"Sometimes life like strawberry cheesecake, too much flavor but they just a piece of cake." -Anonymus-
Bian nggak pernah tahu kenapa Bundanya nggak menyusulnya kerumah Eyang Jangkung. Dia tahu Bundanya pelupa, tapi kenapa Bunda bisa lupa setiap hari...
Pulang dari danau di tengah hutan pinus, aku baru menemukan kembali orang-orang. Bi Yah dan Eyang Putri kelihatannya habis menangis, mata mereka merah. Terus mereka juga sesenggukan kayak aku tadi pagi pas nangis.
Begitu aku memasuki halaman rumah, Eyang Putri langsung berlari lalu memelukku erat-erat. Kini aku tahu kebiasaan lain yang di lakukan orang dewasa pada anak kecil. Mereka suka memeluk anak kecil erat-erat. Nggak peduli anak kecilnya sesak napas.
"Bian darimana saja? Eyang cari Bian kemana-mana ..." Eyang Putri berujar usai melepaskan pelukannya, ia mengelus rambutku.
"Aku habis menjelajah sebentar. Soalnya Eyang dan orang-orang hilang pas aku bangun tidur, jadi aku menjelajah."
"Menjelajah kemana?"
"Ke tempatnya Ayah Kikan."
"Ayah Kikan?"
Aku mengangguk, Eyang Putri kelihatan heran, tapi aku lagi nggak mau menjawab pertanyaannya karena capek. Jadi, aku memutuskan untuk masuk ke rumah menuju kamar bunda.
******
Hari ini Eyang Putri nggak masak karena dia seharian pergi, katanya. Sebagai gantinya, Eyang Putri membeli pizza dengan banyak keju mozarella.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku selalu suka pizza, strawberry cheesecake dan bubur sumsum. Semuanya enak. Aku juga suka kue lumpur (meskipun nggak ada lumpur dalam kuenya, kue itu tetap disebut kue lumpur) dengan taburan kismis diatasnya.
"Bian tadi kenapa main sama Kikan?"
"Di rumah nggak ada orang, Eyang. Aku nangis, dan Kikan akhirnya ngajak aku main." Sahutku. Eyang Putri meminum jus jeruknya sebentar, "Bi Yah, kan, di rumah juga?"
"Nggak ada siapapun. Bi Yah juga nggak ada. Aku nggak tahu Bi Yah, Pak Yono, Eyang Putri dan Eyang Jangkung ngumpet dimana. Jadi, aku nggak nemuin kalian semua."
"Maafin Eyang ...."
"Kenapa harus minta maaf?"
"Karena Eyang pergi tanpa ngajak Bian."
"Aku kira Eyang bakal minta maaf karena ngumpet terlalu jauh dari rumah." Sahutku, "tapi, nggak apa-apa, deh. Dengan Eyang nggak ngajak aku pergi, aku bisa menjelajah sama Kikan."
Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Eyang Putri diam. Dia lantas nggak bicara lagi denganku dan malah membereskan meja makan. Padahal pizza ku belum habis. Eyang Jangkung juga nggak banyak bicara. Kalau sedang di rumah Bunda, suasana begini terjadi saat Bunda lupa. Kami akan saling diam sampai Bunda mengingatku dan menangis karena aku minta makan.
Karena aku keburu takut Eyang Putri lupa dan berteriak seperti Bunda, aku memutuskan untuk segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Aku memilih untuk kembali membaca buku penjelajahan di kamar Bunda.
******
Paginya, aku menemukan Eyang Putri dan Bi Yah yang sedang masak di dapur, aku duduk di meja makan, menunggu Eyang Putri selesai memasak. Kami nggak banyak berbicara seperti sebelumnya. Aku cuma sarapan, setelahnya aku kembali ke kamarku untuk mandi.
"Bian,"
"Bian lagi mandi, Eyang." Sahutku dari kamar mandi. Eyang Putri nggak memanggilku lagi. Setelah tanganku keriput, aku selesai mandi lalu ganti baju. Bi Yah bilang, Eyang Putri menungguku di gazebo.
"Bian sudah wangi," aku tersenyum. "Bian, kan, udah mandi. Jadi wangi."
"Bian, Eyang ingin bicara." Aku duduk di hadapan Eyang Putri dan menatap matanya lurus-lurus, "Eyang, kan, udah bicara daritadi."
Eyang Putri tersenyum, ia mengelus kepalaku.
"Bian, Eyang nggak mau kamu menjelajah kayak kemarin."
"Kenapa?"
"Karena menjelajah itu nggak baik."
"Kata buku yang ku baca, menjelajah itu baik. Apalagi untuk anak lelaki."
"Buku itu bohong."
"Buku nggak bisa bohong, Eyang. Yang bisa bohong itu orang dewasa."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"
"Kata Kikan, ibunya suka bohong. Jadi, yang berbohong itu orang dewasa. Bukan buku."
"Eyang nggak mau kamu main sama Kikan lagi, Bian."
"Kalo aku nggak boleh main sama Kikan lagi, kenapa dulu Eyang nyuruh aku kenalan sama Kikan?"
Eyang Putri nggak menjawab pertanyaan terakhirku, dia malah masuk ke rumah dan meninggalkanku sendirian di gazebo. Aku duduk sambil melihat punggung Eyang Putri. Ku pikir Eyang Putri nggak seaneh orang dewasa lain, ternyata Eyang Putri sama seperti orang dewasa lainnya. Aneh.
******
Seharian aku cuma duduk-duduk di gazebo sambil melihat ibu-ibu pemetik teh dan bunga lewat dan menyapaku. Aku balas menyapa mereka dan melambaikan tanganku.
"Brian," aku menoleh ke belakang, ada Eyang Jangkung yang menghampiriku, dia duduk di belakangku, lalu ikutan maju dan melihat kebun teh.
"Kenapa kemarin kamu menjelajah sendirian?"
"Bian menjelajah sama Kikan. Nggak sendirian, Eyang." Sahutku. Eyang Jangkung mengangguk-angguk, kayak bunga-bungaan di dashboard mobil.
"Kamu menjelajah kemana?"
"Ke tempat Ayah Kikan." Eyang Jangkung kedengaran menghela nafasnya, ia menyentuh bahuku. "Brian, dengar Eyang ... Ayah Kikan itu sudah nggak ada. Dia sudah meninggal,"
Aku menoleh, "nggak. Ayah Kikan nggak meninggal. Dia hilang di danau."
"Eyang pernah lihat Ayah Kikan di pemakaman." Aku menoleh ngeri. Pemakaman adalah hal yang cukup menakutkan buatku. Soalnya aku pernah melihat gambar pemakaman di buku ilustrasi. Disana suasananya gelap, orang-orang pakai baju hitam dan menangis diatas tanah. Pokoknya gambarnya menyeramkan. Aku nggak suka pemakaman.
"Kikan bilang, Ayahnya ada dibawah batuan di danau."
"Dan itu berarti Ayah Kikan udah nggak ada lagi, Brian."
"Eyang bohong, ya?"
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Eyang Jangkung. "Karena semua orang dewasa itu suka berbohong dan pembohong." Sahutku pelan. Sejujurnya, aku benar-benar kecewa sama orang dewasa yang ada di sekitarku. Mereka selalu berbohong kepada anak kecil, dan saat mereka bohong, mereka nggak sadar kalau semua yang mereka lakukan kelihatan aneh.
******
EHEHE maap slow update. Aq abis TO dan harus ngejar banyak materi buat SBMPTN :") *balada anak pindah jurusan begini nih T,T* harap maklum yha :') nanti kalau aq gabuts aq akan coba utk update lanjutannya. Salam sayang dan jangan bohong ya! :*