Di pinggir jalan mereka gunakan untuk saling berdebat. Banyak dari mereka karena rindu tidak perlu marah, sementara isi kepalamu hanya memintaku untuk bertemu. Aku tidak bisa menyamakan pikiranku dengan kamu. Kamu tidak menyadari betapa berharga jika ke harusan untuk bersosial aku dapatkan sepenuhnya, tanpa ada batasan. Rindu memang perlu bertemu, tapi jangan dulu sekarang sangat terlalu singkat.
Sebelum cerita yang lain datang menghampiri, kemudian merusak ingatanku. Sesederhana itu memahami isi kepalaku. Lihat beberapa helai rambutku mulai rontok karena ulahmu, kau terlalu menghawatirkanku dengan sifat yang berlebihan.
"Jelas sekali rambutmu rontok karena kamu menyisirnya pada saat basah." Gumam lelaki tersebut dengan suara pelan.
"Py menatapnya dengan menahan tawa, ia berusaha agar tidak kelhilangan mimik untuk menjelaskannya."
Karena kau sendiri sering lupa bahwa aku punya teman-teman yang tidak sejalan dengan pemikiranmu, bahkan juga dalam hubungan ini. Jika kau berpikir bahwa aku tidak mampu dalam menjalaninya, sia-sia saja kau memahamiku.
"Bukan aku yang sia-sia, mungkin aku butuh waktu. Lagi pula aku tak ingin urat-urat keningku keluar hanya untuk memendam rindu." Ujar lelaki yang mempunyai postur tubuh, dan tinggi badan kira-kira 168cm.
"Sudah berapa kali aku memintamu, sambil bergerak maju, lelaki yang berkumis tipis, kemudian menatap tanpa menoleh sedikit pun dari hadapan Cee Karol Py, ia seperti kehilangan kesadaran, matanya mulai merah.
"Jangan bermaksud meretas pikiranku dengan persoalan cinta. Py memohon dengan merapatkan kedua tangannya didepan dada, dengan wajah yang kusut, rambutnya mulai terurai berantakan." Tidak sedikit energi yang harus ku keluarkan hanya untuk memikirkanmu, kali ini aku ingin lepas.
"Lalu sebanyak apa energi yang kau keluarkan, ketimbang seharian aku memikirkanmu tanpa jeda jam sedikit pun."
"Terlalu banyak yang harus aku kerjakan, kamu bisa berkata apa saja tentangku." Suara itu segera membuat Py marah pada lelaki yang berkumis tipis itu. Tapi, selama aku tak melihatmu aku tak bisa lepas dari rasa kawatirku."
"Apa yang perlu dikawatirkan?"
"Aku tak ingin kau mencintaiku tetapi melemahkan keberadaanku, kata Cee Karol Py dengan tegas, bukankah orang jujur tidak perlu menghakawatirkan kejelasan." Lelaki itu diam tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Sambil memperhatikan daun-daun yang gugur.
"Ikut aku sekarang, kita pergi cari tempat untuk membagi waktu, hidupku tidak selalu berada di rana cinta terus-menerus."Wajah lelaki itu sejenak mendadak memerah.
"Ini sebabnya, kita sama-sama cari. Aku kehilangan pikiran jernih, jangan membuat aku terus memendamnya, ak ingin selesai hari ini juga". tegas Cee Karol Py.
Masih ada waktu lain, apakah kau tidak merasa menyesal. Ketika masa mudamu hanya untuk memikirkan pasangan saja, tolong catat ini.
"Kertas ini untuk apa?"
"Kita akan berjanji untuk tidak menipu diri sendiri, tujuannya untuk diri sendiri, aku pun demikian." Lelaki itu meyambar kertasnya dengan muka tak berenergi.
"Biar aku yang menyimpannya. Jangan lupa cantumkan nama. Sudah lama ingin kukatakan padamu."
"Kertas ini hanya mencoba mengabadikan, mungkin ini sebagai penguat apa yang dipikirkan orang-orang diluar sana."
"Sudah lama juga aku ingin menuliskan sesuatu untukmu, pada akhirnya kamu yang memberi tawaran di awal."
"Seharusnya kita dengan posisi sekarang saling mendukung satu sama lain. Bukan sebaliknya." Aku harus pergi, Cee Karol Py meninggalkan lelaki itu dengan buru-buru."
Cee Karol Py terpikir kalau ia belum sempat membaca apa yang ditulis Jerri, segera mengambil tas yang terletak di atas meja, langkah kakinya seperti ragu-ragu untuk membacanya, ia diam beberapa saat sebelum memutuskan untuk membacanya. Ia langsung terkejut dan gigit jari setelah membaca tulisan dari lelaki itu.
"Mimpiku hanya untuk mendengarkan kamu marah, mendengaran kamu mengeluh. Sebab apa yang lebih indah daripada membiarkan air matamu jatuh, beri tahu aku sayang?" Py langsung geleng-geleng kepala sambil mengambil koleksi bukunya, ia meletakan selembar kertas di antara sela-sela buku itu. Ia tidak serius, kertas pertama yang kami tuliskan, hanya sebuah lelucon yang bisa setiap hari aku ingat.
Namun hal itu dapat membentuk sesuatu pengalaman baru, untuk saling melengkapi, jawab Cee Karol Py, dengan memandang kertas itu. Sambil senyum di antara dua jendela dibalik kamar, memandang langit yang tak kunjung memberi tanda akan semesta yang di taburi bintang-bintang.
Bagiku ini juga adalah cinta, bukan hanya kebutuhan emosi yang aku ingin dapatkan. Itu yang terpatri dipikiran Py. Tapi aku tak bermaksud memandang si kumis tipis sebagai pemenuh kebutuhan emosi, sifatnya kadang kekanak-kanakan, bagiku itu adalah hal yang wajar.
Tidak butuh waktu yang lama untuk membangun pikiranku saat ini, karena adalah salah satu sahabat yang menjadi ukuranku mengenai prinsip, tapi jarang aku meluangkan waktu untuknya.
Terlalu banyak hal yang terjadi, ini bukanlah suatu relativitas yang tiba-tiba datang membangun kehidupanku, ini adalah hasil pencarian, karena hidup ini tak beda jauh dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.
Ada salah satu kawan aku, bahwa ada beberapa orang yang berpadangan tentang ia, kalau ia benar-banar gila. Setelah aku telusuri dan berdiskusi dengannya, ia bahkan baik-baik saja. Aku sama sekali tidak lihat keganjilan dalam hidupnya, mungkin padangan orang lain tentangnya tidak seirama. Itulah sebabnya stigma keburukan, karena perbedaan pendapat dan cara pandang saja.
Aku tidak menghubungi Airi selama berbulan-bulan, karena kondisiku saat ini dalam keadaan buruk. Aku tak ingin menceritakan apa yang menjadi kegelisahanku kalau ia benar-benar tahu masalah ini. Kami punya pemahan sendiri tentang buruknya menjalani suatu hubungan, yang mungkin saja masih belum matang.
Tapi, tak bisa ku rasionsalkan. Karena pemahaman dari luar dan lain sebagainya yang membuatku ingkar. Ini mungkin berita buruk pada Airi. Tapi, tidak untukku. Bukankah ini cukup adil untukku? Tapi, tidak untuk kamu Airi.
Apalah arti kebebasan ketika orang di sekitarku masih juga tersakiti. Aku merasa bersalah.

KAMU SEDANG MEMBACA
THEOPHILIA
RomanceApakah waktu membiarkannya harus berpikir lebih dari dua kali, hatiku tak ingin lagi berkelana, aku telah dipasak oleh beberapa rindu. Dari sekian banyak waktu untuk memikirkannya. Ia seperti resolusi segala hal akan cinta. Membentuk sel-sel rindu d...