*Flashback*
7 tahun lalu...
Himchan hanya dapat menatap kepergian melajunya mobil yang dikendarai sang appa. Mobil bercat hitam metalik itu, semakin menjauh dari pandangannya. Himchan menunduk lemas akan kepergian sang appa... Namun tidak untuk seorang wanita paruh baya yang segera berlutut mensejajarkan pandangannya pada Himchan kecil. Namja menggemaskan tersebut dengan erat memeluk boneka matoki berwarna merah mudanya tanpa mau mengangkat kepalanya membalas pandangan ramah nan indah si wanita paruh baya yang tengah memegang kedua bahu Himchan.
"Tak apa, Himchan-ah.. Kau akan baik baik saja disini. Banyak teman sebayamu yang akan menjagamu. Tak terkecuali ahjumma.." Wanita paruh baya itu merangkul hangat tubuh Himchan yang sedikit bergetar. Rasa takut masih menjalar pada ingatannya.
.
.
.
.
Seminggu telah berlalu..
Himchan semakin bisa beradaptasi dengan lingkungan yang setiap hari mulai terbiasa ia hadapai di panti asuhan ini. Sosok sang appa yang selalu ia rindukan dan ia panggil namanya agar membuatnya tak merasa takut, mulai jarang ia lakukan karena teman teman barunya begitu akrab dan mau menenangkannya. Meredakan rasa takut itu.
#Tap #Tap
"Kumohon jaga anak ini, ahjumma."
Himchan menghentikan langkah nya ketika dari kejauhan melihat sosok namja bertubuh gempal nan berpipi tembam, terus menunduk. Himchan bisa menangkap , sosok anak manis dan menggemaskan itu, tengah menangis terisak. Ahjumma meraih tubuh namja gempal itu. Lalu seperti yang pernah ia lakukan pertama kali pada Himchan, ia berlutut mensejajarkan pandangannya pada sang bocah. Mengusap air mata yang membasahi pipi tembam itu. Sementara seorang pria yang membawa bocah itu, sudah pergi entah kemana.
"Kau baik baik saja?" Ahjumma mulai mengajak bicara bocah yang terdiam itu. Suaranya agak samar terdengar oleh himchan. Namun namja manis itu bersih keras ingin mendengar percakapan antara ahjumma dan bocal gempal tersebut.
"Apa kau lapar? Ingin makan?" lanjut ahjumma setelah tak mendapat respon apapun dari sang bocah. Bocah itu hanya menunduk menyembunyikan raut kesedihannya. Himchan sangat terpukul, karena miris melihat nasib bocah itu yang kelihatannya lebih terpana dari Himchan sendiri.
"Junhong-ah..."
"Aku bukan anak appa dan umma..."
Ahjumma terdiam. Bocah itu mungkin mendengar ucapannya dan membalas. Namun apa yang diucapkan bocah tersebut, cukup memberikan sirat sejuta makna. Ada masalah apa dengan umma dan appa nya?
.
.
.
.
.
5 hari kemudian...
"Junsu-ya! TANGKAP!"
#Happp
#Duggg
"Hongbin-ah! Ini bolanyaa!"
#Dugg
#Singg
#GOLLLL
"Bagus ...Hongbin-ah!"
Himchan tertawa ketika tim sepak bolanya yang terdiri dari 8 bocah bocah dapat memenangkan pertandingan ronde pertama. Himchan mulai menyukai sepak bola ketika teman temannya ini mengajaknya bermain permainan ini setiap sore hari. Sangat menyenangkan!
KAMU SEDANG MEMBACA
With You; BAP[√]
Teen Fiction[BAP FF] Himchan tidak menduga bahwa kehidupannya berubah (kali ini) dengan pindah ke Sekolah Jungjeon. Tidak hanya teman baru, teman sekamar, guru baru, atau kehidupan normal lainnya. Kali ini ia pindah ke tempat yang akan mempengaruhi masa depanny...
![With You; BAP[√]](https://img.wattpad.com/cover/101638643-64-k614295.jpg)