3. Om Ghani

1.8K 272 85
                                        

Hari ini Bunda sudah ingat cara memasak. Buktinya sekarang Bunda sudah buat nasi goreng untuk sarapan. Tante Irma juga ada di rumahku. Kayaknya Tante Irma menginap di rumah, deh. Bunda dan Tante Irma sedang mengobrol di depan meja kompor. Aku nggak tahu kenapa orang dewasa ngobrol di depan meja kompor. Padahal disana tempatnya panas.

"Eh, Bian udah bangun, ya ...." Tante Irma menyapaku duluan sebelum Bunda ikutan menyapa dan mencium kepalaku.

"Bian mau sarapan?"

Aku mengangguk. Aku lapar. Aku ingin sarapan.

Bunda menyajikan sepiring nasi goreng, sosis dan telur ceplok di hadapanku. Benar-benar bikin lapar. Apalagi sosisnya. Aku segera saja sarapan. Bunda dan Tante Irma juga ikutan sarapan. Bunda banyak mengobrol dengan Tante Irma. Aku sebenernya heran, kenapa orang dewasa sangat suka mengobrol. Kadang sampai terbahak-bahak kalau bicara. Padahal, kalau begitu kan omongannya jadi nggak jelas. Bicara, atau ketawa?

"Mbak, Mas Ghani mau kesini katanya nih. Nanti siang, jam dua belasan."

"Eh? Masa? Kok nggak ngabarin aku sih?"

"Dia barusan sms. Nanti kita siap-siap aja."

Aku menyimak obrolan mereka sambil sarapan. Begitu sosisku tertelan, aku menanyakan siapa Mas Ghani yang Tante Irma maksud.

"Tante, Mas Ghani itu Om Ghani, ya?" Tante Irma mengangguk. Ia tersenyum lebar.

"Iya, Om Ghani mau kesini nanti siang. Bian mau di bawain apa sama Om Ghani?"

"Bian mau buku gambar kayak yang dikasih Eyang Jangkung, boleh? Soalnya buku gambar yang kemarin habis di coret-coret Bunda ...."

Tante Irma mengangguk. Aku tersenyum lebar. Sementara Bunda nggak banyak bicara seperti biasanya. Mungkin kali ini Bunda lupa cara bicara. Entahlah, Bunda orangnya sering lupa.

******

Om Ghani datang saat Axel Si Nakal pulang sekolah. Aku heran kenapa Om Ghani bisa datang bareng dengan Axel Si Nakal. Aku ingin bertanya, apakah Om Ghani sekolah kayak Axel Si Nakal juga?

"Halo, Bian! Lagi ngapain? Kok melamun?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Bian nggak melamun, tapi, Bian habis berpikir."

"Mikirin apa emangnya?"

"Om Ghani kenapa bisa bareng Axel? Om Ghani sekolah bareng Axel?"

Bukannya menjawab pertanyaanku, Om Ghani malah tertawa. Ck. Kenapa sih, banyak orang dewasa yang ketawa pas aku nanya? Memangnya pertanyaanku lucu, ya?

"Om Ghani kerja. Terus jam istirahatnya bareng sama jam keluar sekolahnya Axel,"

"Emangnya bisa barengan kayak gitu? Axel juga kerja, dong?"

"Axel sekolah, Bian. Om Ghani yang kerja."

Aku mengangguk saja deh. Daripada Om Ghani betè, nanti dia kayak Bunda. Lupa sama segala hal dan teriak kayak Bu Risol dan anjing Pak Nugi.

******

Aku nggak tahu apa yang di obrolkan oleh Tante Irma, Om Ghani dan Bunda. Yang kedengaran bahasa-bahasa aneh seperti disorder, mania, down dan bahasa-bahasa lain yang nggak aku pahami. Mungkin nanti kalau aku baca buku cerita lagi, bahasa itu punya arti.

Oh, iya. Om Ghani sudah memberikan buku gambar baru untukku. Nggak seperti buku gambar dari Eyang Jangkung, sih. Cuma masih bisa dipakai menggambar. Om Ghani juga membawa krayon untuk mewarnai. Sementara dulu Eyang Jangkung memberiku pensil warna.

Bicara soal Eyang Jangkung, Eyang Jangkung itu Ayahnya Bunda. Jadi tahun lalu, saat aku ulang tahun, Bunda dan Tante Irma membawaku kerumah Eyang Jangkung di gunung. Tempatnya dingin, banyak kebun teh dan hujan terus. Beda sama rumahku disini. Disini jarang hujan dan tidak dingin (kecuali kalau AC di nyalakan). Aku jadi pernasaran, mungkin di rumah Eyang Jangkung AC di simpan di luar ruangan, jadi semua tempat dingin.

Eyang Jangkung tinggi sekali. Aku hanya sejajar dengan perutnya. Sementara Eyang Jangkung tinggi menjulang, Eyang Putri justru pendek. Dia hanya sebahu Bunda. Eyang Putri orangnya baik. Dia nggak pernah lupa cara memasak, tersenyum, dan mencium. Beda dengan Bunda.

"Oh, iya. Brian nggak nunjukin reaksi aneh-aneh pas Mbak down?" Nah, Om Ghani bilang down lagi. Om Ghani hari ini sering bilang down.

"Mungkin, nggak. Aku kemarin cuma menggambar. Sampai capek sendiri."

"Gimana kalau Brian kita bawa ke Pangalengan aja? Kayaknya lebih baik, deh. Mama sama Papa juga bakal ngurusin dia." Kali ini Tante Irma juga bicara. Aku nggak tahu siapa Mama dan Papanya Tante Irma. Soalnya nggak pernah ketahuan.

"Nggak. Jangan bawa Brian. Aku nggak mau disini sendirian."

Tiba-tiba Bunda memelukku kencang. Aku yang lagi menggambar kucing sempat kesal. Soalnya telinga kucingku jadi panjang sebelah.

"Bunda ..." keluhku, tapi Bunda nggak melepaskan pelukannya. Om Ghani dan Tante Irma tersenyum kearahku. "Bunda, Bian lagi gambar. Jangan peluk!"

"Tapi Bunda mau peluk Bian!"

Aku akhirnya diam saja, membiarkan Bunda memelukku. (Kalau aku lepas pelukannya tiba-tiba, aku takut besok Bunda lupa cara memelukku lagi)

******

Om Ghani dan Tante Irma ternyata menginap di rumahku. Malamnya Om Ghani membuat sosis bakar, bakso bakar dan ayam bakar. Tante Irma bilang kalau ini acara barbekyu. Aku nggak ngerti kenapa yang dibakar harus di sebut barbekyu. Padahal, kalau sampah dibakar tidak disebut barbekyu.

"Bian mau apa? Sosis? Ayam? Atau bakso?" Aku menunjuk ketiganya karena aku memang suka semuanya. Bunda mengambilkannya untukku, lalu menyuapiku.

"Enak nggak?"

"Enak, Bunda."

"Bian mau tinggal sama Bunda atau sama Eyang Jangkung?"

"Mau sama Bunda dan Eyang Jangkung, bisa?" Tanyaku. Bunda menggelengkan kepalanya. "Bian harus memilih. Bunda atau Eyang Jangkung?"

Aku berpikir. Kenapa aku harus memilih kalau Bunda bisa ke rumah Eyang Jangkung? Kan jadinya bisa tinggal bersama. Nggak usah pisah-pisah.

Aku akhirnya menunduk, lalu mencomot sedikit daging ayam yang dibakar Om Ghani.

"Bian mau sama Bunda aja. Soalnya kalau Bian ikut Eyang Jangkung, Bunda bisa kesepian."

Aku nggak tahu apa kesalahanku, tapi setelah bicara seperti itu, Bunda malah memelukku erat-erat (lebih erat dari tadi siang) dan menangis.

Huh, orang dewasa memang sangat membingungkan.

******

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang