4

47.9K 2K 17
                                        


"Cause you are not alone and i am there with you. And we'll get lost together till the light comes pouring through" (Lost-Michael Buble)

Tio duduk bersandar di kursi kerjanya setelah melewati rapat dan bertemu dengan klien seharian penuh. Ia segera merenggangkan dasinya dan menarik napas panjang melepaskan kepenatan yang sedang menyelimutinya. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sungguh hari yang melelahkan hingga ia tidak menyadari kantor sudah mulai sepi dikarenakan semua karyawannya sudah pulang. Menjadi seorang CEO di Pramudtya Wellhome tidak semudah jika melihat kesuksesan seorang Tio sekarang. Ia harus membanting tulang dan memutar otaknya menarik kepercayaan para investor untuk bekerja sama dengannya tepatnya setelah papanya meninggal. Nama besar papa merupakan daya tarik besar di dunia bisnis namun tidak sebaliknya dengan Tio yang masih bau kencur empat tahun lalu. Banyak para investor dari berbagai perusahaan membatalkan kontrak mereka setelah mengetahui seseorang yang masih baru mengambil puncak kekuasaan Pramudtya Corporation. Dengan penuh keyakinan dan kerja keras, Tio berusaha meyakinkan para investor untuk bekerja sama dengannya lagi. Jungkir balik Tio mendekati, mengejar bahkan pernah seharian ia menunggu di depan kantor kliennya untuk meyakinkan bahwa perusahaannya melakukan yang terbaik.

Tiiiit..... Tiiiiiit.....

Tio yang sedang memejamkan matanya tersadar ketika mendengar nada dering panggilan di iPhonenya. Ia segera meraih iPhonenya di saku celananya. Mama... mama memanggilnya? Ada apa Mama meneleponnya? Tio segera mengeser tanda hijau di layar.

'Halo Ma.....' jawab Tio dengan nada pelan.

“Tio............” terdengar jeritan panjang mama. Tio segera menjauhkan iPhone dari pendengarannya. Teriakan mama bisa membuat orang-orang tuli.

“Tio... kamu masih disana kan sayang?” Tanya suara di seberang sambungan. Tio yang sudah yakin mamanya tidak berteriak seenaknya lagi segera mendekatkan kembali iPhonenya ke telinganya lagi.

“Ada apa Ma?” Balas Tio dengan nada malas.

“Tio, Fera... Fera menerima lamaran kamu. Kalian akan menikah sepuluh hari lagi,”

Jleb! Tio segera menegakkan tubuhnya mencoba mencerna perkataan mama. Fera? Lamaran? Menikah?

“Maksud Mama?” Tanya Tio balik mencoba mengerti perkataan Mama.

“Iya sayang... kalian akan menikah,”

Seketika aliran darah Tio seperti berhenti mengalir mendengar ucapan penuh keyakinan mama.

“Kamu jangan pikirin masalah persiapan pernikahan kalian, semuany bakal diurus sama mama dan Mamanya Fera, kamu fokus aja dengan pekerjaan kamu disana ya,”

Dan perkataan Mama barusan seperti angin lalu bagi Tio karena ia masih terpuruk dalam alam keterkejutan. Sebelum sempat Tio berbicara lagi ternyata Mamanya sudah memutuskan sambungan. Tio memperhatikan kembali layar teleponnya mencoba mencerna tiap uraian kata yang diucapkan mama. Ia segera mencari kontak Mama dan menghubunginya lagi.

“Halo sayang, kenapa?” Terdengar suara mama sumringah menjawab panggilan Tio.

“Ma... Tio bisa minta tolong? Tio minta nomor Fera yang bisa dihubungi?”

“Oh sebentar ya.....” terdengar mama memberitahukan rangkaian angka nomor Fera.

'Terima kasih Ma", jawab Tio segera kemudian memutuskan sambungan.

Segera ia raih kertas yang bertuliskan nomor Fera dan menghubunginya.

Jika ia sekarang berada di Bogor, ia mungkin akan menanyakan langsung kepada Fera apakah ia menerima lamaran. Bahkan jika ia menolak bertemu, Tio tidak ragu memaksanya untuk berbicara empat mata. Namun kondisi yang tidak memungkinkan saat ini membuat Tio hanya bisa puas mendengarnya langsung dari sambungan jarak jauh.

Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang