9. Neng Kikan

1.3K 219 23
                                        

Kikan nggak punya ayah sepertiku. Aku nggak tahu ayahnya Kikan kemana. Dia nggak mau bercerita. Sedangkan aku terus di paksa bercerita kemana ayahku pergi. Padahal aku udah bilang kalau ayahku itu kue. Tapi, Kikan nggak percaya. Dia kayaknya agak lamban, deh. Soalnya nggak tahu strawberry cheesecake. (Lamban bisa berarti nggak cepat mengerti. Aku juga kadang lamban. Tapi aku tau apa strawberry cheesecake)

"Bian, kemana Ayah kamu?"

"Ke perut."

"Kok ke perut, sih?"

"Kan, ayahku strawberry cheesecake. Jadi dia ada di perut."

"Kamu aneh."

"Kamu juga aneh."

Semenjak kita bertemu, Kikan selalu menyebutku aneh. Padahal, menurutku, dia lebih aneh daripada aku. (Oh, iya. Aku itu nggak aneh, ya!)

"Kita main yuk!"

"Kemana?"

Kikan nggak menjawab pertanyaanku. Kikan nggak sopan. Dia selalu membuatku pernasaran dengan nggak menjawab pertanyaanku, gantinya, Kikan suka asal menarik-narik tanganku. Aku takut tanganku panjang sebelah. Soalnya, aku pernah melihat Bapak Cakue membuat cakue. Dia narik-narik cakuenya biar panjang. Jadi, ku pikir semua yang asal di tarik-tarik bisa jadi panjang seperti cakue.

Kikan mengajakku ke kebun teh di belakang rumah Eyang Jangkung. Dia jalan sambil merunduk dan pelan-pelan, "kok kamu jalannya begitu? Kenapa?"

"Jangan berisik! Kamu jalannya harus kaya aku juga. Biar nggak ketahuan!"

"Emangnya kita mau kemana?"

Kikan menyuruhku diam dengan meletakkan jari telunjuknya si depan mulut. Sama seperti Tante Irma saat ngasih tahu aku kalau Bunda lupa. Aku akhirnya menurut saja. Soalnya kalau aku banyak tanya kayaknya Kikan bakal betè. Kikan orangnya gampang betè.

"Neng Kikan? Dek Kasep?" Kikan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat seorang ibu pemetik teh menghampiri kami. Kikan tiba-tiba nyengir kearah ibu pemetik teh.

"Eh, Bi Idar .... " Kikan berujar sambil nyengir-nyengir. Aku yang kebingungan cuma diam saja melihat dia.

"Mau pada kemana?" Ibu pemetik teh yang di panggil Bi Idar itu bertanya saat kami diam saja.

"Mau keliling aja, Bi. Bibi udah selesai metiknya?"

"Iya, udah. Yuk kita ke bawah aja. Disini terlalu tinggi. Takut hujan."

"Eh, iya ... ayok," kami berdua akhirnya kembali pulang. Aku melihat kalau Kikan beneran betè gara-gara ketemu Bi Idar. Dia dari tadi monyong-monyong nggak jelas. Sementara aku diam saja karena nggak ngerti.

"Ai si kasep ieu saha nami na, Neng?" (Kalo si ganteng ini siapa namanya, Neng?)

"Oh, si Brian, Bi. Tapi ceuk Ibu sok di sauran Bian." (Oh, si Brian, Bi. Tapi kata ibu suka di panggil Bian.)

"Oh, Bian ... eta ai Neng jeung Bian ameng ka kebon tos bebeja can ka Ibu?" (Oh, Bian .... itu si Neng sama Bian main ke kebun udah bilang belum ke Jbu?)

"Ntos, Bi." (Udah, Bi.)

Aku makin nggak ngerti Kikan sama Bi Idar ngomong apa. Mereka bicara pakai bahasa yang dipakai orang-orang di pasar desa. Eyang Putri sama Eyang Jangkung bisa menggunakan bahasa itu juga. Cuma aku nggak bisa. Bunda dulu nggak pernah ngajarin bahasa orang-orang di pasar desa. Bunda dulu biasanya ngajarin aku bahasa Inggris dari buku cerita, bahasa Belanda dan Jerman. Bunda bilang aku adalah anak yang harus bisa menguasai banyak bahasa. Tapi kadang aku bingung juga. Jadi aku kadang dengerin saja Bunda ngomong, tapi nggak aku ingat-ingat, hehehe.

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang