"Kau tidak bisa lari dariku, meski badai menghadang ia akan tetap kuterjang. Untukmu."
Joo semakin menghentakkan kakinya. Ia geram dengan kelakuan Ren, hatinya tidak tenang setelah melihat kejadian tadi. Ia memeriksa handphone nya terus menerus, namun apa yang ia tunggu tak kunjung menelpon.
"Haruskah? Gue juga yang telpon?! Jelas-jelas dia yang selingkuh, what? Apa dia beneran selingkuh? Nggak.. Nggak mungkin!"
Joo membanting ponselnya ke kasur. Saking kerasnya ia melempar, ponsel itu memantul hingga terjatuh ke lantai. Joo segera memungut ponselnya dan mengusap-usap ponselnya yang tidak kotor.
"Maafin mama ya sayang, padahal kamu udah 4 tahun nemenin aku."
Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Ren terera pada layar ponselnya. Ia diam sejenak, memikirkan sesuatu entah apa yang akan ia katakan nanti kepada Ren. Marah atau tidak.
"Apa?"
"Kamu lagi dimana? Ketemuan yuk."
"Katanya tadi sibuk, lagi ada janji sama temen. Aku nggak mau ganggu kok, habisin aja waktumu sama dia yang katanya temen itu!"
"Apa sih maksud kamu?"
"Udahlah aku capek mau istirahat. Habis ujian bukannya holiday malah dapet malapetaka!"
Ren semakin bingung dengan ucapan kekasih hatinya. Tidak biasanya Joo mengatakan hal yang kasar kepadanya. Segera ia berpamitan dengan Dinda dan menuju komplek rumah Joo. Gadis itu menarik kasar selimutnya menutupi wajahnya.
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Mamanya memanggil namun tak dihiraukannya. Akhirnya suara ketukan itu berhenti dan berganti suara derap langkah kaki memasuki kamar Joo. Ia berpikir itu mamanya dan membiarkannya duduk disamping dimana ia merebahkan badannya.
"Mama nggak usah ngebujuk Joo buat makan lagi, Joo udah gede dan bisa jaga diri Joo. Saat ini Joo cuma mau tidur, Joo capek dan Joo mau sendiri ma.."
Suara serak Joo terdengar pilu, didalam selimutnya ia masih menangis. Ia mencoba untuk berhenti menangis dan tidur namun tak bisa. Joo semakin terisak saat sebuah tangan menyentuh helaian rambutnya.
"Lo serius nggak mau makan?"
Suara berat yang ia kenal menyelimuti telinganya. Ia menghapus air mata yang telah membanjiri kedua pipinya dan bantal yang ia peluk. Perlahan ia menurunkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan melihat siapakah orang yang daritadi menemaninya.
"Kamu kenapa sih yang?"
"Nggak mau cerita? Biar aku juga tau aku salahnya apa. Jujur aku bingung kenapa kamu tadi bilang gitu."
"Gue cuma mau sendiri Ren, gue mau intropeksi diri aja."
"Kalau kamu intropeksi diri sendiri terus aku harus apa?"
"Pulang."
Deg!
Jantungnya berasa berhenti berdetak. Tak seperti biasanya Joo memperlakukan Ren sekadar ini, akan tetapi Ren benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Joo.
"Gue bukan dukun atau paranormal yang bisa tau segalanya Joo. Gue nggak tau kenapa lo marah dan diem gini, gue nggak tau harus berbuat apa buat ngebujuk lo. Jadi plis jelasin biar gue ngerti."
"Baru juga ditinggal seminggu udah jalan aja sama cewek lain. Jangan-jangan nggak cuma sama dia!"
Emosinya tak tertahankan lagi. Ia begitu meledak hari ini, tangisnya masih ia pertahankan. Namun wajahnya mulai panas dan memerah. Ren menghela nafas panjang, ia mulai terkekeh dan membuat Joo kebingungan.
"Maksud kamu Dinda?"
"Ohhh jadi namanya Dinda. Iya dia lebih cantik, lebih modis, tentunya lebih sexy dan hot! Pantesan aja kamu betah ya."
"Dia itu temen masa smp aku yang, cinta pertamaku."
"Oh. Cinta pertama? Pantesan betah, ketemu cinta pertama nggak akan tertandingi, ya kan?!"
"Iya dia cinta pertama aku, tapi kan sekarang kamu yang aku cinta dan kamu satu-satunya yang bisa bikin aku bahagia luar biasa."
Jantung Joo berdegub kencang, ia merasakan kupu-kupu melayang dalam perutnya. Pipi cubby-nya terangkat, senyum mengembang diwajahnya dan membuat Ren mengacak rambutnya.
"Jangan marah lagi ya? Dinda itu cuma temen dan cinta pertama aku yang udah jadi kenangan. Aku kan tetap cintanya sama kamu."
Joo jadi salah tingkah, ia mengusap pipinya yang kini merona. Gadis itu memberikan senyuman indahnya kepada Ren. Lelaki itu memeluk dan mencium puncak kepala Joo. Gadis itu menenggelamkan wajahnya didada bidang lelaki yang sangat ia rindukan.
"Kamu boleh berteman sama siapapun, Dinda pun boleh, mantan-mantan kamu yang bisa kamu bikin list itu juga. Aku nggak masalah, aku cuma mau kamu jujur dengan apapun itu."
"Iya sayang, maaf ya."
"Aku sebel sama kamu, seminggu ini kamu nggak ngabarin aku dan kemaren aku liat kamu jalan sama cewek, kan aku jadi netting."
"Iya sayang, maaf. Aku cuma nggak mau ganggu kamu, biar kamu fokus ujian. Kan kita juga udah komitmen."
"Kamu nggak ngerti betapa kangennya aku. Kan komitmen bisa diubah yang, seharusnya kamu ngabarin aku, kasih aku semangat gitu. Aku stres banget kemaren."
"Iya sayang maaf lagi yaa.. Aku yang nggak ngerti perasaanmu, jangan marah lagi ya. Sekarang mau makan?"
Joo hanya mengangguk, hari ini Ren akan mengajaknya jalan-jalan untuk melupakan pertengkaran tadi. Joo telah bersiap dan berpamitan dengan Anera. Mereka menuju sebuah mall dan melihat beberapa barang kesukaan Joo.
"Kamu nggak pingin beli boneka?"
"Aku nggak suka boneka yang, mending buat beli baju atau make up."
"Tapi beli bajunya jangan yang kekurangan bahan ya, jangan pake yang ketat juga. Aku nggak suka cowok lain liat kamu dengan penuh nafsu."
"Siap pak boss!"
Kebahagiaan Joo mulai kembali. Canda dan tawanya kembali terdengar, setelah seminggu melalui pemikiran yang melelahkan otaknya. Ia telah lega melihat senyum kekasihnya, rasa rindu yang telah ia tahan sudah terbayar sudah. Lelaki itu mengeratkan pelukannya dengan gadisnya.
To be continued...
Gimana dengan part ini? Saran dong
KAMU SEDANG MEMBACA
Our - Don't Forget Me (Completed)
Teen FictionRenald Rahardian. Si biang onar di SMA Bina Bhakti yang tidak pernah berniat untuk berhenti membuat masalah. Kemudian ia bertemu dengan siswi baru seorang gadis cantik bernama Junea Anantha. Joo panggilan akrabnya. Ren selalu membully anak baru di s...
