"Pagi pak..."
Kata itu selalu terucap bersamaan dengan tatapan kaget dari pegawainya. Justin hanya bisa mengangguk ketika diberi salam seperti itu.
"Nancy! Panggil seluruh pegawai. Kumpulkan di Ballroom. Akan ada Briefing sekarang juga. Dan bawa semua laporan perusahaan, aku ingin memastikan." Ucap Justin seraya meletakkan tas kerjanya di sofa.
"Baik pak." Nancy menurut. Ia keluar lalu berbicara dipesawat telefon. Setelah itu, dia membuka laci dan mengambil beberapa berkas dari sana. Lalu, ia kembali masuk keruangan Justin.
"Ini pak, semua laporan perusahaan semenjak ditinggal Tuan Jeremy. Dan saya baru diberitahu, semua pegawai telah siap untuk diberi beberapa pengarahan baru dari anda Pak,"
Justin membuka sekilas. Lalu, menutupnya kembali. Ia beranjak dari kursinya. "Ayo segera ke sana. Aku tak sabar."
Nancy yang berjalan terlebih dahulu menjadi penunjuk jalannya. Tak lama, ia sampai di suatu ruangan yang mampu menampung seluruh pegawainya.
Suasana yang tadinya ramai, berubah menjadi tegang. Apalagi saat wajah dingin Justin memasuki ruangan. Beberapa pegawai wanita terpesona, ada pula yang pada dasarnya ratu gosip berbisik-bisik.
"Selamat pagi," Ucap Justin tanpa basa-basi.
Serentak para pegawai, menjawab dengan baik salam dari Justin. "Pagi pak,"
"Tidak perlu berbasa-basi. Saya amat yakin jika anda semua mengetahui siapa saya. Saya disini menggantikan Ayah saya yang tengah sakit. Saya tahu, kondisi perusahaan sangatlah memburuk. Dan saya akan membuat beberapa peraturan baru mulai sekarang. Jangan samakan saya dengan Ayah saya. Saya tidak sepertinya. Jikalau ada yang melanggar, tanpa ba-bi-bu saya akan mengeluarkannya. Sebelumnya jika ada yang tidak suka boleh beranjak keluar."
Hening. Benar-benar hening.
Tiba-tiba beberapa pegawai lelaki, berjalan ke arah luar. Mungkin menentang Justin.
"Bagus, silahkan keluar. Rapihkan meja kalian, karena besok saya akan merekrut beberapa pegawai baru." Ucap Justin acuh. Dia benar-benar tidak peduli dengan para pegawai lelaki yang terlihat kaget dengan ucapannya barusan.
"Sekali lagi, saya ingin semua menaatinya. Tentu kalian sudah melihat contoh pegawai yang tidak patut berada diperusahaan ini bukan? Jika iya, saya akan tutup rapat umum kita dan selamat kembali bekerja."
Justin berjalan keluar dari Ballroom itu. Nancy pun mengikutinya. "Sebutkan jadwal saya."
Dengan tergopoh-gopoh, Nancy membuka berkas-berkas penting yang selalu berada ditangannya. "Pengecekan data-data. Lalu nanti malam ada acara besar bagi para pengusaha pengusaha."
"Baik, bawa semua data perusahaan ke ruangan saya. Lalu, nanti malam temani saya ke acara itu. Pakailah baju yang baik." Tutur Justin sebelum masuk keruangannya.
Nancy berjalan riang menuju mejanya. "Dia harus menjadi milikku. Tak akan kulepaskan."
------------------------------------------------------------------------------------------------
"Cepatlah keluar Roxie, demi Tuhan apa yang kau lakukan didalam?"
"Tak mau! Carikan aku gaun lainnya. Gaun ini---"
"Tidak! Ini gaun yang 24 kalinya kau coba. Cepat keluar atau aku yang masuk ke dalam. Kau tentu tahu maksudku."
Roxie membuka tirai ruang ganti dibutik tersebut. "Coba kalau kau berani!" Matanya menatap tajam Liam.
Tubuh Liam seakan-akan tersengat ribuan volt listrik. Roxie yang ia lihat kali ini, bukan Roxie yang bersikap dan bertingkah seperti pria. Tetapi sisi 'Kewanitaan'nya lebih keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Teen FictionSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
