Seperti baru sekali saja menarik nafas, namun hari ini sisa-sisa oksigen sudah habis. Jariku menempel pada kaca memperhatikan sisi luar kereta api melaju begitu cepat.
Aku masih sendiri di bangku berhadapan, hingga seorang lelaki muda duduk dihadapanku. Dia tersenyum menegur ku, menggunakan headset, seperti musik RnB membuatnya menggelengkan kepala, bergerak menari kecil.
Satu jam kami duduk disana, aku mencoba memperhatikan luar namun gelap. Hpku adalah jalan untuk mengalihkan pandangan.
Ibu paruh baya duduk disampingku menegur bercerita, aku menimpali segala ceritanya hingga membuat semangat menggebu. Beliau mulai menceritakan masalah pribadinya hingga seperti psikolog mencoba memberi solusi.
Beliau pun tertidur, kini Lelaki Muda itu menarik headsetnya dan menggeser duduknya tepat dihadapanku. “hai aku Brian.”
“Mega...”
“lagi liburan juga?”
“iya ni... km kuliah apa sekolah?”
“SMA kelas tiga, ini liburan juga...”
“oh,” terlalu muda untukku, “kalau kamu?”
“ini udah mu semester lima di ISI yogyakarta...”
“wah keren, aku pingin banget kuliah disana...”
“mau masuk apa?”
“Musik.”
“oh, iya bagus itu.” Percakapan kami berlanjut hingga tepat pukul 3 dini hari. Kini kakinya terlihat mulai merasa tidak nyaman. Aku menggeser tubuh, “naikan saja kakimu kesini.”
“Nggak apa-apa?”
“iya, aku juga mau naik ke situ biar bisa ngelurusin kaki... nyaman buat tidur.”
Jujur sekarang semua fasilitas jauh lebih istimewa, dulu banyak preman berkeliaran di kereta api. Penjual asongan, copet dan tidak mungkin malam kita bisa istirahat tenang. Sekarang kita bisa menikmati ac walau di kelas ekonomi, tapi bukannya enak saya justru kedinginan lupa membawa jaket.
Perlahan mata tertutup, seperti separuh nafas namun cahaya dari jendela mulai membangunkanku. Tubuhku sudah tertutupi jaket, pantas aku mimpi seperti dihadapan perapian kemah tadi. Aku ingat dari warna dan semua aksesori jaket. Ini adalah milik Brian, tapi dimana dia? Kok nggak ada. Ibu disampingku menata barang, “persiapan turun stasiun Senen.”
“Bu, cowok yang di depanku tadi?”
“oh udah turun di stasiun mana ya tadi, ibu lupa... udah dua jam yang lalu kayaknya dek.”
“lah ini jaketnya gimana?”
“Loh adek bukan pacaranya?’
“bukan Bu,”
“aku kira, tapi teman bukan? sms aja,”
“bukan juga bu, baru ngobrol tadi kok saya.”
“Wah... (tertawa) udah bawa aja dek, anggap rezeki... jaket mahal kayaknya.”
Berjalan keluar kereta melewati trotoar hingga duduk aku diwarung kecil, menunggu kak Via menjemputku. Liburan ini sengaja tidak pulang ke Rumah, walau rindu ada tapi bertemu Ibu dan Bapak itu seperti masuk kandang singa. Ya tujuanku benar-benar untuk liburan. Mobil kak Via mulai terlihat namun disampingnya seorang lelaki asing, berbeda dengan photo profil wa sebulan yang lalu. Sedikit confuse namun mencoba santai aku mendekati mobil.
“oh ini adekmu?”
“iya kenalin Mega.”
“Reza... ya udah ayo masuk!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Universe of Love
RomanceTAMAT 18th+ "Berhenti mencintai seperti sisa kabut, biar hujan menghapusnya." -universe of love CINTA dan Gemerlap Seni Yogyakarta Catatan:walau sudah selesai tapi ini belum sempurna, kritik saran dipersilahkan
