6. Bunda Lupa

1.5K 239 42
                                        

Sore ini Eyang Putri memasak air untukku mandi. Kata Eyang Putri, kalau tidak mandi pakai air hangat, nanti bisa masuk angin.

"Kok masuk angin, Yang?"

"Iya, kalau mandi air dingin nanti masuk angin."

"Angin nya masuk lewat mana?"

"Lewat dinginnya air,"

Aku melamun sebentar. Air dingin bisa bikin masuk angin? Terus kalau jus jeruk yang aku minum, gimana? Bisa bikin masuk angin juga? Kan jus pakai air dingin ....

"Berarti jus jeruk juga bisa bikin masuk angin, ya, Yang?"

"Kok jus jeruk, sih?"

"Kan jus jeruk air nya dingin, berarti bisa bikin masuk angin juga, dong ...."

"Bian, jus jeruk nggak bikin masuk angin. Jus jeruk, kan, air nya matang, sengaja di buat dingin. Bukan asli dingin. Beda sama air buat mandi."

"Air buat mandi itu dinginnya asli? Aku kirain karena AC alami ...." pikirku.

"AC alami?"

"Kata Om Ghani disini dingin karena AC alami, Eyang,"

Eyang Putri cuma tersenyum, nggak tertawa seperti Eyang Jangkung dan Om Ghani tadi siang. Aku senang, Eyang Putri nggak menganggap lucu ucapanku.

"Nggak ada AC alami, disini itu dingin karena kita ada di dataran tinggi. Karena dataran tinggi dekat dengan sumber oksigen, jadi dataran tinggi lebih sejuk. Beda sama dataran rendah, disana panas. Soalnya, jauh sama sumber oksigen. Selain jauh, dataran rendah juga lebih padat penduduk."

"Oksigen itu apa?"

"Oksigen itu udara buat kita bernafas,"

Aku senang, Eyang Putri kalau ditanya nggak betè dan bisa menjawab pertanyaanku tanpa ketawa.

"Sebentar, Eyang ambil air panasnya dulu, Bian tunggu, ya."

Aku mengangguk. Eyang Putri sibuk menuangkan air panas ke bak mandi ku.

"Airnya sudah hangat, Bian coba deh, sini."

Aku menuruti kata-kata Eyang Putri dan mencoba air hangat dalam bak. Rasanya lebih menyenangkan dari mandi yang biasa ku lakukan setiap hari.

******

Setelah mandi, aku membantu Eyang Putri memasak untuk makan malam. Eyang Putri mau memasak tumis sayur pohon dan ayam kecap. Aku ingat, tadi sempat diberi sayur pohon oleh salah satu teman Eyang Jangkung  di kebun. Selain sayur pohon, ada orang yang memberi kami wortel juga. Jadi, Eyang Putri masak tumis sayur pohon pakai wortel dan ayam kecap.

 Jadi, Eyang Putri masak tumis sayur pohon pakai wortel dan ayam kecap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bian mau nyobain sayurnya, nggak?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bian mau nyobain sayurnya, nggak?"

Aku mengangguk antusias. Eyang Putri mengambil piring kecil untukku dan mengisinya dengan tumis sayur pohon.

"Enak?"

"Enak, Yang!"

Eyang Putri tersenyum lebar. Aku suka memasak! Eyang Putri baik dan suka memasak.

"Eyang, Bunda nyasar, ya?" Tanyaku pelan. Eyang Putri sudah selesai menata meja makan dan menghidangkan masakan buatannya.

"Kok nyasar?"

"Kan, rumah Eyang jauh, terus kadang-kadang gelap. Bunda kayaknya nyasar, deh. Jadi dia nggak nyampe-nyampe kesini,"

Eyang Putri nggak menjawab, dia malah memelukku erat-erat dan mencium kepalaku.

Ternyata Eyang Putri tetaplah orang dewasa yang aneh.

Aku membiarkan Eyang Putri memelukku meski Eyang Putri nggak pelupa seperti Bunda. Setelah agak lama, Eyang Putri akhirnya melepaskan pelukannya. Dia mengusap pipinya cepat-cepat.

"Pipi Eyang kenapa?"

"Nggak, pa-pa, Sayang."

"Eyang, apa Bunda lupa jalan kerumah Eyang? Bunda, kan, pelupa,"

"Iya, Bunda lupa kayaknya. Nanti kalau Om Ghani sama Tante Irma ke Jakarta lagi, Eyang bakal suruh mereka jemput Bunda, gimana?"

"Emang Om Ghani sama Tante Irma nggak tinggal disini?"

"Nggak, kan mereka bakal Eyang suruh jemput Bunda, boleh, kan?"

Aku mengangguk antusias, lalu mendekati Eyang Putri dan mencium pipinya. "Terimakasih, Eyang."

******

Selesai makan malam semua orang dewasa berkumpul di ruang tengah, aku sibuk menyusun puzzle di karpet. Eyang Jangkung, Eyang Putri, Tante Irma dan Om Ghani kayaknya lagi mengobrol serius, soalnya nggak ada yang tertawa (kata Bunda, orang serius itu jarang ketawa).

"Mah, Kak Ghina itu bipolar, dan penyakitnya nggak tahu kapan bisa kambuh. Bisa aja tiba-tiba lagi masak dia kambuh, kita nggak tahu. Kemarin, pas bipolarnya kambuh, Brian nggak dikasih makan seharian. Di biarin aja. Menurut Mamah, kalo Brian tetap disana dia bakalan aman?! Nggak, Mah!" Om Ghani berteriak kencang. Seram seperti anjing Pak Nugi, Bu Risol dan Bunda kalau lagi lupa. Aku sampai berjengit karena kaget. Tapi, kayaknya mereka nggak merhatiin aku. Soalnya aku sibuk main puzzle. Dan aku barusan mendengar kata-kata aneh lagi. Bipolar. Besok kalau Bu Guru Eli kerumah, aku akan menanyakannya.

"Tapi, Ghani, Mamah nggak tega lihat Brian nanyain Bundanya terus. Mamah sedih,"

"Biarin Ghina terapi dulu, Mah. Ini buat kebaikan Brian juga. Nggak akan lama, kok. Semuanya nanti bakal baik-baik aja."

"Tapi, Pah, Brian masih enam tahun. Mamah bener nggak tega. Kenapa Ghina nggak terapi disini aja? Disini juga ada terapisnya, kan?!!"

"Mah, udah ... jangan di terusin. Brian dengar semuanya."

"Dia nggak ngerti, Pah."

Aku sebenernya bingung sama orang dewasa, kenapa mereka kalau ngomong harus teriak, padahal orangnya duduk dekat mereka. Kata Bunda, kita nggak boleh teriak-teriak, kecuali orangnya jauh. Mungkin besok pagi aku bisa teriak manggil Bunda, soalnya Bunda jauh. Kali aja Bunda datang besok.

*******

Malam ini Eyang Putri meneruskan dongeng Simpleton dan Angsa Emas. Sampai dongengnya berakhir, aku nggak juga ngantuk. Eyang Putri akhirnya membacakan dongeng lain tentang Perseus Si Anak Poseidon, ayah Perseus itu keren, soalnya dia bisa mengendalikan air. Tapi, lama kelamaan aku nggak bisa mendengarkan dongeng yang di ceritakan Eyang Putri karena aku ngantuk dan akhirnya aku tertidur.

******

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang