"Sometimes life like strawberry cheesecake, too much flavor but they just a piece of cake." -Anonymus-
Bian nggak pernah tahu kenapa Bundanya nggak menyusulnya kerumah Eyang Jangkung. Dia tahu Bundanya pelupa, tapi kenapa Bunda bisa lupa setiap hari...
Pagi ini Eyang Putri sudah siap-siap, dia mau mengajakku ke pasar desa. Sejujurnya, aku masih mengantuk. Terus aku juga belum melihat cahaya matahari. Ini tandanya masih malam, kan? Tapi tadi Eyang Putri bilang sekarang sudah subuh. Jadi, kami harus bergegas kepasar.
Kata Eyang Putri, pasar desa nggak jauh dari rumah. Tapi, Eyang Putri bilang, kita akan tetap naik mobil bak terbuka karena selain belanja, kita juga akan menjual bunga-bunga yang di panen kemarin.
Aku nggak pernah tahu seperti apa pasar desa. Soalnya di rumahku bersama Bunda, kami nggak pernah ke pasar. Soalnya ada Mang Sayur yang jualan, jadi kami nggak perlu ke pasar.
"Bian masih ngantuk, ya?" Aku mengangguk. Karena aku benar-benar masih ngantuk. Eyang Putri tersenyun dan mengusap rambutku. "Sebentar lagi kita sampai di pasar. Nggak bakal ngantuk, deh."
Sepertinya pasar desa keren. Soalnya gak bikin ngantuk, atau ... pasar desa itu isinya kasur-kasur? Jadi, kalau ngantuk bisa langsung tidur?
"Di pasar desa banyak kasur, ya, Eyang?"
"Kasur?"
Aku mengangguk, "iya, soalnya cara biar nggak ngantuk, kan, tidur. Jadi disana pasti banyak kasur."
"Nggak, di pasar desa nggak ada kasur. Tapi disana beneran nggak bikin ngantuk, percaya deh, sama Eyang."
Aku pernasaran, memangnya ada yang nggak bikin ngantuk selain tidur, ya?
******
Pasar desa sangat ramai. Eyang Putri menggenggam tanganku erat-erat. Setelah menjual bunga-bunga, Eyang Putri mengajakku berbelanja. Eyang Putri banyak barang. Mulai dari ikan, daging, tahu, tempe, sayuran, telur dan beberapa bumbu yang kata Eyang Putri namanya cabai, bawang, tomat, ketumbar, jahe, kunyit, lengkuas dan banyak sekali. Aku nggak bisa menghafalnya saat ini karena saking banyaknya.
"Bian, mau coba jajan kue pasar?"
Aku mengangguk, Eyang Putri mengajakku ke penjual kue. Dia menyapa Eyang Putri dengan sebutan Bu Mandor. Seperti ibu-ibu pemetik teh yang menyapa Eyang Jangkung dengan sebutan Pak Mandor.
"Incu na hoyong jajan naon, Bu Mandor?" (Cucunya mau jajan apa, Bu Mandor?)
"Bian mau kue apa?"
Aku menunjuk kue yang diatasnya ada coklatnya, lalu gelas berisi krim putih dengan cairan kecoklatan, kue berwarna-warni dan beberapa jajanan lain. "Sadaya wae atuh, Bu. Tapi, dua ribu-dua ribu aja. Takut nggak habis," (semuanya aja deh, Bu)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.