7. Pabrik Teh

1.4K 236 34
                                        

Eyang Jangkung mengajakku ke kebun teh hari ini. Kami menemui orang-orang yang kemarin menyapaku dengan 'Si Kasep' dan 'Pak Mandor' pada Eyang. Kami berjalan menyusuri kebun dan menyapa para ibu-ibu yang sedang memetik teh disana.

"Aduh, ieu incu na Pak Mandor meuni kasep pisan, namanya siapa?" Seorang Ibu menyapa sambil mengelus rambutku. (Aduh, ini cucunya Pak Mandor ganteng banget)

"Tuh, ditanya namanya siapa?" Aku hampir saja jadi pelupa kaya Bunda. Padahal, ibu tadi nungguin aku menyebutkan nama.

"Bian,"

"Bian umurnya berapa tahun?"

"Kata Bunda sekarang enam tahun,"

"Barengan atuh ya, sama Neng Kikan. Neng Kikan juga enam tahun."

"Neng Kikan itu siapa?"

"Anaknya Ibu,"

"Oohh, Ibu punya anak?"

"Iya, anak Ibu namanya Kikan."

Aku dapat satu pengetahuan, yaitu Ibu pemetik teh itu namanya Ibu Neng Kikan. Ibu Neng Kikan ini selanjutnya mengobrol dengan Eyang Jangkung. Aku mendengar soal, main bersama, sekolah impres, dan jalan ke pasar desa.

Sementara Eyang Jangkung sibuk mengobrol dengan Ibu Neng Kikan, aku berjalan di sekitar kebun. Melihat-lihat orang yang sedang memetik teh. Tangan mereka bergerak cepat. Memetik dan melempar daun teh ke kerajang di belakang punggung mereka. Aku benar-benar kagum (kata Bunda, kagum itu dipakai untuk melihat sesuatu yang keren, tapi bukan aku yang melakukan hal keren itu) dengan mereka.

"Bian, sini! Jangan jauh-jauh!" Aku menoleh kebelakang, mendapati Eyang Jangkung berdiri di belakangku sambil melambaikan tangannya. Aku segera menghampiri Eyang Jangkung. Meski sebenarnya, aku sangat pernasaran dengan ibu-ibu pemetik teh di ujung kebun sana.

 Meski sebenarnya, aku sangat pernasaran dengan ibu-ibu pemetik teh di ujung kebun sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Besok lagi main ke kebun nya. Hari ini kita ke Pabrik saja. Eyang mau kasih lihat pabrik teh ke kamu."

Aku mengikuti Eyang Jangkung dari belakang. Kami berjalan diatas bebatuan yang cukup licin. Sepatu yang kubawa dari rumah tak bisa dipakai disini. Sebagai gantinya, Eyang Putri memberikanku sepatu khusus untuk berkebun disini.

 Sebagai gantinya, Eyang Putri memberikanku sepatu khusus untuk berkebun disini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang