13. Mencari Ayah

1.3K 223 44
                                        

Karena Eyang Putri bilang ayah ada di langit berbintang, malam ini aku memutuskan untuk tiduran di gazebo, melihat langit malam-malam. Sayangnya, malam ini Ayah nggak ada di langit. Nggak ada bintang. Cuma langit gelap. Kadang, aku berpikir kalau langit malam-malam itu langit yang ketumpahan tinta cumi-cumi, awan-awan itu kapas yang kena tumpahan tinta.

Dari gazebo, aku melihat cahaya kelip lampu rumah penduduk. Karena letak rumah Eyang Jangkung diatas bukit, maka aku bisa melihat dengan jelas rumah-rumah di bawah bukit. Cahaya lucu. Seperti kunang-kunang yang berkelip. Aku akhirnya memutuskan untuk melihat kebawah bukit daripada langit yang hitam.

"Bian!!!" Eyang Putri memanggilku saat aku masih melihat cahaya kelip-kelip, "iya, Eyang,"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bian!!!" Eyang Putri memanggilku saat aku masih melihat cahaya kelip-kelip, "iya, Eyang,"

"Lagi ngapain?"

"Nyari Ayah."

Eyang Putri menghampiriku di gazebo dan duduk bersamaku. "Ayahnya ketemu?"

"Non, Eyang. Malam ini nggak ada bintang. Ayah lagi pergi kayaknya."

Eyang Putri tersenyum, dia mengelus kepalaku. "Mau dengar cerita malam ini?"

Aku mengangguk semangat. Eyang Putri kali ini bercerita tentang serbuk bintang ajaib dan para penduduk di Negeri Tembok.

"Eyang, apakah Ayah bagian dari bintang jatuh di Stromhold?"

"Ayah kamu itu bintang jatuh yang nggak sempurna. Dia jadi serbuk bintang."

"Ayah serbuk bintang?"

"Nanti, kalau langitnya banyak bintang, kamu bisa cari Ayah dan ngobrol sama Ayah."

Aku menatap Eyang Putri takjub. Eyang Putri bisa memberi tahu Ayah dimana tanpa menangis seperti Bunda. Eyang Putri ternyata keren!

******

Pagi ini, Eyang Putri mengajakku ke pasar desa. Kami membeli banyak ikan dan beberapa sayuran yang nggak ada di kebun. Nggak lupa juga jajanan krim dengan cairan kecoklatan yang ternyata namanya bubur sumsum.

Saat Eyang Putri sibuk membeli jajanan, aku melihat Kikan bersama ibunya juga belanja. Kikan terlihat memegang ujung baju ibunya sementara ibunya mengobrol. Aku melepaskan gandengan tangan Eyang Putri untuk menghampiri Kikan. Tapi, Eyang Putri kayaknya nggak suka kalau aku main lagi sama Kikan. Buktinya saat kami melihat Kikan dan aku berusaha menghampirinya, Eyang Putri malah memegang tanganku erat-erat.

"Jangan kemana-mana. Pegang tangan Eyang Putri aja. Kita harus segera pulang."

"Tapi ada Kikan, Eyang. Bian mau ke Kikan sebentar."

"Non, Bian. Dengar Eyang, jangan kemana-mana."

Aku akhirnya menuruti ucapan Eyang Putri untuk nggak menghampiri Kikan. Saat Eyang Putri menarik tanganku menjauh, aku menengok ke belakang dan mendapati Kikan yang sedang melihatku. Aku melambaikan tanganku pada Kikan. Tapi, Ibu Kikan kayaknya sama dengan Eyang Putri. Ibu Kikan menarik tangan Kikan menjauh dan kami berdua cuma bisa diam.

******

Pulang dari pasar desa, aku sarapan bubur sumsum. Setelah sarapan,  Eyang Jangkung mengajakku memancing ke kolam ikan. Aku sebetulnya nggak pernah memancing dan nggak tahu seperti apa caranya memancing. Tapi, aku pernah baca di buku cerita kalau memancing itu mengasyikkan. Kita dapat ikan banyak dan ikan itu dimasak di rumah.

"Brian, ayo siap-siap. Ganti bajunya. Pakai kaos tangan pendek dan celana pendek."

Aku mengangguk lantas berlari menuju kamar untuk mengganti bajuku. Setelah siap, aku dan Eyang Jangkung berjalan ke sisi lain dari kebun bunga. Disana ada kolam ikan yang luas sekali. Ada beberapa bapak-bapak dan orang tua seusia Eyang Jangkung.

"Pak Mandor, cucunya di bawa?"

"Iya, sekalian main. Jadi, di bawa."

Selanjutnya orang-orang menanyai siapa namaku dan berapa umurku. Aku menjawab semua pertanyaan mereka dengan sopan.

******

Aku dan Eyang Jangkung harus pulang sebelum acara mancing selesai karena hujan. Kami berdua meneduh di kebun bunga (Soalnya di kebun bunga ada rumah kaca, jadi kami bisa meneduh disana).

"Hujannya sudah selesai, Eyang. Ayo pulang." Ajakku. Eyang Jangkung melihat-lihat sebentar sebelum akhirnya menyetujui ajakan pulang ku.

Kami hanya dapat tiga ekor ikan mujair berukuran sedang. Untung tadi Eyang Putri membeli ikan juga di pasar. Jadi, kami nggak kekurangan ikan.

******

Selesai makan malam, aku keluar rumah menuju gazebo. Kali ini langit nggak cuma hitam. Ada serbuk bintang juga disana. Aku mengamatinya dengan saksama. Kayaknya, malam ini Ayah ada di langit, deh.

"Ayah?"

Ayah nggak nyahut. Mungkin karena suaraku kecil dan jarak Ayah di bintang jauh. Aku akhirnya memutuskan untuk berteriak seperti anjing Pak Nugi.

"AYAAAAHHH!!!"

"Brian!"

Suara Eyang Putri menghentikan teriakanku. Aku mendapati Eyang Putri mendekat kearahku. "Kenapa kamu teriak malam-malam?"

"Aku manggil Ayah, Eyang."

"Ayah?"

"Iya! Kan, malam ini ada serbuk bintang di langit. Jadi, ku pikir disana ada Ayah."

Eyang Putri nggak menyahuti ucapanku, dia malah memelukku erat-erat dan menangis.

"Bian, Ayah kamu nggak akan jawab ucapan kamu, tapi Ayah bisa dengar semuanya. Bian nggak perlu berteriak. Bilang aja pelan-pelan. Ayah pasti dengar."

"Ayah bisa dengar tapi nggak bisa jawab?" Tanyaku. Eyang Putri mengangguk.

"Berarti aku harus ngomong sendiri?"

"Nggak sendiri. Eyang bakal temenin kamu."

"Kalo gitu, Eyang bilangin aja sama Ayah. Bian kangen, Bian nggak mau sendirian. Bunda sekarang suka lupa dan nggak bisa nemenin Bian tidur. Bian mau Ayah yang nemenin Bian."

Eyang Putri malah semakin kencang menangis. Dia mengangguk sambil menciumi kepalaku.

"Nanti Eyang bilangin ke Ayah."

"Terimakasih, Eyang." Balasku, aku memutar tubuh menjadi memeluk Eyang Putri, lalu ku cium pipi Eyang Putri.

"Bian juga sayang Eyang."

*******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*******

PS : yg di ceritain Eyang Putri ituuu novel Stardust karya Neil Geiman dan Charles Vess (Illustrasi) 😊 Happy Holiday! 😘 Selamat Melaksanakan ibadah Jumat Agung (bagi yang melaksanakan)

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang