Justin menutup wajah dengan kedua tangannya. Sulit mempercayai kenyataan yang telah terjadi, kenyataan yang amat sangat menyakitkan. Itu alasannya, mengapa jika Justin ajak Roxie akan merasa kelelahan. Tetapi dia mencoba menutupinya, Roxie tak ingin terlihat lemah dengan penyakit yang bersarang ditubuhnya.
"Miss Daniella Roxaine menderita kelainan jantung, apa kalian tidak ada yang tahu? Ia sudah menderitanya sedari kecil. Jantungnya tidak cukup kuat seperti manusia lainnya. Ada cara menyembuhkannya, tetapi sangat kecil kemungkinan terjadinya. Yaitu, transplatasi jantung. Atau donor jantung."
Dunia seakan runtuh mendengar penjelasan dokter, kaki Justin tak kuat menahan beban tubuhnya.
Justin bangun dan melihat sesosok wanita terbaring lemah dengan alat bantu nafas serta banyak kabel-kabel yang terhubung ke tubuhnya. Ia memegang kaca, yang menjadi pemisah antara Roxie dan dirinya. Disamping Roxie, terlihat Liam yang tengah tidur seraya menggenggam jemari Roxie.
"Bahkan dia bisa-bisanya tidur. Sedangkan aku, sedari malam belum sempat memejamkan mata."
"Justin?"
Justin menoleh, sebuah tangan menepuk bahunya. "Tidurlah dahulu, kau tampak kacau." Justin tidak mengidahkan ucapan Nancy. Ia masih menatap Roxie. "Aku tak akan bisa tidur. Sebelum aku melihat Roxie tanpa adanya kaca."
"Lalu, mengapa kau tidak masuk?"
Justin terdiam. "Liam melarangku. Aku bisa saja masuk dan berkelahi dengannya. Bukannya kau tahu, Roxie memiliki jantung yang lemah? Aku tak ingin membuatnya tambah parah."
"Roxie menjadi penghalangku dengan Justin. Jantung yang lemah? Bukannya itu bagus? Aku dapat memanfaatkannya."
Sebuah niat jahat, terpintas dipikiran Nancy. Dibesarkan dengan sikap manja dahulu, membuat Nancy harus mendapatkan apa yang harus menjadi miliknya. Meski itu harus ada kekerasan disampingnya. Bahkan lebih dari kekerasan.
"Baiklah, jika kau ingin tidur atau istirahat telfon aku saja. Aku dapat membantumu. Kau sudah makan?"
Justin menggeleng, ia melepaskan tangan Nancy dari pundaknya. "Bisakah kau pergi sekarang? Aku ingin sendiri. Aku tak butuh kau. Kumohon. Lagipula, kau bisa mengambil pekerjaanku untuk beberapa hari kan? Aku tak akan masuk untuk seminggu ini. Aku ingin bersamanya. Aku merindukannya. Merindukan melihat wajahnya."
Justin secara tak sengaja mengusir Nancy, ia benar-benar ingin sendiri. "Baiklah, maaf menganggumu." Ucap Nancy dengan menunduk lalu pergi. Sepintas hatinya merasa sakit. Amat dalam.
"Kau masih disini? Buat apa? Enyahlah! Saat ia sadar, kuyakin ia tak ingin melihat wajahmu itu."
Justin menoleh. Dilihatnya Liam yang sedang menutup pintu. "Bukan urusanmu."
Rahang Liam mengeras, menandakan pemiliknya sedang marah. "Pergilah."
Justin menatap Liam sinis, ia berbalik badan dan menjauhi Liam. Bukan untuk pergi. Ia bersembunyi dibalik dinding besar.
Tiba-tiba ponsel Liam berbunyi, terdengar olehnya bahwa Liam segera pergi ke kantor. "Dasar pria tak bertanggung jawab. Tapi ini kesempatan untukku."
Liam menutup ponselnya. "Suster, bisakah kau memperhatikannya? Jangan izinkan siapapun masuk. Ini nomorku, kau dapat menghubungiku jika memang ada yang penting. Saya ada pertemuan penting, saya akan kembali dalam 3 jam nanti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Love
Novela JuvenilSiapa yang sangka seorang peselancar terbaik adalah seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan yang berpengaruh didunia? Ia seorang player tapi semua berubah ketika ia bertemu seorang mahasiswi asal kota yang berlibur dikampung halamannya. Menjal...
