"Aku mencintaimu lebih dari hal yang paling penting dalam hidupku. Jangan jauh dari pandanganku, karena aku selalu merindukanmu."
"Joo?"
"Kamu inget?"
Ren masih terdiam, tak ada hal yang terpikirkan dalam benaknya. Wavi dan Reza bergegas meninggalkan mereka berdua dan membiarkan mereka mengobrol satu sama lain. Teras belakang rumah Ren menjadi sangat sepi, tak ada suara yang terdengar selain hembusan nafas mereka masing-masing.
"Oh.. Nggak ya? Em.. Di gelang kamu ada nama aku, lihat aja. Di gelang aku juga ada nama kamu. Kita pake gelang yang sama."
"Jadi kita pacaran?"
"Iya.. Kamu nggak inget apa-apa kan? Kamu nggak perlu mikirin itu, nanti kepalamu sakit. Sebenarnya aku udah banyak mempersiapkan diri kalau kamu mungkin nggak inget aku. Tapi semenjak aku datang kesini aku belajar bahwa kamu nggak perlu mengingatnya. Persiapanku untuk menerima kenyataan nggak ada gunanya."
"Kamu bisa memberitahuku semuanya."
"Kita menghabiskan waktu bersama, 2 tahun lebih kita pacaran. Aku nggak akan cerita tentang masa lalu kita. Kamu tau alasan kenapa aku dalam seminggu terakhir ini ada di rumahmu? Maaf kalau aku berbohong, sebenarnya aku bukan pembantumu. Sehari sebelum aku di rumahmu, hubungan kita telah berakhir. Tiba-tiba kamu memutuskan hubungan kita, saat setelah aku tau bahwa mungkin saja kamu bicara gitu dalam keadaan nggak sadar, akhirnya aku memutuskan untuk nggak ninggalin kamu dalam keadaan apapun. Oh ya, kamu ingat ketika pertama kali aku harus naik motor kamu dan aku nggak berani turun? Tanganku gemetaran, saat itu kamu panik banget.."
"Aku mencoba sebaik mungkin untuk mengingat apapun yang telah kita lakukan sebelum hari ini. Tapi selama seminggu terakhir ini, aku selalu melihatmu, aku melihatmu disampingku, kau menjagaku dengan baik. Cerita yang kamu ceritakan tadi pasti hari-hari kebahagiaan kita. Maaf, aku nggak bisa ingat apapun tentang kita, tapi aku bisa merasakannya, kehadiranmu tak terasa asing bagiku. Maaf.. Aku nggak bisa mengingat semuanya."
Joo memeluk erat tubuh Ren, lelaki itu menangis dalam pelukan Joo. Ia sangat menyesal tidak bisa mengingat apapun tentang kebersamaannya dengan Joo. Gadis itu mengusap punggung Ren dan menenangkannya. Tak terasa air matanya pun tumpah membanjiri kedua pipinya.
"Nggakpapa, mulai sekarang aku bakalan bikin kamu mengingatku setiap hari."
"Apa kamu bakalan kasih aku kesempatan?"
"Tentu saja, aku selalu bersamamu."
"Aku akan membuat kenangan baru kita."
Joo memeluk Ren lagi, malam dingin semakin larut. Ren masih canggung dengan semua situasi ini. Lelaki itu selalu melihat kearah Joo, menatap wajahnya lagi dan lagi. Senyum mengembang diwajah tampan Ren.
"Ada apa? Ada sesuatu ya dimukaku?"
Senyum Ren tak memudar diwajahnya, ia menggelengkan kepalanya. Lelaki itu terus memperhatikan wajah Joo. Gadis itu semakin bingung dengan sikap Ren.
"Kamu cantik.. Beruntungnya aku."
Senyum mengembang diwajah Joo, perlahan tawa terdengar dari mulut Joo. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya mulai menetesi kedua pipinya.
Ren menyentuh tangan Joo, ia menurunkan keduanya tangan gadis itu. Ren memeluk gadisnya dengan erat, ia mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
"Jangan tangisi aku, aku nggakpapa. Seandainya aku lupa nanti dan sikapku beda bisakah kamu jadi orang pertama yang menjadi daya ingatku? Ingatkan aku dengan segala hal, kejadian sekecil apapun. Joo.. Aku mencintaimu, untuk saat ini aku mengingatmu sebagai kekasih hatiku. Aku mencintaimu, dengan sepenuh hatiku. Aku sangat mencintaimu, terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Maaf jika aku pernah memberikanmu luka, menyakiti hatimu dengan sengaja, aku meminta maaf setulus hatiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our - Don't Forget Me (Completed)
Teen FictionRenald Rahardian. Si biang onar di SMA Bina Bhakti yang tidak pernah berniat untuk berhenti membuat masalah. Kemudian ia bertemu dengan siswi baru seorang gadis cantik bernama Junea Anantha. Joo panggilan akrabnya. Ren selalu membully anak baru di s...
