Sampai larut malam Eyang Jangkung dan Eyang Putri nggak juga datang ke rumah. Bi Yah yang biasanya pulang sore hari juga kali ini menginap di rumah. Bi Yah banyak cerita tentang Lutung Kasarung, Sangkuriang, dan Ciung Wanara. Aku suka mendengar cerita Bi Yah.
"Den Bian, tidur ya. Udah malem. Nanti besok di lanjut lagi ceritanya."
"Eyang Putri sama Eyang Jangkung nggak pulang, ya, Bi?"
Bi Yah menggelengkan kepalanya. "Eyang harus nginep di Pabrik. Banyak banget kerjaan disana,"
"Emang di pabrik ada kasur sama selimut?"
Bi Yah tersenyum lebar dan mengangguk.
"Ada kok, Eyang nggak akan kedinginan di pabrik. Den Bian tenang aja,"
"Tenang gimana?"
"Pokoknya tenang. Den Bian tidur sekarang. Besok Eyang Putri sama Eyang Jangkung pasti datang."
"Uhm ... oke deh,"
Bi Yah tersenyum lebar, lalu dia keluar dari kamarku.
Sepertinya, selain nyasar, Eyang Putri dan Eyang Jangkung juga hilang.
*******
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan buru-buru keluar kamar untuk mencari Eyang Putri. Tapi ternyata nggak ada. Begitupun Bi Yah. Semua orang menghilang lagi. Aku sekarang benar-benar ingin menangis.
Aku kebingungan. Diantara banyak tempat, kenapa aku harus sering ditinggalkan sendirian? Aku nggak tahu kenapa orang-orang sering menghilang. Dengan menahan tangis, aku membawa ransel yang berisi perlengkapan pergi dan keluar dari rumah. Aku harus pergi. Aku harus mencari orang. Kikan sepertinya bisa membantuku.
Pelan-pelan aku berjalan keluar rumah melewati pintu belakang dan memutari gazebo untuk menuju rumah Kikan. Sesampainya disana, ada Ibu Kikan yang sedang menyusun kayu bakar di samping rumah. Aku menghampiri Ibu Kikan dan menanyakan Kikan. Tapi Ibu Kikan malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain bernada marah.
"Mau ngapain nyari Kikan?!"
"Aku mau main sama Kikan."
"Nggak ada! Kikannya masih tidur."
"Ya udah, aku tungguin dia disini aja."
"Nggak. Sana pulang! Nanti Bu Mandor ngomel lagi. Saya nggak mau kena omel Bu Mandor gara-gara cucunya yang bandel!"
Aku mengerutkan keningku heran. "Siapa yang bandel? Aku nggak bandel, kok."
Ibu Kikan malah melotot seram. Seperti Bunda kalau sedang lupa. Aku menundukkan kepalaku.
"Aku cuma mau main sama Kikan, Bu. Di rumahku nggak ada orang." Aku berujar pelan karena takut dan menahan tangis. Ibu Kikan nggak bicara lagi. Tapi aku melihat kakinya yang menjauh.
Kayaknya aku nggak bisa main dengan siapapun hari ini.
Aku memutuskan untuk duduk diatas tanah. Ibu Kikan nggak muncul lagi sampai aku selesai menggambar planet-planet dan pohon di tanah.
"Hei!" Aku mendongak, melihat siapa yang bersuara.
"Kikan!"
"Jangan berisik!" Aku menutup mulutku cepat-cepat. Kikan menarik tanganku sambil berlari menyusuri kebun teh.
"Kita mau kemana?"
"Ke danau lagi."
"Berhenti dulu. Aku capek."
Kikan nggak berhenti. Dia masih tetap bergerak. Tapi nggak lari seperti tadi. Aku mengikutinya dari belakang.
"Ibu kamu nggak tau kalau kita pergi?" Kikan menggelengkan kepalanya. "Ibu aku lagi tidur. Kamu juga, emang udah izin sama Eyang kamu?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Semua orang di rumahku hilang. Aku nggak tau mereka kemana."
