5. AC Alami

1.6K 242 31
                                        

Rumah Eyang Jangkung sangat luas dan dingin. Aku, Tante Irma dan Om Ghani tiba di rumah Eyang Jangkung saat adzan maghrib.

Om Ghani memeluk Eyang Jangkung dan Eyang Putri, sementara Tante Irma hanya menyalami mereka.

Eyang Jangkung memelukku, lalu mengacak rambutku. Oh iya, Eyang Jangkung nggak pernah menciumku semenjak aku belajar bersama Bu Guru Eli. Katanya seperti anak kecil. Jadi dia cuma mengacak rambutku. Aku kadang heran, aku kan memang masih anak kecil, Bunda juga masih sering menciumku. Eyang Jangkung aneh.

"Bian sudah makan, Nak?"

"Tadi siang makan cah kangkung sama ati goreng bikinan Bunda, Yang."

"Eyang masak sup ayam dan perkedel jagung. Bian mau nggak?"

"Perkedel jagung itu kayak gimana, Yang?"

Eyang Putri tertawa, ia mengajakku menuju ruang makan dan menunjukan perkedel jagung buatannya.

Eyang Putri tertawa, ia mengajakku menuju ruang makan dan menunjukan perkedel jagung buatannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kok jagungnya nggak kaya jagung bakar yang aku beli, sih, Eyang?"

"Ya beda lagi dong, sayang. Ini cuma diambil biji jagungnya saja,"

Aku cuma mengangguk saja. Biji jagungnya pasti di lepas dari batang jagung yang keras.

Tante Irma, Om Ghani dan Eyang Jangkung menyusul kami ke ruang makan. Om Ghani duduk dekat Eyang Putri, sementara Tante Irma duduk di sampingku.

Aku melongok, mencari Bunda. Soalnya tadi siang Bunda bilang mau menyusulku kerumah Eyang Jangkung, sedangkan sekarang sudah malam. Aku takut Bunda nanti nyasar, soalnya jalan menuju rumah Eyang Jangkung gelap, nggak banyak rumah orang juga, kebanyakan kebun teh dan bunga krisan.

"Eyang," Eyang Putri menoleh, "kenapa, Nak?"

"Bunda mana?"

Nggak ada orang yang menjawab pertanyaanku. Semuanya malah diam. Aku menarik baju Tante Irma dari samping, "tante, Bunda mana?"

Tante Irma nggak juga menjawab. Wajahnya malah menunduk. Aku bingung.

"Bunda nyusul besok pagi, Nak." Eyang Jangkung menyahut saat semua orang diam. Aku menunduk lesu. Sejujurnya aku kecewa karena Bunda malam ini nggak kesini. Aku nggak tahu akan tidur dimana dan dengan siapa disini. Kalau ada Bunda, kan, aku bisa tidur sama Bunda di kamarnya.

Kamar Bunda dirumah Eyang Jangkung itu sama besarnya sama kamar yang ada di rumah kami. Bedanya cat tembok kamar disini lebih bagus.

Selesai makan malam, Tante Irma masuk ke kamar tamu, Om Ghani masuk ke kamarnya juga. Sedangkan Eyang Jangkung masih duduk di ruang tengah dan membaca. Aku ingin menghampirinya, tapi nggak jadi. Soalnya kalau lagi baca buku terus di ganggu itu nggak asyik. Jadi aku memutuskan untuk nggak mengganggu Eyang Jangkung.

"Bian sudah mau tidur, ya?"

Aku mengangguk. Eyang Putri mengantarku menuju kamar Bunda setelah membereska meja makan.

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang