****
Azuna Lilly Violan
Dua puluh tiga tahun.
****
Pagi itu aku langsung meninggalkan rumah Alan tanpa berkemas. Tidak mandi atau mencuci muka terlebih dahulu. Ibaratnya aku seperti orang yang dikejar-kejar oleh hantu. Sosok A.F.R.A belum diketahui, bisa saja kalau sebenarnya dia adalah makhluk gaib yang jatuh cinta padaku. Rumah Ailena adalah satu-satunya tempat yang dapat kupikirkan, karena jika aku pulang ke rumah, Ayah dan Kakakku pasti akan heboh.
"Sudah sehat bu?" Ailena meledekku ketika aku baru keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian yang dipinjamkan olehnya. Syukurlah Ailena tidak bertanya macam-macam. Aku masih belum berani untuk menceritakan semua keanehan yang kualami semenjak bertemu dengan Alan.
"Gue nginep di sini selama Alan pergi. Titik."
Ailena geleng-geleng kepala tetapi tetap bersikap baik dengan mengangsurkan segelas teh hangat padaku.
"Suka-suka elo deh, tapi gue juga nggak mau rugi ya. Kalau waktunya udah tepat, lo harus cerita ke gue kenapa pagi-pagi lo minggat pake muka pucet kayak tadi!"
"Rumitlah, Ai."
"Lo aja yang punya masalah merasa rumit, apalagi gue yang harus ngerti masalah lo!"
"Oke oke. Kapan-kapan gue cerita."
"Nah gitu, seenggaknya lo udah janji. Kan tinggal gue tagih kapan-kapan."
Kapan-kapan yang dimaksud Ailena pastinya tidak lebih dari dua puluh empat jam dari sekarang. Aku memang harus menyusun dan merangkai cerita sebaik mungkin agar Ailena tidak menggila. Atau menyambangi rumah Alan untuk mencari tahu sendiri apa sebenarnya yang terjadi.
Kami berdua akhirnya terkekeh geli. Ailena mengajakku keluar untuk sarapan di tempat langganannya. Obrolan kami begitu ringan dan dalam sekejap sepupuku yang cantik ini telah bisa membuatku melupakan surat-surat kaleng yang dikirimkan padaku.
Apa kabar Alan, sudah sore dan dia tidak meneleponku barang sekalipun. Apakah dia sesibuk itu sampai-sampai tidak mengecek ponselnya sama sekali. Atau surat-surat itu memang ada hubungannya dengan Alan. Apa sekarang Alan benar-benar ada di Jepang?
"Argh!! Mikir apa sih lo, Lilly!" teriakku frustrasi yang diberi hadiah sebuah lemparan bantal oleh Ailena dari seberang.
"Berisik! Gue lagi fokus ini!"
"Ngedit foto harus ya pakai fokus-fokus segala?!" gerutuku.
"Kalau salah geser sedikit nanti kacau tau! Udah lo diem aja di sana! Atau kalau lo mau bikin gue seneng dikit, cerita kek soal tadi pagi," suara Ailena semakin lama semakin kecil, dapat kulihat ia melirikku takut-takut sambil menyeringai lebar.
Aku memicingkan mata padanya, "Kalau lo tahu, emang lo bisa bantu gue?"
"Lah kan belum dicoba!"
Setelah adu tatap selama beberapa saat akhirnya aku menyerah.
"Oke, tutup dulu laptop lo. Dengerin gue!"
"YES!" Ailena bersorak, tanpa membantah ditutup laptopnya dan langsung duduk bersila menatapku.
"Lo inget soal rahasia di ruang kerja Alan?"
Ailena mengangguk, "Pintu hitam, brangkas hitam."
"Sebelum gue nemuin brangkas dibalik rak buku, sebenernya ada satu file yang gue temuin di salah satu laci diruang kerjanya. Nama filenya brainkiller."
****
Terima kasih telah membaca! Jangan lupa berikan vote dan tinggalkan komentar ya. Masih tetap promosi, cerita yang diupload melalui Wattpad hanya cuplikan, versi lengkap bisa akses ke Karyakarsa.com/Amubamini. Di platform itu cerita ini sudah tamat dan kalian yang tertarik untuk membaca bisa beli paket Before The Rain dengan harga yang jauh lebih murah dibanding membeli satu per satu. Langsung di cek aja yaa...
Tapi yang mau baca di sini aja gapapa kok hehe. Apalagi kalian yang belum ada penghasilan sendiri, jangan maksa orang tua atau bahkan mas pacar buat top up yaa!!
Cerita di wattpad akan diupdate secara konsisten setiap 2 minggu sekali. Kalau Amuba lupa, feel free to remind me, ok!
Salam sayang,
Amubamini.
PUBLISHED [08/06/2017]
LAST EDITED [24/05/2023]
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Rain
Mistero / ThrillerSemua berpikir Alan dan Lilly adalah pasangan yang memang diciptakan Tuhan untuk bersama. Yang satu pendiam dan yang satu lagi penuh suara. Bagi kedua keluarga pernikahan mereka adalah pernikahan yang paling damai dan tanpa intrik sama sekali. Tapi...