"Kenapa mereka sering hilang?"
"Aku juga nggak tau."
"Aneh."
"Mereka cuma nyasar, nggak aneh." Ujarku kesal. Kikan malah tertawa, "orang dewasa yang suka nyasar itu aneh, Bian. Soalnya mereka udah pintar."
"Emang orang pintar gak boleh nyasar?"
"Orang pintar itu seenggaknya udah ngerti sama segala hal. Jadi nggak mungkin nyasar!"
Aku nggak ngerti sama ucapan Kikan. Kenapa orang pintar dan orang dewasa nggak boleh nyasar. Mereka, kan, suka lupa. Jadi nggak aneh dong, kalau mereka nyasar?
Kikan aneh. Dia benar-benar orang dewasa jadi-jadian.
******
Kami sampai di danau sore hari. (Aku tahu sekarang sore karena cahaya matahari mulai redup. Tandanya sudah sore)
Aku dan Kikan duduk di pinggir danau sambil makan bekal yang kubawa tadi. Kikan ternyata nggak suka egg roll yang aku bawa, gantinya dia cuma makan apel dan pisang.
"Aku mau disini sampai malam. Aku mau lihat ayahku."
Kikan berhenti makan apelnya, "kenapa ayah kamu cuma ada malam-malam?"
"Kata Eyang Putri, ayahku serbuk bintang. Jadi munculnya malam."
"Dulu kamu bilang Ayah kamu kue, yang benar yang mana?"
"Kayaknya yang benar itu serbuk bintang. Soalnya kalau kue kan bisa di buat kapan aja. Beda sama serbuk bintang."
"Bukannya ayah itu harus ada kapan aja, ya?"
Aku menggelengkan kepalaku, "ayahku nggak gitu. Bapak kamu juga nggak ada kapan aja, kan?"
"Itu karena Bapakku udah ada disini. Di danau ini."
"Gimana cara kita tau Bapak kamu ada disini?"
Kikan menepi ke tempat kering. Dia menaruh apelnya dan membuka sendalnya.
"Kita harus menyelam. Sebentar lagi malam. Serbuk bintang juga bakal muncul. Kayaknya ayah kamu juga disana sama Bapakku."
Aku berpikir sebentar, lalu mendongak ke langit yang sudah mulai menghitam. Kayaknya, Kikan benar. Ayahku dan Bapaknya ada di dalam danau.
Aku akhirnya mengikuti Kikan, melepas sepatuku. Kikan meraih tanganku.
"Kita harus pegangan. Biar bisa ketemu ayah bareng-bareng."
Sebenarnya, aku agak takut. Danau kali ini kelihatan berwarna biru gelap. Seperti ilustrasi jurang dalam buku cerita. Pelan-pelan kami melangkah mendekati danau.
"Kita loncat dari batu itu, bareng-bareng." Aku mengangguk. Setelah memejamkan mataku, aku merasa melayang, lalu masuk ke ruangan dingin yang nggak ku ketahui apa namanya. Aku nggak bisa bernapas, genggaman tangan Kikan juga mengerat, bersamaan dengan dingin dan sesak.
Pelan-pelan aku merasa bebas. Aku nggak merasakan sesak lagi, Kikan juga sudah melepaskan genggaman tangannya.
"Buka mata kamu, Bian." Bisikan Kikan menuntunku untuk membuka mata. Di depanku ada tembok besar seperti ilustrasi di buku Stardust. Ada dua laki-laki yang melambaikan tangannya kearah kami.
"Itu ayah kamu, Bian!"
******
The End.
******
Regards,
A B E
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberry Cheesecake
General Fiction"Sometimes life like strawberry cheesecake, too much flavor but they just a piece of cake." -Anonymus- Bian nggak pernah tahu kenapa Bundanya nggak menyusulnya kerumah Eyang Jangkung. Dia tahu Bundanya pelupa, tapi kenapa Bunda bisa lupa setiap hari...
