****
Azuna Lilly Violan
Sembilan Tahun
****
Ayah pasti marah. Ayah selalu marah padaku. Hanya padaku. Dia tidak pernah marah pada Kak Reno, meskipun Kak Reno paling tua dan suka berbuat nakal. Ayah mengatakan kalau aku spesial. Makanya aku tidak boleh sembarangan.
Tapi aku tidak mengerti apa sembarangan itu.
Pintu ruang kepala sekolah terbuka, Ayah keluar dengan wajah marah seperti biasa. Setiap kali Ayah keluar dari ruangan itu, Ayah selalu lebih marah dari biasanya. Aku tidak tahu kenapa, tetapi sejak pertama kali melihat Ayah marah, aku mulai membenci kepala sekolah.
"Kembali ke kelasmu, kita bicara di rumah!" Ayah pergi begitu saja. Tidak menggandeng tanganku seperti yang dilakukan oleh Ayah teman-temanku. Ayah pasti membenciku.
"Aku tidak mau minta maaf!" ucapku keras agar Ayah berhenti.
Ia langsung berbalik menatapku, lebih marah, tetapi tidak mengatakan apa pun. Ia mengulurkan tangannya, "Cepat kemari!"
Meskipun suara Ayah keras sekali, tetapi aku meloncat senang dan menggenggam tangannya. Ia menemaniku kembali ke kelas dan bahkan meminta maaf pada Ibu Guru. "Jangan buat keributan lagi. Kamu tidak boleh seperti itu pada Afra!"
Aku cemberut. Aku tidak suka jika Ayah terus membela Afra.
"Kamu baik pada teman sekelasmu yang lain, tetapi kenapa tidak baik pada Afra?"
Aku menggeleng tidak tahu. Aku baik pada semua teman sekelasku karena mereka tidak menggangguku, tetapi Afra terus menggangguku. Ayah tidak percaya kalau Afra menggangguku. Karena aku spesial, makanya aku yang harus mengalah.
Aku tidak mengerti.
"Kalau kamu masih nakal..."
Ayah berucap pelan, tetapi aku menyela cepat, "Aku tidak nakal!"
Ayah kembali marah. Wajahnya yang tadi baik hati kini kembali menyeramkan. Meskipun Ayah marah, tapi aku sayang Ayah. Meski terkadang aku benci Ayah, tapi aku sayang Ayah.
"Kalau kamu terus begini, kamu pulang sendiri nanti. Tidak ada yang menjemput!" seru Ayah dan langsung berdiri berjalan pergi.
"Ayah!" teriakku panik. Aku tidak mau pulang sendiri. Jalan menuju rumah begitu ramai dengan mobil-mobil besar. Banyak anak-anak yang memakai baju mengerikan. Air mataku mulai turun.
"Aku tidak akan nakal lagi! Ayah! Ayah!" tetapi Ayah tidak menoleh. Ia langsung pergi begitu saja.
Ibu Guru Fani keluar dari ruang kelas, ia mengusap wajahku dan berkata nanti Ayah pasti akan menjemput. Tetapi Ayah sedang marah, Ayah tidak akan menjemputku.
Seluruh kelas menatapku bingung. Mungkin mereka kasihan. Aku tidak peduli, asal mereka tidak menggangguku. Aku kembali duduk di kursiku. Afra tepat berada di sebelah. Aku tidak mau melihatnya. Aku marah. Karena Afra, Ayah kembali marah.
Ibu Guru Fani mulai mengatakan sesuatu tentang metode pembagian. Tetapi aku sudah mengerti, aku bisa membagi bilangan apa pun. Ayah mengatakan aku spesial, tetapi aku tidak boleh menunjukkannya.
Aku melihat tangan Afra yang menggapai mejaku dan meletakkan potongan kertas. Aku menoleh kesal. Afra terus menggangguku. Dia begitu aktif memikat perhatian banyak orang. Sedangkan orang-orang tidak suka padaku.
Maaf.
Tulisan Afra jelek. Tapi ia meminta maaf. Afra selalu meminta maaf. Besok juga dia menggangguku lagi. Lalu meminta maaf lagi. Afra tidak pernah bosan berbuat nakal, sama seperti Kak Reno. Anak laki-laki menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Rain
Misteri / ThrillerSemua berpikir Alan dan Lilly adalah pasangan yang memang diciptakan Tuhan untuk bersama. Yang satu pendiam dan yang satu lagi penuh suara. Bagi kedua keluarga pernikahan mereka adalah pernikahan yang paling damai dan tanpa intrik sama sekali. Tapi...
