Ceva pov.
Semua yang terlahir di dunia ini adalah manusia pilihan dari ribuan sel telur.
Semua manusia tentunya menginginkan kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan.
Namun, hidup ini bergantung pada takdir yang telah digariskan.
Seperti takdirku menjadi wanita hina.
Namaku Graceva Steev.
Aku lahir dan tinggal di USA, kemudian pindah ke Indonesia saat menginjak senior high school.
Ayahku, George Steev adalah penduduk asli USA. Dan Ibuku, Rose. Ia penduduk asli Indonesia.
Karena dibesarkan di negara barat, pergaulanku pun ikut buruk.
Disana, remaja-remaja seusia ku sudah mengenal s*x.
Sedangkan di Indonesia, melakukan hubungan s*x bisa menghasilkan banyak uang.
Hingga pada suatu hari, ayahku meninggal. Asset perusahaannya jatuh ke tangan adik-adiknya, aku dan ibuku diusir dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Tubuhku yang molek dan wajah blasteran ku adalah sumber rupiah.
*Flashback On.
Praaaangggg!!!!
"Gue gak mau tau kali ini lo mesti bayar" Lelaki bertubuh kekar itu memaki ibuku dan kerap kali membanting gelas dihadapannya.
"Gue gak punya duit jar! Lo boleh make gue lagi"
"Gue udah bosen make lu! Kalo lu gak bayar juga, rumah lu jaminan nya!"
"Gue gak punya apa-apa lagi jar, apa pun asal jangan rumah gue. Ayolah jar, gue tau lo pengen.. Pake gue lagi aja"
"J*bl*y!! Makanya kalo gak bisa main judi gak usah judi! Mendingan lo jual tuh anak lo buat bayar utang!"
"Gila lo!"
Iris hitam lelaki kekar itu menatap tajam ke arahku, kemudian disusul iris hitam ibuku.
"Mom? Itu siapa?" Tanyaku gemetar.
"Honey, kok bangun sih? Ayo bobok lagi"
"Mom, aku takut sama om itu. Kenapa dia kesini tiap hari?"
"Gak usah takut honey, itu om Fajar. Dia yang sering beliin kamu baju-baju bagus loh.. Sekarang kamu masuk kamar,tidur lagi"
Ya. Ibuku sering berjudi dengan beberapa teman lelaki nya. Salah satunya ialah Om Fajar. Berpawakan tinggi kekar dan berkulit sawo matang.
Jika ibuku kalah judi, maka ia selalu membayar dengan tubuhnya. Hingga pada suatu malam, tepatnya malam ini... Om Fajar menginginkan uang.
Plaaakkk!!!
Suara tamparan berkali-kali terdengar dibalik pintu.
Suara erangan kesakitan terselip disetiap tamparan dan pukulan itu.
Bukan hanya satu, dua, tapi ada tiga suara lelaki diluar kamarku.
"Momy!!!!!" Teriakku melihat ibuku terkapar diatas meja ruang tamu.
