"Saat aku bahagia denganmu, aku tak berpikir akan mencari seseorang yang baru"
Ren masih terdiam membisu, ia tak bisa berpikir lagi. Rasa bahagia ada dalam hati dan pikirannya. Perlahan senyumnya mengembang dalam wajahnya, ia menatap gadis yang ada dihadapannya. Perlahan ia mencoba mengatur pernafasannya, ia mencoba menyadarkan pikiran dan hatinya.
"Hei.. Ren! Kok malah bengong sih."
"Ehh.. Iya, kenapa?"
"Kamu nggak mempersilahkan aku masuk?"
"Ohh.. Iya, Silahkan masuk... Dinda."
Ren membukakan pintu, dan mempersilahkan Dinda untuk memasuki rumahnya. Dinda duduk manis di ruang tamu dan melihat ke segala penjuru ruangan matanya memandang. Ren sibuk dengan pemikirannya, saat di dapur ia mencoba mencari gelas. Seketika pikirannya buyar dan lupa dimana ia menaruh segala gelasnya.
Kemudian ia mulai mengingat dimana ia menaruh gelasnya. Lelaki itu membuka lemari dan menemukan beberapa gelas disana. Ia mengambil dua gelas, satu untuk Dinda dan satu untuknya. Kemudian ia menuangkan sirup mangga yang ada dikulkasnya kedalam kedua gelas yang ada dihadapannya. Sedetik kemudian ia berjalan menghampiri Dinda.
"Ini. Diminum dulu Din, haus kan?"
"Eh.. Iya makasih ya. Btw, kamu masih tinggal disini ya? Untungnya kamu nggak pindah, dan aku masih inget jalan rumahmu hehe."
"Emm.. Iya, aku nggak pindah dari rumah ini. Masih disini aja berdiri kokoh. Lama ya kita nggak ketemu. Kamu apa kabar?"
"Aku baik kok, seluruh keluarga aku juga. Aku baru balik dari Amerika. Btw kamu nggak kuliah?"
"Ahh.. Lagi males aja. Lah kamu?"
Eeehhh kok aku kamu ya?
"Lagi liburan akhir semester ini. Jadi balik ke Indonesia, gue kangen sama orang tua. Dan lo.."
Hah? Gue? Seriusan, ihh kenapa gue jadi kepedean gini?
"Ohhh.. Lo nggak kangen sama pacar lo?"
"Emm.. Belum ada aja."
Seketika kupu-kupu menari dalam perutnya. Lelaki itu mulai tersenyum dan membatin. Rasa senang dalam dirinya tak bisa ia tahan lagi. Saat itu juga sosok Joo seakan lenyap begitu saja dalam benaknya.
Hari ini Joo telah melalui UN terakhirnya. Melelahkan memang, harus belajar seharian penuh demi mendapatkan nilai terbaik. Ia sudah berusaha begitu keras hingga sampai pada tahap terakhirnya.
"Wooaaahhhhh... Akhirnya! Ujian selesai, saatnya? Holiday!!"
"Emang lo yakin bakalan lulus?"
"Menurut lo?"
"Gue nggak yakin."
Joo mendengus kesal. Ia menggerakkan tangannya dan memukul bagian belakang kkepala Geo. Lelaki itu mengaduh kesakitan namun ia terus saja terkekeh.
"Bangsat!"
Joo menghentakkan kakinya meninggalkan Geo. Lelaki itu masih memegangi bagian kepalanya yang terasa sakit atas hantaman tangan Joo tadi.
"Lo bakalan kuliah nggak Joo?"
"Nikmatin liburan ini dulu aja. Kalau niat ya gue daftar, ngak ya udah."
"Lah lo kemaren daftar SNMPTN nggak?"
"Kagak, SNMPTN cuma buat para manusia lemah."
Joo mengangkat jari jempol,telunjuk, dan kelingkingnya membentuk rock style. Mengembangkan senyum indahnya, Geo memincingkan matanya menatap sinis kearah Joo.
"Belagak banget sumpah! Udah pinter lo?"
"Bodo amat! Pinter itu bukan hal yang mutlak brader. Mungkin disini lo paling pinter, diluar sana masih banyak yang lebih pinter dari lo."
"Harusnya gue yang bilang gitu. Astagfirullah, yang sabar gue punya temen, pemikirannya kolot begini."
"Realitanya aja!"
"Serah lo deh ya. Gue jadi berasa orang lemah."
Langkah Joo terhenti, senyumnya mulai memudar, kepalanya memudar menatap sepasang bola mata lelaki dibelakangnya ini. Sedetik kemudian ia memutar badannya juga dan mendekat kearahnya.
"Lo? Daftar SNMPTN?"
Geo mengangguk mantap. Alis gadis itu terangkat satu, matanya berkedut. Nafasnya terhenti sejenak.
"Gue kira kita para pejuang SBMPTN."
Malu bukan main, seakan hatinya sedang dihantam oeh sesuatu yang membuat nafasnya begitu berat. Rasa penyesalan itu seakan hadir dalam hatinya. Bahkan Geo saja memperjuangkan SNMPTN. Pikirannya kalut, semangatnya seakan runtuh.
"Lo yakin bakalan lolos SBMPTN?"
"Yang penting gue percaya diri dulu. Masalah lolos atau nggak gue serahkan kepada yang Maha Kuasa."
Joo menadahkan kedua tangannya dan menatap keatas melihat langit-langit parkiran yang banyak sawangnya. Geo hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya.
Mereka berjalan menuju halte bis seraya bercanda gurau. Langkah Joo terhenti, ia melihat seseorang yang ia kenal. Diseberang jalan sana, dekat toko buku. Ren berjalan bersama Dinda.
Sesekali Ren membelai rambut Dinda, dan membuat gadis itu tersipu malu. Geo yang baru menyadari keberadaan Ren diseberang sana langsung mengalihkan pandanganya kearah Joo yang terdiam.
"Joo..."
Gadis itu masih terdiam, seakan waktu terhenti. Keheningan menyelimuti antara Joo dan Geo. Nafasnya kembali terhenti untuk kesekian kalinya, melihat seseorang yang ia cintai bersama dengan orang lain, tepat didepan matanya! ia mengamati apapun yang dilakukan oleh Ren dan Dinda, hingga mereka hilang memasuki sebuah restauran.
"Kamu dimana yang? Kangen. Ketemuan yuk!"
"Jangan sekarang, aku udah ada janji."
"Janji? Sama siapa?"
"Temen."
"Oh!"
Segera Joo mengakhiri panggilannya dengan Ren. Gadis itu berdecak sebal, ingin rasanya ia membanting ponselnya itu sekarang.
"Temen? Mana ada temen yang dibelai sayang gitu rambutnya! Hih! Ini baru seminggu! Gimana kalau sebulan? Setahun? Mungkin juga dia bakalan nikah sama orang lain!"
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Our - Don't Forget Me (Completed)
Teen FictionRenald Rahardian. Si biang onar di SMA Bina Bhakti yang tidak pernah berniat untuk berhenti membuat masalah. Kemudian ia bertemu dengan siswi baru seorang gadis cantik bernama Junea Anantha. Joo panggilan akrabnya. Ren selalu membully anak baru di s...
