Putus?

785 56 0
                                        

"Terkadang aku harus mengalah dengan semua keadaan ini, tapi kali ini aku lelah"

Dua bulan berlalu

Keadaan Ren semakin hari semakin memburuk, daya ingatnya mulai berkurang. Bahkan banyak kejadian yang baru saja ia lewati tak bisa ia ingat lagi. Namun ia selalu berusaha tegar dihadapan Joo, gadis itu tetap mempertahankan semua keadaan seperti dulu.

"Aku mau kita menjadi teman saja."

"Maksud kamu?"

"Ya.. Kita berteman aja, hubungan kita berakhir hari ini."

"Bercanda kan? Apa aku buat kamu marah? Kenapa kamu minta putus? Setidaknya kasih alasannya."

"Aku duluan."

Ren tidak mempedulikan Joo dan berbalik meninggalkan gadis itu yang masih menangis. Joo menghapus air mata yang mengalir di kedua matanya. Ren berjalan menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya, ia menangis sejad-jadinya. Sambil sesenggukan ia masih mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.

Ren melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah beberapa kali berpikir akhirnya ia memutuskan untuk peduli dengan keadaan tubuhnya. Semakin lama ia menahan semua rasa sakit itu maka semakin banyak pula risiko yang akan dihadapinya nanti.

"Ini hasil CT scan kamu Ren. Lihat banyak perubahan yang telah terjadi di sini. Inilah akibatnya jika kamu menunda segala pengobatan yang telah saya sarankan."

"Tapi gue yakin semuanya bakalan baik-baik aja, gue bisa inget semuanya. Hari ini banyak kejadian yang gue alami gue inget semuanya. Pagi ini gue kebangun gara-gara tetangga sebelah bikin keributan, sebelum kesini gue makan di restoran Jawa, dan.. hari ini juga gue putus sama Joo.. Gue inget semuanya dokter Oscar, please percaya. Gue nggak perlu dioperasi."

"Ingatan itu hanya sementara Ren, dalam keadaan seperti ini jika kamu memaksakan ingatan kamu untuk tetap mengingat maka otak kamu akan semakin berontak dan kamu akan kehilangan ingatan kamu semuanya."

Ren terdiam, wajahnya pucat pasi tanpa disadari air matanya mulai mengalir. Ketahanannya runtuh seketika, ia masih tidak bisa menerima keadaannya. Ia berjalan gontai menuju parkiran, ia masih menangisi keadaannya saat ini.

"Kenapa?!!! Kenapa semuanya terjadi ke gue! Tuhan emang nggak adil! Keluarga gue hancur, gue sakit dan pasti gue bakalan mati. Tuhan emang nggak sayang sama gue. Buat apa gue harus dilahirin kalau gue harus mati dengan keadaan seperti ini? Emang garis takdir gue nggak sempurna, seakan gue nggak dikasih kesempatan buat bahagia. Kenapa sakit ini nggak pernah hilang? Apa gue juga harus hilang bareng penyakit ini?"

Ren kembali menuju rumahnya, ia masih lemas setelah menangis begitu lama. Matanya sembab, penglihatannya mulai redup ia sangat mengantuk. Ia menuju ke kamarnya dan tertidur berharap keadaannya sekarang ini hanyalah sebuah mimpi. Wavi dan Reza bertemu dengan Joo di sebuah restoran, terlihat mereka duduk di meja yang sama.

"Lo berdua pasti tau apa yang sedang terjadi disini."

"Maksud lo? Please Joo to the point aja nggak usah berbelit-belit."

"Ren kenapa? Kenapa tiba-tiba dia jadi orang yang berbeda."

"Orang yang berbeda gimana Joo? Gue nggak paham."

"Sekarang lo yang berbelit-belit. Kasih tau gue, Ren kenapa?!"

"Udah Vi kasih tau aja, udah saatnya juga Joo tau semua keadaan Ren."

Our - Don't Forget Me (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang