18. Orang Dewasa Gampang Melupakan Anak Kecil

1.1K 203 20
                                        

Aku benar-benar bosan di rumah. Aku sudah membaca banyak buku petualangan yang menyenangkan, tapi tetap saja, aku nggak bisa kemana-mana selain melamun.

Beberapa hari ini Eyang Putri nggak banyak bicara padaku, Eyang Putri cuma lebih sering mengawasiku dan kalau nggak lagi masak, Eyang Putri pasti menemaniku melakukan apapun. Entah itu membaca, atau melamun di gazebo sambil melihat ibu-ibu pemetik teh. Eyang Putri jadi seperti anjing chihuahua punya Axel si anak nakal. Anjingnya selalu mengawasi dan mengikuti Axel kemanapun dia pergi.

Buku penjelajahan terakhir sudah ku baca. Aku mempelajari beberapa trik untuk pergi tanpa ketahuan orang lain. Aku akan mencoba trik itu besok. Kali aja berhasil.

*****

Hari ini Eyang Putri sudah pergi ke pasar desa. Aku bergegas memasukkan barang-barang untuk menjelajah ke dalam tas. Aku bawa banyak makanan, baju ganti, obat, air putih dan peralatan lain. Begitu keluar kamar, aku mendapati rumah sepi. Nggak ada siapapun. Ini bagus. Aku jadi bisa pergi secepatnya.

Aku mengendap-endap (ini bisa berarti jalan pelan-pelan supaya nggak di ketahui orang lain) keluar dari kamar menuju pintu belakang. Sejauh ini berjalan lancar, tapi saat aku hendak membuka gerbang pintu belakang, aku mendapati Bi Yah yang sedang menarik gagang pintu gerbang.

"Lho, Den Bian mau kemana?"

Aku melamun sebentar sambil menggaruk kepalaku, "mau ke kebun teh."

Bi Yah kelihatan kebingungan, dia nggak bergerak dari pintu gerbang. Masih berdiri dan menghalangi jalanku.

"Den Bian udah bilang sama Eyang?"

Aku diam. Aku nggak bisa berbohong seperti orang dewasa karena aku masih kecil, jadi aku memutuskan untuk diam.

"Ayo masuk. Bi Yah bawa kue lumpur buat Den Bian."

Usaha melarikan diri bagian pertama gagal.

*****

Setelah makan kue lumpur yang dibawa Bi Yah, aku cuma duduk di dapur sambil melihat Bi Yah masak. Eyang Putri belum pulang semenjak tadi. Mungkin Eyang Putri nyasar seperti Bunda ....

"Den Bian mau makan apa lagi?"

Aku menggelengkan kepalaku meski Bi Yah nggak tahu kalau aku menggelengkan kepala, soalnya dia berdiri menghadap wastafel sementara aku di belakangnya.

"Mau ikut jalan-jalan sama Bibi?"

"Kemana?"

"Ke warung. Bibi mau beli bumbu dapur."

"Aku mau ikut!" Aku menghampiri Bi Yah dengan semangat. "Bibi mau beresin ini sebentar lagi. Den Bian tunggu di deket pintu aja, ya."

Aku mengangguk semangat dan segera menuju ke pintu belakang. Nggak lama kemudian, Bi Yah menghampiriku dan kami pergi ke warung.

Rasanya menyenangkan bisa keluar dari rumah. Aku melihat anak-anak yang dulu bermain kelereng bersamaku. Tapi, kali ini mereka nggak main kelereng. Mereka main batu yang di lempar kedalam gambar kotak-kotak diatas tanah.

 Mereka main batu yang di lempar kedalam gambar kotak-kotak diatas tanah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang