"Maaf tuan, tapi anda diharuskan menjalankan perusahaan ini." Ucap sang wanita dengan suara bergetar.
"Aku tak mau!" Tolak Justin tegas.
Nancy, sang wanita yang bergelar sekertaris disalah satu perusahaan Bieber Company ini masih berusaha membujuk Justin agar menjalankan tugasnya sebagai direktur utama diperusahaan keluarganya.
"Tapi, jika Mr.Jeremy tidak sakit mungkin tidak akan begini keadaannya tuan." Tutur Nancy tanpa berani melihat mata tajam Justin.
"Tunggu, apa kau bilang? Dad sakit? Lalu dimana dia, mengapa tidak ada satu orang pun yang memberitahuku?" Justin berteriak lantang.
Mungkin ia membenci ayahnya itu, tetapi Jeremy tetaplah ayahnya. Bagaimanapun juga Justin sangatlah mencoba menyayangi ayahnya walau sulit. Sikap ayahnya yang diktaktor itu, membuat Justin terkekang dirumahnya sehingga itu yang membuatnya pergi dari rumah dan pergi dari rumah yang dapat dibilang istana itu.
"Tuan Jeremy tidak memperbolehkan siapapun memberitahu anda. Dia berada di Singapura untuk menjalani beberapa operasi."
Justin menghela nafas kuat-kuat. "Si tua itu masih beranggapan dirinya lebih kuat? Apa yang membuatmu menyerahkan semua tugas diperusahaan itu kepadaku?"
"Selain alasan itu, perusahaan membutuhkan seorang pemimpin. Sebentar lagi kita akan mengadakan perjanjian kerjasama dengan beberapa perusahaan ternama. Akhir-akhir ini, perusahaan menjadi tak terkendali. Segala laporan keuangan mulai tak sesuai. Jika keadaan tetap berada diposisi seperti ini, tanpa perlu pemikiran lain-lain perusahaan akan dipastikan bangkrut. Dan ini---"
"Menjadi pertama kalinya kebangkrutan bagi perusahaanku. Betul?" Potong Justin
Nancy hanya bisa diam. Ia menggigit bibir bawahnya.
Justin memandang kearah balkon Penthouse-nya. Diambilnya nafas itu dalam-dalam.
"Tuan?"
Justin menoleh kebelakang. Menatap Nancy. "Bawa semua laporan keuangan selama ayahku tak ada. Dan bilang bahwa besok tidak ada yang boleh telat. Mulai besok aku akan bekerja kembali. Ini sudah malam. Sebaiknya, kau pulang sekarang. Aku tak mau ada yang melihatmu dan menganggapmu perempuan tak baik."
Nancy tersenyum. Usahanya berjalan lancar. Senyumnya mengembang sempurna. Sesempurna hatinya yang terbang. Ia segera berjalan keluar.
"Nancy"
Nancy pun menoleh mendengar seseorang memanggilnya. "Iya?"
"Terima kasih. Ayahku terlalu jahat dengan perusahaan ayahmu, sehingga membuatmu harus pontang-panting dengan perusahaanku. Maaf soal itu. Dan--Aku merindukanmu." Ucap Justin dengan senyum manis yang tulus dari bibirnya.
Nancy membalas senyuman Justin. "Tidak usah sungkan, aku juga Just. Malam."
"Malam."
Pintu Penthouse itu benar-benar tertutup rapat. Justin menuangkan Wine-nya ke dalam gelas kaca yang mewah. Diraihnya Wine itu. Udara malam itu sangat dingin, meski ia berdiri didepan balkon kamar yang terletak dilantai 19 itu Tatapannya menatap tajam kedepan apartemen yang didepan Penthouse-nya. Tampak masih menyala. New York, kota yang tak ada niatan untuk tidur bukan?.
"Kau peminum?"
"Kau mau?"
"Kau melempar minumanku!"
"Aku tak suka, jika kau mau minumlah sodaku. Aku benar-benar risih melihat seorang peminum bersamaku."
"Kau berbeda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Novela JuvenilSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
