Milik Kita

39 2 0
                                    

Masih segar dalam ingatan
Awal jumpa dalam ketidak terdugaan
Ihwal renungku kala luka
Bersambut penawar asa

Penawar kala ku tak berdaya
Tergopoh dalam komplikasi liar
Spekulasi tak beretika
Pada pribadi santun yang mulai tercemar

Nampak terasa badai dihadapku
Menari indah menggulung emosi
Sesaat engkau belum ku temu
Pada celah suasana yang lelahkan diri

Badai pun terus ada
Meski aku miliki pegangan
Semakin syahdu mengacau
Porak-porandakan sendi kehidupan
Lalu, aku bertanya pada sosokmu
Apakah akan ku temui pelangi setelah ini?
Engkau jawab, "mungkin lebih dari itu"
Engkau lanjut dalam bertutur
"Sebab aku pun kemarin telah menemukan pelangi
Sesaat setelah badai merangkulku dalam kesenduannya"

Lantas ku kembali bertanya
Apakah sepadan dengan luka-luka yang kini kau bawa?
Jawabmu, "bahkan aku dapati hal yang lebih dari deritaku kala badai itu menyapa". Engkau berkata dengan nada meyakinkan
"Badaimu ini pasti berlalu dan engkau akan dapati pelangi di akhirnya". Aku tersenyum dalam balutan rona pipi memerah sembari balik bertanya
Lantas apa yang kau sebut lebih dari sekedar pelangi itu?
Jawabmu lagi, "Pertemuan kita dan dirimu di sisiku"
Lantas aku semakin kikuk
Dalam ketersipuan yang memuncak
Akibat gelegar petir keindahan menyambar kalbu yang harapkan isi 'tuk tutupi kekosongan.

Engkau berkata lagi, "Setelah badai ini engkau akan temui pelangimu
Seperti hal nya diriku
Dan pelangi itu masih milik kita
Tepat di langit senja yang memerah di sudut pandang mata kita berdua". Sesajak buatmu yang ku rindu

Mujahid Berpena

Sajak-sajak Sang MujahidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang