"Aku tidak berharap kau menemuiku lagi, kumohon pergilah menjauh sejauh mungkin dari hadapanku"
"Gue kangen sama lo.. Please dengerin penjelasan gue dulu."
"Udah deh, gue nggak mau dengerin apapun yang keluar dari mulut lo! Gue udah lupain semuanya. Nggak usah ganggu gue lagi!"
"Selama ini lo salah paham, gue nggak seperti yang lo kira."
"Apa? Salah paham? Lo kira gue nggak tau hah?!! Lo balikan sama mantan lo dan sekarang lo bilang semua itu salah paham?"
"Gue khilaf Ren sorry, maafin gue Ren sekali ini aja."
"Andaikan kata maaf bisa bikin lo nggak ganggu gue lagi dan hilang dari hidup gue, gue bakalan maafin lo! Tapi sayangnya lo nggak bakalan pernah nyerah dan terus ganggu hidup gue jadi percuma aja gue maafin lo!"
"Kasih gue kesempatan kedua Ren."
"Asal lo tau aja ya, bagi gue kesempatan kedua itu nggak pernah ada! Kesempatan kedua cuma bakalan buat lo lebih leluasa buat ngelakuin kebohongan lagi. Lo udah berkhianat, dan gue nggak bisa toleransi lagi."
Ren melangkah pergi meninggalkan Donna sendirian, gadis itu menangis. Hati gadis itu sudah hancur tercabik-cabik oleh kata kasar yang keluar dari mulut Ren. Lelaki itu tak mempedulikannya lagi dan pergi menjauh.
Ren melangkahkan kakinya menjauh dari Donna. Hatinya terasa sakit melihat gadis yang pernah dicintainya datang lagi. Kepalanya terasa panas ditambah teriknya matahari yang menyengat ke seluruh tubuh Ren.
Ren melihat Joo berjalan kearahnya sembari tersenyum. Seketika panas ditubuhnya dan pusing dikepalanya mulai hilang. Ia pun membalas senyuman gadis itu.
"Joo. Mau kemana?"
"Mau ke swalayan depan tuh. Duluan ya kak buru-buru nih."
"Gue ikut deh.."
"Mau ngapain? Beli sesuatu?"
"Jagain lo, siapa tau aja kan ya ada.."
"Serah lo aja deh.."
Ren terkekeh dan mengikuti langkah Joo. Mereka bertemu dengan Donna yang sudah tidak menangis lagi. Ren mencoba menggoda Joo dan membuatnya tertawa.
"Ren.."
Donna memanggilnya berkali-kali namun tak ada respon sekalipun dari Ren. Lelaki itu hanya terfokuskan pada Joo dan terus menggodanya.
"Kak ada yang manggil tuh."
"Nggak usah dipeduliin."
Ren dan Joo keluar dari swalayan setelah membeli barang ia butuhkan. Donna tak henti-hentinya berusaha memberi penjelasan pada Ren lagi namun tak ada jawaban dari Ren. Langkah Joo terhenti setelah suara Donna perlahan-lahan menghilang.
"Lo kok sombong banget sih jadi orang, daritadi dia manggil lo kok nggak lo tanggepin sih?"
"Bukan urusan lo. Udah deh nggak usah ngomongin dia."
"Ya udah kalau gitu, lo pulang aja nggak usah ngikutin gue."
Joo melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan Ren. Lelaki itu hanya mengamati Joo yang mulai berjalan jauh darinya. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi jauh darinya. Ia pun berlari mengejarnya.
"Kan gue udah suruh lo pulang? Mau ngapain lagi?"
"Gue.."
"Lo ngerasain kan gimana rasanya diacuhkan gitu aja? Kenapa lo nggak bisa dengerin dia dulu? Kenapa lo harus pergi?"
Ren menyuruh Joo duduk disebuah bangku taman. Lelaki itu mulai menceritakan apa yang terjadi. Joo mulai menghela nafas panjang, ia mengerti situasi yang terjadi.
"Gue ngerti posisi lo sekarang, tapi setiap orang punya alasan kak."
