"Gak usah takut"
#
Dum.. dum.. dum..
Suara dentuman musik terdengar di Bar terselundup tersebut.
Kini Nayla telah siap dengan baju elsi nya. Ia menaiki panggung tempatnya menari.
Mata Ceva terbelalak, menatap tajam sahabatnya yang kini mulai menari dengan eloknya. Begitu juga dengan banyak mata penghuni bar.
Ia menari begitu gesit, rambutnya yang mulai lepek membuatnya semakin terlihat cantik. Baju elsi nya yang mini memamerkan tubuh indahnya, kulitnya putih mulus, ditambah bibirnya yang semerah apel sungguh menggoda para lelaki seisi bar.
"Nayla? Ngapain dia disini?" Gumam Ceva sendiri.
"Ekhem.."
"Grim?"
"Iya mba?"
"Lo? Ngapain bawa Nayla kesini? Disini itu gak baik buat dia"
"Bukan saya yang bawa dia kemari, justru dia yang bawa saya kesini"
"Ya.. Iya tapi mau ngapain kesini? Gak mungkin banget dia kesini cuma mau jadi elsi, gue tau banget Nayla pasti punya tujuan lain kan Grim?"
"Saya kurang tau mba, yang jelas Bos kecil nyari orang yang namanya Roni. Dan yang saya tau sih... Semua karna mba Ceva"
Jelas Grim tanpa menatap Ceva. Mata nya tak lepas dari sang majikan yang tengah menari.
"Gawat gawat gawat.. Ini gawat Grim!"
Kini Grim menatap Ceva lekat, seakan bertanya.
"Pokoknya jangan sampe Nayla ketemu sama om Roni"
Grim menurunkan alis kanannya seraya berpikir.
Disisi lain, tampak seorang lelaki paruh baya menggunakan jas sesekali meneguk minuman ditangan nya. Ia tersenyum, iris hitamnya hanya tertuju pada satu titik, Nayla.
"Itu elsi baru? siapa?" Tanya lelaki paruh baya itu pada seorang yang duduk disampingnya, yang tak lain pemilik Bar tersembunyi itu.
"Oh itu, Nayla. Dia baru kerja hari ini, dan yang gue tau sih dia masih SMA"
Tukas pemilik Bar.
"Boleh dicoba" Ucap Roni tersenyum simpul.
#
"Malem om" Sapa Nayla menghampiri Roni.
"Malem.. Silahkan duduk"
Nayla pun duduk disebelah Roni.
Singkat waktu, Roni mulai terbawa suasana. Ia makin tenggelam dalam rasa tertariknya pada Nayla.
"Grim!!" Pekik Ceva cemas. Ia terus menatap Nayla dan Grim bergantian.
Grim yang ikut merasa cemas berusaha tenang dan tetap diam mengawasi Nayla seperti perintah bos kecilnya itu.
"Grim!!!!!!!"
"Mba Ceva tenang aja, saya pasti akan bertindak. Tapi Bos kecil cuma nyuruh saya mengawasinya dari jauh"
"Tapi Grim! Liat om Roni! Tikus bajingan itu punya niat jahat! Nayla itu bukan pelacur! Grim! Cepet bawa Nayla pergi dari sini. Dia kelewat batas!"
"Bos saya tau apa yang harus dia lakuin! Kalo kamu khawatir sama bos saya, seharusnya dari awal kamu sadar! Dia ada disini karna kamu! Kamu gak tau siapa bos saya, kamu bahkan gak kenal siapa bos saya. Yang kamu tau dia cuma anak orang kaya yang sombong dan berkuasa. Yang kamu tau dia cuma remaja biasa yang suka menghamburkan banyak uang. Dia selalu jadi pahlawan kamu dan temen - temen kamu. Apa kamu pernah mikir gimana perasaan bos saya? Apa kamu tau apa aja yang dia alami? Kamu dan temen - temen kamu gak tau apa - apa"
