Author POV
Setelah kejadian kemarin Alvaro mencium Alana, Alvaro kembali berubah ke sikap dinginnya. Pagi itu saat disekolah Alana yang menyapa Alvaro tetapi Alvaro hanya melewatinya. Mengacuhkannya. Tak di anggap. Layaknya angin lewat.
Sakit? Pasti.
Bayangkan aja baru kemarin mereka merasa hubungan mereka kembali seperti dulu dan sekarang Alvaro sudah kembali lagi menjadi es berjalan.
Line
Alana : Al....lo kenapa? Gue salah lagi?
Send
Tidak ada balasan. Tetapi bukan Alana jika dia tidak mencobanya lagi.
Alana : Al, kok lo gitu sih tega banget gue sapa tapi lo cuma diem doang.
Dan sama Alvaro tidak membalas.
Alana : Lo kenapa sih? Salah gue apa? Jangan gini juga kali Al, kemarin lo nyium gue dan sekarang lo diemin gue? Lo kira gue apaan yang lo cium dan sesudahnya lo buang. Brengsek banget lo jadi cowok.
Alana pun tetap tidak putus asa sama sekali.
Alana : Al please bales
Alana : Sumpah ya lo cowok ter jahat yang pernah gue kenal. Seenak hati lo nyium gue dan sekarang lo ngebuang gue lagi.
Alana melempar handphonenya asal di tempat tidurnya, berguling kesana kemari membuat kasur berantakan. Seperti ini. sungguh dia bingung.
Bagaimana bisa baru kemarin Alvaro mengatakan dia ingin menjadi teman yang lebih dari teman biasa tetapi sekarang Alvaro membuat Alana benar-benar bingung,
Alvaro POV
Line
Suara dering line terdengar dari handphone ku, dengan penasaran ku buka pesan dari siapa. Ternyata itu pesan dari Alana, ku baca perlahan pesan yang dia kirimkan, sungguh lucu sekali perempuan itu. Ku terkekeh membacanya. Sengaja biar saja hanya aku read. Membuatnya kesal memang menyenangkan.
Ku lempar handphone ku dengan asal ke arah kasur, ku mulai memejamkan mata sejenak memikirkan bagaimana perasaan ku yang sebenarnya.
Ku buka mataku, ku tatap langi-langit kamarku sambil memikirkan perasaan ku terhadap Alana, satu sisi aku meragukan perempuan itu. Tetapi di sisi lain sangat sakit jika harus berjauhan dengannya seperti yang ku lakukan terhadapnya. Dan melihat dia juga kesulitan karena ulah Viola dan aku tahu jelas penyebabnya adalah Aku.
"Arghhhhh Alana, kenapa cewek kaya lo sulit banget," ucap ku frustasi bagaimana, dan apa yang harus ku lakukan.
Tanpa pikir panjang, ku ambil kembali handphoneku dan ku telfon Alana.
"Halo," Suaranya terdengar dari sebrang sana
Ku terdiam mendengar begitu damainya suara perempuan itu, mengingat aku dan dia dulu sangat dekat.
"Halo Al, kenapa? Udah sadar setelah mengabaikan gue seharian ini?" Ku terkekeh mendengarnya.
"Maaf" kata ku singkat, jelas, padat.
"Lo nyesel mau deket lagi sama gue?" entah mengapa aku tidak suka dia berbicara seperti itu, yang tahu hatiku hanya aku. Bahkan sekarang hati senang bisa berbicara lewat telfon seperti ini. seperti dulu.
"Maaf udah nyuekin lo seharian ini, sengaja ko gue ngelakuin itu. Mau ngetes lo dan ternyata lo gak berubah ya hahaha"
"Aaaaaa jahat banget sih lo, gue ya tetep gue lah gak akan berubah" Yap, Lo tetep Alana. Perempuan yang gue sayang.
"Maaf okey, lo mau maafin gue kan?"
"Engga. Lo gak ingat apa yang lo lakuin ke gue dan dengan seenaknya lo ngacuhin gue begitu ajak layaknya sampah. Habis di coba lalu di buang" Aku sangat tidak suka dia berbicara begitu, aku tidak seberengsek yang dia kira.
"Hey bukan begitu, kenapa sih lo mikirnya negatif terus ke gue. Gue udah bilang hari ini gue cuma ngetes lo doang dan gak ada maksud lain. Gue sayang lo. Mau kita kaya dulu lagi"
"Gue juga sayang lo Al" sungguh ucapannya membuat ku senang bukan main
"Bespk gue jemput okay? Sekarang tidur jangan mikirin gue terus."
"Mau jemput kerumah serius?pede banget sih lo"
"Iyaa bawel, sana gih tidur. Gue tutup" ku tutup sambungan telfon itu secara sepihak. Sudah ku duga pasti dia sangat kesal. Tapi memang begini sifatku, Jahil memang.
Sebelum tidurpun tak lupa ku kirimkan pesan manis untuk Alana.
To : Alana
Good night Al, nice dream. Besok gue jemput. Jangan telat!
Send
Namun tidak ada balasan, mungkin sudah tidur pikirku. Ku pejamkan mataku sampai menunggu hari esok untuk membuka mata dan menjalankan keseharian seperti biasa.
.
.
.
.
Di sisi lain Alana yang membaca pesan manis dari Alvaro tersenyum, sengaja tidak di balasnya. Namun hatinya sangat senang, senang sekali. Alvaro sudah kembali seperti dulu. Mengaharapkan hari esok agar segera datang. Rindu sekali rasanya terhadap Alvaro. Bukan rindu fisiknya, jelas tidak karena mereka bertemu setiap hari di sekolah, Rindu bagaimana sikap Alvaro yang seperti dahulu terhadap dirinya.
Alana hanya bisa berharap, Alvaro tidak akan pernah berubah secara tiba-tiba lagi.
Halo, Maaf sekali lagi maaf aku gak update cerita ini lama banget><dan sepertinya aku mau rencana ngerevisi isi ceritanya, baru rencananya yah hehehe. Tetap tungguin dan read yaa guys. Ku sayang kalian^^dan sudah mau masuk liburan juga mungkin aku akan fast update yeay, tapi gak janji:( semoga suka yaa sama cerita ku, dan maaf bila sedikit juga:(((
Dont Forget to Comment and Vote, saranghae<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Idiot Stalker
Teen FictionBodoh, itu selalu menjadi julukan Alana. Karena dengan bodohnya dia masih bertahan untuk mengejar cintanya Alvaro yang dulu pernah diberikan kepadanya namun Alvaro malah memilih mantan pacarnya yang kembali, hari-harinya Alana menjadi sangat sedih k...