"Dia mah kebanyakan alasan, udah males gue dengernya. Gue anterin lo pulang yuk, dah makin sore aja nggak kerasa."
"Eh iya, udah sore aja."
Joo menganggukkan kepalanya, mereka berjalan menuju kompleks perumahan Joo. Setelah beberapa lama jalan mereka akhirnya sampai. Anera melihat Ren dan langsung menyambutnya dengan senang hati.
Mereka berbincang akrab sekali seperti sudah mengenal satu sama lain. Joo hanya memperhatikan Ren asyik ngobrol dengan Mamanya tanpa rasa canggung sedikitpun.
Tak ada rasa curiga terhadap situasi tersebut. Hanya saja rasa aneh mengganjal dihatinya. Sejak kapan mereka saling kenal? Pertanyaan itu selalu terlintas dalam benaknya.
"Ren pulang dulu tante. Selamat malam."
"Sayang! Anterin Ren pulang gih. Sayang, Joo.."
"Iya ma bentar! Sabar deh.."
Joo melangkahkan kakinya malas, ia menuruni tangga seraya menatap kesal ke arah Anera. Mulutnya terus saja menggerutu.
"Kenapa nggak mama aja sih yang nganter pulang. Gue kan capek, PR masih numpuk banyak. Lagipula dia juga punya kaki ih kenapa nggak jalan aja!!"
"Nggak usah tante, Ren jalan aja."
"Alah udah deh, buruan gue masih banyak PR."
Joo langsung berjalan menuju bagasinya untuk mengeluarkan motornya. Setelah motornya sudah siap tiba-tiba ia dikejutkan dengan teriakan mamanya.
"Joo! Ini udah malem pake mobil!"
"Ck! Udahlah ma, kalau pake mobil kelamaan. Ntar keburu kemaleman, Joo harus ngerjain PR."
"Mama nggak mau tau, cepet ambil kunci mobil!"
"Ck! Udah mama aja yang nganter kak Ren! Joo mau ngerjain PR."
Anera langsung memberikan kunci mobilnya ke Ren dan menarik Joo untuk masuk ke dalam mobil. Joo hanya bisa menatap Anera dengan sebal.
Ren melajukan mobilnya setelah berpamitan dengan Anera. Joo masih menggerutu dengan sikap ibunya yang sangat menyebalkan. Ren hanya bisa tertawa melihat ekspresi Joo.
"Lo masih marah?"
"Nggak marah, gue sebel aja sama mama. Dia nggak bisa ngertiin gue."
"Sorry ya Joo, gue jadi ngerepotin lo."
"Nggakpapa, pelan-pelan aja jalannya nggak usah ngebut. Yang penting selamat sampe rumah."
Ren mengangguk dan tersenyum kearah Joo. Akhirnya mereka sampai di rumah Ren. Suasana sunyi terasa hanya dengan satu kali tatapan kearah bangunan putih nan megah itu. Pagar tinggi yang mengelilingi bangunan tersebut semakin membuat kesan seram.
"Ini rumah atau penjara sih? Serem banget, kelihatan sih dari orangnya aja gitu apalagi rumahnya."
"Makasih ya Joo, hati-hati di jalan."
Joo menganggukkan kepalanya dan segera melajukan mobilnya. Ren berjalan memasuki rumahnya. Ia segera ke kamarnya untuk berbaring. Ia membuka ponselnya, jari jemarinya mulai menari di layar ponselnya. Hingga lelaki itu terlelap.
"Mama!! Jangan pergi.. Ma.."
Keringat mulai membanjiri tubuhnya, ia mengigau memanggil ibunya. Keningnya berkerut berkali-kali. Mimpi buruk menghadiri pikirannya.
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Our - Don't Forget Me (Completed)
Teen FictionRenald Rahardian. Si biang onar di SMA Bina Bhakti yang tidak pernah berniat untuk berhenti membuat masalah. Kemudian ia bertemu dengan siswi baru seorang gadis cantik bernama Junea Anantha. Joo panggilan akrabnya. Ren selalu membully anak baru di s...
