12. Pulang

1.1K 229 47
                                        

Aku mendengar teriakan orang-orang yang memanggil namaku dan Kikan. Tapi aku sangat lemas. Saat aku membuka mataku pelan-pelan, Kikan juga ternyata tiduran nggak jauh dari kaki ku. Dia meringkuk, giginya bergemeletuk berisik. Kikan nggak tidur dengan tenang. Dia tidur seperti kucing. Suaranya berisik.

"Ki ... kan ...." panggilku pelan. Aku sudah lemas, jadi suara yang ku keluarkan juga nggak bisa kencang.

"Ki ... kan ... bangun ...."

Kikan nggak bergerak, dia cuma makib meringkuk dan memeluk dirinya sendiri. Aku bingung harus ngapain. Kepalaku pusing, tapi aku memaksa untuk duduk dan celingukan.

Kebun teh sudah gelap. Tapi, aku masih mendengar orang-orang yang memanggil namaku dan Kikan. Suara mereka kian kecil. Ku pikir mereka menjauh. Soalnya lama-kelamaan juga nggak terdengar.

"Kikan ... bangun ... ayo pulang! Disini gelap, dingin, aku takut ...."

Kikan nggak menanggapi ucapanku. Dia cuma mengeluarkan suara gemeletuk dari giginya. Aku makin bingung harus melakukan apa.

Aku mau pulang dan tidur dengan selimut. Disini sangat dingin. Tapi, aku takut gelap. Aku nggak bisa melihat apapun dengan jelas karena gelap. Cahaya-cahaya lampu rumah kelihatan berkelip, jauh diujung kebun teh.

Suara orang-orang yang memanggilku dan Kikan nggak terdengar lagi. Kayaknya mereka lupa dan nyasar, deh. Aku nggak tahu pastinya. Orang dewasa itu aneh, mereka suka lupa dan nyasar. Untung aku nggak suka lupa dan nyasar.

Lama-lama aku ngantuk lagi. Langit juga masih sangat gelap dan hujan belum berhenti. Aku memutuskan untuk tidur lagi dan berharap kalau bangun sudah pagi dan ketemu Eyang Putri yang masak sarapan enak.

*****

"Bian! Bian! Bangun!!! Brian! Bangun!" Aku merasakan bahuku di pukul-pukul. Dengan malas, aku bangun dan membuka mataku, "ada apa, Kikan?"

"Ayo pulang! Udah subuh!"

Aku mengerjap sekali lagi. Mendengar kata subuh, aku jadi ingat Eyang Putri yang mengajakku ke pasar desa subuh-subuh.

"Emang kita mau ke pasar desa?"

"Nggak! Kita mau pulang!" Kikan memekik keras. Aku sedikit kaget dengan pekikannya. "Kan masih gelap, memangnya jalanan udah kelihatan?"

"Aku ingat jalannya! Udah, cepetan bangun! Kita pulang!" Kikan cepat-cepat memakai sandalnya, aku terpaksa mengikuti Kikan walaupun ngantuk.

Kikan mengajakku menuju jalan setapak kecil dan menaiki tangga menuju belakang rumah Eyang Jangkung. "Kamu masuk aja lewat belakang. Bi Yah udah dateng, tuh. Aku mau pulang."

"Kamu nggak mau sarapan dirumah Eyang Jangkung?"

Kikan menggelengkan kepalanya. "Aku mau pulang. Kamu buruan masuk. Ketuk aja pintunya. Nanti di bukain sama Bi Yah."

Aku menuruti ucapan Kikan. Dia benar, nggak lama kemudian Bi Yah membukakan pintu belakang untukku.

"MasyaAllah, Nak Bian!" Pekiknya sambil memelukku. Aku diam karena heran. Kenapa Bi Yah memelukku erat sekali.

"Ibu! Ibu! Nak Brian pulang! Ibu!" Teriak Bi Yah, aku menutup telingaku karena teriakan Bi Yah bikin kuping sakit.

"Brian!"

Eyang Jangkung muncul duluan, dia memelukku juga, selanjutnya Eyang Putri muncul sambil menangis.

"Bian darimana saja?"

"Aku ketiduran di kebun teh, Eyang."

"Dimana?"

"Itu, lho. Di saung. Sama Kikan." Jelasku, Eyang Putri kelihatan bingung,

Strawberry CheesecakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang