(sebelumnya maaf kalo gajelas!)
“If you love someone, never let her/him go. Because when they gone, you gonna miss them. And when that time coming, maybe they didn’t have any crush with you.”
---------------------------------------------------------------------------
*8 bulan setelahnya*
Hari demi hari, bulan demi bulan di lalui Roxie dengan bahagia. Kehamilannya yang makin membaik, kesetiaan Justin yang berada disisinya membuat hidupnya semakin lengkap sebagai wanita.
Dan lebih membahagiakan lagi, ketika Justin mengetahui Roxie hamil. Awalnya ia juga tak percaya, hanya sekali berbuat masa iya membuat Roxie hamil.
Hari ini tepat 8 bulan lebih 2 minggu, Roxie mengandung buah hati Justin dan dia. Ia mencoba sesering mungkin untuk berjalan atau melakukan sesuatu.
“Duduk lah Nyonya, mungkin saja kau membutuhkan sedikit istirahat. Aku tak ingin kau jatuh sakit.”
“Nanny, bisakah kau tenang? Aku yakin, aku akan baik-baik saja. Bukankah kau yang bilang bahwa aku harus sesering mungkin melakukan kegiatan?” Ucapnya sambil mengikat kain untuk bekal Justin.
“Aku tahu Nyonya, tapi bagaimana mungkin kau tidak merasa lelah? Aku hanya takut, kau akan jatuh kelelahan dan menyebabkan sesuatu pada bayimu.”
Roxie hanya membalas Nanny dengan senyuman, ia tahu wanita itu sangat peduli padanya bahkan sudah menganggapnya anak sendiri.
“Sudahlah Nanny, aku tak apa. Maukah kau membelikanku cemilan diluar? Aku dengar café didepan apartemen kita itu mempunyai ciri khas pada waffle-nya.”
“Kau mau?”
Dengan segera, Roxie mengangguk. Ia memunculkan wajah memohonnya, hanya itu jurus utamanya.
Nanny segera beranjak dari tempatnya, lalu memakai jaket dan berjalan keluar.
“Tunggu disini, jangan mengantar bekal itu dengan sendiri. Tuan akan marah.” Ucapnya sebelum Lift tertutup.
Setelah memastikan lift tertutup, Roxie terkikik. Sesuatu yang terencana berjalan mulus.
“Sayangnya, kau tahu siapa aku Nanny.” Ucapnya seraya mengambil kotak bekal dan kunci mobil Bugatti miliknya yang dibelikan Justin.
Ia segera berjalan menuju basement, agar Nanny tak melihatnya dan menghentikan aksi gilanya.
Jujur, Roxie sangat rindu duduk dibelakang stir. Justin melarangnya, dan lebih melarangnya karena benjolan diperutnya makin membesar.
Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu sudah terparkir manis dilahan yang mempunyai plang bertulisan ‘OWNER ONLY’.
Roxie berjalan memasuki lobby kantor Justin itu, lalu langsung menuju lift yang akan mengantarkannya pada Justin.
“Pagi, Justin ada kan?” Ucapnya kepada sekretaris baru Justin.
“Ada bu, tapi sedang ada tamu.”
“Apakah kau keberatan jika aku menunggu disini?”
“Sama sekali tidak bu.”
Roxie tersenyum singkat, ia duduk disofa yang telah disediakan, lalu membuka kacamatanya.
Sudah 20 menit Roxie menunggu, tapi Justin tak kunjung keluar dari ruangannya. Dia memutuskan, untuk menghampiri Justin tanpa menunggunya lagi.
“Aku akan masuk, jika kau dimarahi si bodoh itu. Aku akan tanggung jawab.” Ucapnya kepada sekretaris Justin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
JugendliteraturSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
