Plaaakkkk!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dira.
Kini wajahnya penuh lebam.
Ia menatap tajam seorang di hadapannya.
Bug!!
Tubuhnya membentur dinding.
Pria kekar itu tampak sangat marah.
Tubuh Dira gemetar hebat, ia menatap pria itu dingin.
Plakkk!!
Untuk kesekian kalinya tamparan mendarat di pipi Dira.
Meski merasa sakit, namun ia memilih untuk bungkam.
Pria kekar itu pergi dengan keadaan mabuk. Ya. Itu Ayah Dira.
Tes!
Kini Dira tak kuasa menahan tangis.
"Tuhan, apa salahku?"
Ia menangis sejadi - jadinya.
#
Drrrtttt..
Nayla mengambil ponsel yg bergetar disakunya.
"Iya Dir?"
"Nay..."
"....."
Suara Dira membekukan Nayla.
Entah mengapa, hatinya perih mendengar suara sahabatnya yang tengah merintih sakit.
Nayla lekas berdiri dari bangku nya, membuat semua mata menoleh termasuk Bu Yuni.
"Nay? Lo kenapa?" Tanya Ceva yang duduk di sebelah Nayla.
"Ikut gue cepet!" Kata Nayla lirih.
Ceva dan Lexa menangguk lalu mengikuti langkah Nayla keluar kelas.
Mereka melewati Bu Yuni tanpa permisi.
"Mau kemana kalian?" Tegur Bu Yuni.
"Keluar" Nayla membuat sudut pada senyumnya.
Bu Yuni membisu melihat iris hitam Nayla.
Mereka bergegas menuju parkiran.
Dann...
Tin!! tin!!!
Nayla membunyikan klaksonnya meminta dibukakan gerbang.
"Maaf neng, mau kemana? Ada surat ijin guru piket gak?" Tanya Seorang satpam sekolah.
"Cepet buka atau gue ancurin gerbang sekolah?!" Pekik Nayla menatap dingin.
Tentu Ceva dan Lexa tampak bingung melihat sikap Nayla yang tak biasa.
Nayla memang selalu kejam, tapi sorot mata nya kali ini sungguh berbeda.
#
Brakkk!!!
Dengan satu hentakan kaki Nayla membuat pintu dihadapannya terbelalak
"Dira?!!!" Lexa langsung melepas jaket yang ia kenakan, lalu menyelimutkan pada tubuh Dira.
Dira tergeletak lemah, setengah sadar dengan luka disekujur tubuhnya. Ia tersenyum melihat kedatangan sahabat - sahabatnya.
Ceva meletakan kepala Dira di pangkuannya. Tangisnya tak bisa ditahan lagi.
"Bokap lo bajingan Dir!!!" Teriak Ceva terisak.
Nayla berjongkok memandang wajah Dira. Mata nya berkaca - kaca.
"Bawa Dira ke mobil gue" Katanya menahan tangis.
#
"Saudari Dira mengalami patah tulang. Tapi jangan khawatir, dalam waktu dekat akan pulih" Jelas Dokter pada Nayla dan Ceva.
Sementara Lexa sedang menjaga Dira di kamar sebuah rumah sakit swasta.
Bagi Dira, ini bukan yang pertama.
Ia sering dipukuli ayahnya tanpa sebab yang jelas.
Setiap kali ia dipukuli, maka semakin besar pula kebencian dihatinya. Ia benci ayahnya, tapi kebencian terhadap ibu dan kembarannya jauh lebih besar.
