Bayangan Jari II

32 5 0
                                        

“kak Via beliin jaket dong, besok kan aku harus naik kereta balik ke jogja...”

“pakek ajah jaket Brian,”

“Udah ku simpen, tu liat di plastik... tak vacum sekalian di pabrik kakak sore tadi...”

“Hah kamu vacum pakek mesin bakso kakak?”

“hehe... iya, nggak berani aku kak... mahal, aku aja mentok ngambil duit di atm empat juta, itupun langsung buat bayar kuliah. Ini kalu sampai ketinggalan aja di mana gitu... orang yang nggak tau harganya, bisa-bisa dikira harga dua ratus ribuan doang, kan sayang kak!”

“iya nanti kakak beliin.”

“kakak gimana sama Raka? Tadi kan habis malam mingguan.”

“Jangan kaget ya!... lihat (memperlihatkan jari manisnya).”

“kakak dilamar?”

“Iya dan tadi makan malam kakak kaget, baru kali itu kakak liat orangtua kak Raka. Mereka seperti keluarga modern tanpa tanya silsilah dan segala macam... mereka dukung banget.”

“alhamdulillah kakak...”

Melihat Kak Via tersenyum lebar dan mulai menghapus semua aplikasi jodoh, aku merasa seperti melihat jerawat pecah dan ada bulatan putih keras di sana ikut keluar. Bahagia, berarti sebentar lagi akan ada acara adat besar-besaran, dan aku harus diet biar bisa dampingi pengantin.

Pemberitahuan grup Chat berbunyi, ku buka grup Teater sedang membahas ospek fakultas, “enggak sabar ketemu maba.”

*

Setiap jalanan kereta terang, seharusnya bisa menikmati pemandangan yang kuharapkan saat berangkat ke Jakarta. Kembali ke Yogyakarta separuh waktu hanya memperhatikan tas di atas, di sana ada dua puluh juta lima puluh ribu rupiah pakaian, pakaianku hanya senilai lima puluh ribu dua kilogram saja. Dua puluh juta....!

Menahan kantuk, mendengarkan musik kangen band. Oh God ini akan menjadi obat tidur buatku. Semakin dalam... mendalam... terbenam...zzzzZZ!

Sebentar saja tidak dosa, dan terbangun sudah sampai stasiun Tugu aku terkejut dengan pandangan tas yang berubah wah...

“hilang!” teriak mengejutkan beberapa penumpang.

“apa mbak ilang?” seorang perempuan datang.

“tasku!”

“Itu embak peluk tasnya...”

“oh iya aku lupa!”

Iya aku terlalu ngantuk, mengambil tas ini adalah refleks.

**

Suara-suara jeritan malam menggaung keluar gedung, senior tua-tua sudah di hadapan alkohol 70%, “apaan? Mereka mau bunuh diri?” ternyata hanya dengan kapas mereka menempelkan alkohol dan menempelkan di bibir, menyiram sedikit di area sekitar.

“ga... minta Ibu Ris ngisi botol ini, pakek teh aja tapi jangan lupa disaring bersih.”

“Iya... kalian mau ngapain si?”

“Maba udah pada kumpul.”

Berjalan aku membawa botol minuman menuju belakang gedung. Mono seperti menelpon seseorang namun menutupi matanya seperti menangis.

Universe of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang